periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat yang bermukim di kawasan perbukitan dan lereng tebing untuk tidak menunda evakuasi mandiri saat cuaca buruk, mengingat waktu emas atau golden time untuk lolos dari maut saat tanah longsor terjadi sangatlah singkat, bahkan hanya dalam hitungan detik.

“Ini longsor biasanya terjadi tiba-tiba. Hitungannya detik. Dan ketika longsor itu golden time-nya sangat pendek. Jarang sekali masyarakat yang sudah terkena longsoran itu bisa menyelamatkan diri,” kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam Rapat Koordinasi Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Basah secara daring, Jakarta, Senin (29/12).

Suharyanto menegaskan bahwa karakteristik longsor sangat berbeda dengan banjir yang airnya naik perlahan. Bencana tanah longsor seringkali datang tanpa suara gemuruh sebelumnya, menyapu permukiman dengan kecepatan tinggi sehingga korban seringkali tidak sempat bereaksi.

Untuk itu, mantan Pangdam V/Brawijaya ini memberikan rumus sederhana sebagai patokan evakuasi. Jika hujan deras mengguyur terus-menerus selama lebih dari tiga jam, warga di zona merah tidak boleh lagi bertahan di dalam rumah.

Selain durasi hujan, jarak pandang juga menjadi indikator krusial. Jika hujan sangat lebat hingga jarak pandang terbatas hanya sekitar 50 hingga 100 meter, itu adalah sinyal alam bahwa kondisi sudah sangat berbahaya.

“Contohnya hujan deras lebih dari 3 jam, lebat, jaraknya 100 meter, itu warga yang berada di lereng-lereng itu harus segera diungsikan,” instruksinya tegas.

BNPB meminta jajaran BPBD di daerah, dibantu TNI dan Polri, untuk proaktif melakukan patroli saat hujan turun. Aparat tidak boleh membiarkan masyarakat "terdadak" atau kaget saat bencana terjadi karena minimnya informasi peringatan dini.

Suharyanto menyadari tantangan di lapangan tidak mudah. Banyak warga yang enggan mengungsi karena alasan ekonomi atau merasa hujannya "biasa saja". Di sinilah peran aparat kewilayahan untuk terus "cerewet" mengingatkan bahaya.

“Mungkin masyarakat dengan tekanan hidup, dengan mencari nafkah sehari-hari, sudah disibukkan dengan itu sehingga kadang-kadang lalai. Tugas tanggung jawab Kalaksa BPBD, TNI, Polri senantiasa mengingatkan,” ujarnya.

Tidak hanya di lereng bukit, kewaspadaan serupa juga berlaku bagi warga di sempadan sungai. Potensi banjir bandang akibat sumbatan material longsor di hulu sungai juga memiliki karakteristik serangan cepat yang mematikan.

BNPB berharap dengan kedisiplinan evakuasi dini ini, risiko jatuhnya korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin, meskipun bencana hidrometeorologi basah diprediksi masih akan mengintai hingga awal tahun depan.