periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 3.176 kejadian bencana alam melanda Indonesia sepanjang tahun 2025. Tren penurunan korban jiwa yang sempat terjaga akhirnya melonjak kembali akibat hantaman Siklon Tropis Senyar di wilayah Sumatra.
“Per hari ini jumlah bencana di Indonesia, ini data sampai dengan tanggal 24 Desember 2025, itu terdapat 3.176 kali bencana yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah,” kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam Rapat Koordinasi Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Basah secara daring, Jakarta, Senin (29/12).
Suharyanto memaparkan jenis bencana yang paling mendominasi tahun ini adalah banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Angka kejadian ini relatif konsisten tinggi di atas 3.000 kasus, setara dengan data tahun 2022 dan 2024.
Meskipun frekuensi bencana tinggi, BNPB sebenarnya berhasil menekan dampak kerusakan dalam beberapa tahun terakhir. Data periode 2021-2024 menunjukkan penurunan signifikan pada jumlah korban meninggal, luka-luka, maupun kerusakan infrastruktur.
Namun, capaian positif tersebut berubah drastis pada akhir November 2025. Kemunculan fenomena Siklon Tropis Senyar pada 25-26 November menyebabkan kerusakan masif di tiga provinsi sekaligus, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Tentu saja ini grafiknya naik lagi. Karena bertambah 1.100 lebih korban jiwa dan manusia. Belum yang hilang dan luka-luka,” jelas Suharyanto merujuk data dampak siklon tersebut.
Selain korban jiwa, kerugian materiil juga tercatat sangat besar. Kerusakan rumah warga, fasilitas umum, hingga infrastruktur vital akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera diperkirakan menelan biaya puluhan triliun rupiah.
Bencana yang terjadi secara tiba-tiba dan berskala besar seperti Siklon Senyar ini diakui menjadi tantangan terberat. Upaya mitigasi yang sudah dibangun seringkali kewalahan menghadapi anomali cuaca ekstrem yang sulit diprediksi.
Hingga kini, penanganan dampak siklon tersebut masih berjalan. BNPB mencatat 23 kabupaten/kota masih berstatus tanggap darurat, sementara 25 daerah lainnya sudah memasuki masa transisi rehabilitasi dan rekonstruksi.
Suharyanto meminta data ini menjadi peringatan bagi seluruh daerah. Dengan sisa tahun yang tinggal hitungan hari dan ancaman cuaca ekstrem awal 2026, kesiapsiagaan mutlak ditingkatkan agar korban tidak terus bertambah.
Tinggalkan Komentar
Komentar