TNI Kerahkan 1.201 Personel dan 29 Alutsista Tangani Gempa NTT, 122 Ton Bantuan Dikirim
TNI mengerahkan 1.201 personel dan 29 alutsista untuk menangani gempa NTT. Lebih dari 122 ton bantuan telah dikirim, termasuk 20 ton melalui A400M

Periskop.id - TNI memperkuat operasi kemanusiaan untuk menangani dampak gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga hari ketiga penanganan, sebanyak 1.201 personel dan 29 unit alat utama sistem persenjataan (alutsista) disiapkan, sementara total bantuan kemanusiaan yang dikirim telah mencapai lebih dari 122 ton. Operasi mencakup evakuasi korban, pelayanan kesehatan, pendirian pos pengungsian dan dapur lapangan hingga distribusi logistik ke wilayah yang sulit dijangkau.
Penguatan operasi dilakukan bersama jajaran Kodam IX/Udayana yang sejak hari pertama gempa telah bergerak di berbagai daerah terdampak di Flores. Personel TNI melakukan asesmen kebutuhan warga, membantu evakuasi korban luka, menyediakan pelayanan kesehatan serta mendukung kebutuhan pangan bagi masyarakat yang belum dapat kembali ke rumah.
Aster Kasdam IX/Udayana Kolonel Inf Yudi Riyanto Ratu mengataka.n pendataan menjadi salah satu pekerjaan pertama yang dilakukan untuk menentukan kebutuhan bantuan di setiap wilayah.
“Sejak hari pertama kejadian, jajaran TNI dari Kodam IX/Udayana sudah berada di lokasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang terdampak dan menghimpun data. Langkah-langkah bantuan juga langsung kami laksanakan secara cepat,” ujarnya, Selasa (18/8).
Penguatan penanganan juga ditandai dengan kunjungan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke NTT. Seusai mengikuti rangkaian HUT ke-81 RI di Jakarta pada Senin (17/8), Sjafrie bertolak menggunakan Airbus A400M TNI AU menuju Bandara Komodo, Labuan Bajo, dengan membawa sekitar 20,9 ton bantuan kemanusiaan.
A400M Angkut Starlink hingga Penjernih Air
Bantuan yang dibawa Kementerian Pertahanan tidak hanya berupa bahan pangan. Kemhan mencatat muatan A400M antara lain terdiri atas 25 set tenda, 484 velbed, 15 perangkat Starlink, 700 paket makanan siap saji, 500 dus susu cair, 10 set panel surya, 35 kelambu lapangan, 101 matras, 1.480 selimut, dua alat reverse osmosis untuk penjernihan air, serta 18 koli obat-obatan.
Muatan juga mencakup mi instan, bubur bayi, popok dan pembalut wanita. Peralatan komunikasi satelit, panel surya serta alat penjernih air menjadi penting karena bencana turut mengganggu jaringan telekomunikasi dan layanan dasar di sejumlah wilayah.
Setelah tiba di NTT, Sjafrie melanjutkan peninjauan ke Kabupaten Nagekeo yang berada dekat dengan pusat gempa. Ia juga mengunjungi Yonif TP 834/Wakanga Mere untuk melihat dukungan satuan dalam operasi penanganan bencana. Kemhan menyebut kunjungan tersebut diarahkan untuk memastikan bantuan pemerintah dan dukungan TNI dapat mencapai masyarakat secara cepat dan tepat sasaran.
Sebelum pengiriman terbaru itu, TNI juga telah mengerahkan bantuan secara bertahap menggunakan pesawat angkut militer. Pada hari pertama bencana, dua pesawat Hercules membawa sekitar 27,09 ton bantuan, terdiri atas 14 ton menggunakan C-130J Super Hercules dan 13,09 ton dengan C-130 Hercules.
Hingga hari ketiga, Pusat Penerangan TNI mencatat total bantuan yang telah dikirim mencapai 122,232 ton, termasuk tambahan sekitar 61,347 ton yang sebagian berasal dari Kementerian Pertahanan. Dari 29 alutsista yang disiapkan, sembilan unit telah digerakkan, sedangkan 20 lainnya berada dalam kondisi siaga sesuai kebutuhan operasi.
