iklan periskop
Nasional

Bertahan 15 Jam di Aspal, Cerita Tim Medis Pengawal Demonstrasi

Mereka tidak ikut berorasi. Tugas mereka menunggu, lalu bergerak cepat begitu ada tubuh yang tumbang di tengah massa aksi.

5 hari yang lalu · 3 mnt baca
relawan, medis, demo, bem ui
Relawan media bersiaga memberikan pertolongan pertama massa aksi demo, di kawasan Dukuh Atas, Selasa (18/8). Periskop.id/Rachel Farahdiba R
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Aspal kawasan Dukuh Atas memantulkan panas siang itu. Orasi bersahutan, poster terangkat, dan barisan massa terus bergerak maju.

Beberapa langkah di belakang keriuhan itu, empat orang berdiri dengan tas berisi perban, tabung oksigen portabel, dan alat pengukur tensi darah. Sebuah ambulans terparkir tidak jauh dari mereka.

Mereka tidak ikut berorasi. Tugas mereka menunggu, mengamati, lalu bergerak cepat begitu ada tubuh yang tumbang.

Dani Kurniawan salah satu di antaranya. Relawan medis asal Jakarta itu mengaku kehadirannya di lapangan berangkat dari dorongan pribadi.

"Tergerak aja hati karena kita relawan, dan kita basic-nya medis juga. Jadi, setiap ada aksi di mana saja, mau demo, kita selalu ada di sini," kata Dani kepada Periskop.id, Selasa (18/8).

Berjaga Sambil Merasa Terwakilkan

Kehadiran Dani di tengah massa punya lapisan lain di luar tugas pertolongan kedaruratan. Ia mengaku memendam keresahan yang sama dengan apa yang diteriakkan mahasiswa di jalanan.

"Secara tidak langsung, iya merasa terwakilkan. Karena kita sama juga ya masyarakat, sama pemikirannya dengan mahasiswa di sini. Merasa terwakilkan," ujar dia.

Dalam kondisi normal, satu tim yang diterjunkan berisi empat personel dengan satu ambulans siaga. Jumlah itu bisa ditambah mengikuti dinamika dan eskalasi keamanan di lapangan.

Perlengkapan yang dibawa mencakup oksigen portabel, alat saturasi oksimetri, hingga alat pengukur tensi darah. Korban dengan luka berat langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat setelah menjalani stabilisasi di pos lapangan, dengan dukungan unit ambulans lain.

Lima Belas Jam Tanpa Jeda

Ada satu hari yang sulit hilang dari ingatan Dani. Aksi pengemudi ojek online pada Agustus 2025 memaksa timnya bertahan di jalanan lebih dari 15 jam.

Korban berjatuhan tanpa henti sejak siang sampai dini hari. Tim medis memilih tetap tinggal.

"Saat itu pas demo ojol yang kelindes... itu paling mengenang. Karena kita dari tim medis mulai start dari jam 13.30 WIB sampai berhenti itu sampai azan subuh (sekitar 04.30 WIB). Itu tidak ada henti-hentinya korban banyak. Dan kita tidak akan mungkin meninggalkan korban karena banyak banget korbannya, jadi kita stand by," ucap Dani.

Satu Korban Pingsan Hari Ini

Aksi hari ini jauh lebih landai. Sepanjang demonstrasi berlangsung, tim Dani hanya menangani satu orang yang jatuh pingsan dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.

"Biasanya pingsan karena kecapean atau ada riwayat penyakit. Kami coba sadarkan juga enggak sadar jadi sudah langsung kita bawa ke rumah sakit," tutur dia.

Dari pengalamannya menangani massa aksi selama ini, Dani punya satu pesan yang terdengar sederhana. Pesan itu soal kesiapan fisik paling dasar sebelum turun ke jalan.

"Pesan untuk massa aksi, sebelum datang, makan dulu dari rumah karena kebanyakan yang datang ke sini suka pingsan, sakit perut, gitu. Jadi persiapkan diri dulu aja," ungkap dia.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Demo Hari Ini dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.