periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bukanlah solusi tunggal yang mampu menjamin suatu wilayah sepenuhnya bebas dari ancaman banjir, mengingat faktor alam yang dinamis sulit dibendung seratus persen hanya dengan rekayasa awan.

“Tapi ternyata karena alam ini juga tidak bisa ditahan 100 persen, begitu Agam hujan 1-2 jam langsung meluap lagi itu Pak Bupati. Dan nggak mungkin kita TMC itu sepanjang tahun,” kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam Rapat Koordinasi Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Basah secara daring, Jakarta, Senin (29/12).

Pernyataan tegas ini disampaikan Suharyanto untuk merespons ekspektasi tinggi dari Bupati Agam, Sumatera Barat. Wilayah tersebut diketahui terus-menerus didera banjir lahar dingin dan luapan sungai meski operasi TMC telah berjalan intensif.

Pemerintah pusat sebenarnya telah mengerahkan sumber daya maksimal untuk memecah konsentrasi awan hujan. Operasi TMC di Pulau Sumatera saat ini bahkan tercatat sebagai salah satu operasi terbesar yang pernah dilakukan.

BNPB mencatat total sembilan unit pesawat diterbangkan khusus untuk mengawal langit di tiga provinsi prioritas. Armada tersebut tersebar untuk melindungi wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak bencana parah.

Khusus untuk Sumatera Barat, tiga pesawat beroperasi setiap hari menaburkan garam di angkasa. Namun, fakta di lapangan memperlihatkan banjir tetap terjadi saat hujan lolos turun walau sebentar, akibat kondisi tanah yang sudah jenuh air.

“Ini mungkin operasi modifikasi cuaca yang mengawal satu provinsi yang terbesar, itu sampai tiga pesawat,” ungkap Suharyanto menekankan besarnya skala operasi.

Berkaca dari realitas tersebut, Suharyanto meminta pemerintah daerah tidak terlena dan menggantungkan nasib keselamatan warganya semata-mata pada teknologi ini. Upaya rekayasa di udara wajib dibarengi dengan kerja keras fisik di darat.

Solusi paling logis dan mendesak saat ini adalah pengerahan alat berat untuk mengeruk sedimentasi sungai. Jeda waktu tanpa hujan yang dihasilkan oleh operasi TMC seharusnya dimanfaatkan Pemda untuk menormalisasi aliran air yang tersumbat.

BNPB memastikan operasi modifikasi cuaca tetap berlanjut pada Januari mendatang seiring prediksi puncak musim hujan. Namun, strategi ini harus dipahami sebagai upaya pengurangan risiko (risk reduction), bukan penghilangan risiko secara total.

Suharyanto kembali mewanti-wanti agar warga di zona merah tetap dievakuasi sementara. Mengandalkan teknologi tanpa mitigasi fisik dan kesadaran evakuasi dinilai terlalu spekulatif bagi keselamatan nyawa masyarakat.