Dapur Lapangan dan Pos Pengungsian Disiapkan
Di tingkat wilayah, Kodam IX/Udayana menempatkan kebutuhan dasar pengungsi sebagai salah satu prioritas. Bantuan sembako didistribusikan melalui Kodim di kabupaten terdampak, sedangkan personel membantu mendirikan tenda pengungsian, fasilitas kesehatan serta dapur lapangan.
“Bantuan sembako oleh para Dandim sudah berjalan. Personel kami juga telah mendirikan pos-pos pengungsian, fasilitas kesehatan beserta dukungan obat-obatan, serta dapur lapangan bagi masyarakat yang terdampak,” jelasnya.
Langkah tersebut melanjutkan pengerahan sejak hari pertama gempa. Pada fase awal, TNI telah menempatkan lebih dari seribu personel di Sikka, Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat. TNI juga menyiapkan kendaraan, tenda lapangan, velbed hingga helikopter untuk menunjang mobilitas serta distribusi bantuan.
Korban yang mengalami luka juga dievakuasi menuju fasilitas kesehatan terdekat untuk memperoleh penanganan medis.
“Untuk masyarakat yang mengalami luka-luka, langsung kami evakuasi ke rumah sakit-rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan medis,” tegas Yudi.
Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution mengatakan operasi dilakukan bersama pemerintah daerah, BNPB, Basarnas, Polri serta berbagai unsur lain di wilayah terdampak.
“Kodam IX/Udayana sejak awal kejadian telah mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk membantu masyarakat terdampak,” ujarnya.
Kementerian Pertahanan juga menyatakan dukungan TNI meliputi operasi pencarian dan evakuasi, layanan kesehatan, pendirian tenda dan dapur lapangan, pembukaan akses hingga distribusi bantuan menggunakan jalur darat, laut dan udara.
Korban Meninggal Bertambah Jadi 70 Orang
Pengerahan tersebut berlangsung ketika dampak gempa terus diperbarui. Basarnas mencatat hingga Senin (17/8) pukul 23.30, sebanyak 202 korban telah terdata, terdiri atas 70 orang meninggal dunia dan 132 mengalami luka-luka. Dari korban luka, 40 orang mengalami luka berat dan 92 lainnya luka ringan.
Jumlah pengungsi juga meningkat signifikan. BNPB mencatat sementara 40.040 warga berada di pengungsian hingga Selasa (18/8), tersebar di sejumlah kabupaten terdampak. Angka tersebut terus bergerak karena sebagian masyarakat yang rumahnya tidak mengalami kerusakan berat juga memilih mengungsi akibat kekhawatiran terhadap gempa susulan.
Di tengah besarnya jumlah pengungsi, kebutuhan makanan, air bersih, fasilitas kesehatan, tenda, komunikasi serta listrik darurat menjadi perhatian. Karena itu, pengiriman logistik tidak hanya berisi sembako, tetapi juga perangkat yang membantu pemulihan layanan dasar di lokasi bencana.
TNI bersama pemerintah juga harus menghadapi karakter geografis Flores yang membuat sejumlah daerah lebih sulit dijangkau. Penggunaan pesawat angkut, helikopter, kendaraan darat hingga unsur laut dibutuhkan agar bantuan dapat diteruskan dari titik distribusi utama menuju daerah terdampak.
Kemhan menegaskan pengerahan kemampuan tersebut diarahkan untuk mendukung BNPB, Basarnas, pemerintah daerah dan Polri, dengan prioritas menjangkau lokasi yang sulit diakses dan memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi selama masa tanggap darurat.
Dengan operasi pencarian yang terus dilanjutkan dan puluhan ribu masyarakat masih berada di pengungsian, tugas TNI kini tidak hanya berfokus pada evakuasi korban. Operasi telah berkembang ke pemenuhan kebutuhan harian, layanan kesehatan, pembukaan akses serta distribusi bantuan yang diperlukan sampai kondisi masyarakat berangsur pulih.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Tentara Nasional Indonesia (TNI), gempa bumi, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.