Kemenhub Optimalkan Transportasi Laut untuk Percepat Penyaluran Bantuan Korban Gempa NTT
Kemenhub mengoptimalkan transportasi laut dan membebaskan tarif kapal PSO Pelni untuk mempercepat distribusi bantuan pascagempa Flores, NTT.

Periskop.id - Kementerian Perhubungan memprioritaskan pemanfaatan armada transportasi laut untuk mempercepat penyaluran bantuan logistik dan pemulihan konektivitas masyarakat pascagempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kebijakan itu diambil guna memastikan mobilisasi personel tanggap darurat dapat berjalan lancar ke kawasan terdampak.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Muhammad Masyhud menyampaikan, kesiapan sektor pelayaran dioptimalkan penuh untuk menunjang kebutuhan darurat warga.
Menurutnya, penyesuaian pola operasi pada armada kapal perintis siap dilakukan agar jangkauan pengiriman logistik menjadi lebih cepat dan tepat sasaran.
“Prioritas kami adalah memastikan transportasi laut dapat mendukung penanganan bencana, baik untuk distribusi bantuan kemanusiaan maupun mobilisasi personel,” ujar Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub Muhammad Masyhud di Jakarta, Jumat (21/8).
Ia menambahkan, pemeriksaan menyeluruh terhadap fasilitas pelabuhan terus dijalankan secara intensif oleh petugas lapangannya.
Langkah evaluasi fisik ini dinilai krusial agar seluruh aktivitas pelayanan dan konektivitas antarpulau tetap berlangsung aman.
Menurut Masyhud, peran transportasi laut sangat vital sebagai tulang punggung pergerakan logistik di wilayah kepulauan yang dilanda bencana.
Berbagai fasilitas armada diprioritaskan untuk mengangkut bahan pangan pokok, peralatan evakuasi, tenaga medis, hingga relawan resmi.
Guna menunjang kelancaran misi kemanusiaan tersebut, skema pembebasan tarif 100% resmi diberlakukan oleh pemerintah.
Kebijakan biaya nol rupiah ini diterapkan khusus pengiriman logistik menggunakan kapal Public Service Privilege (PSO) milik PT Pelni.
Masyhud menjelaskan, fasilitas bebas biaya ini juga diberikan kepada seluruh personel penanggulangan bencana dari unsur TNI, Polri, serta relawan.
Sementara itu, jaminan perlindungan asuransi muatan bantuan difasilitasi penuh melalui dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pelni.
Dalam operasionalnya, pengangkutan logistik telah dimulai menggunakan KM Tidar yang bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Kapal tersebut membawa bantuan hasil himpunan KSOP Tanjung Perak, PT Pelindo, PT TPS, serta sumbangan masyarakat.
Pasokan yang dikirimkan mencakup kebutuhan pokok, susu, serta makanan bayi untuk menopang ketahanan fisik warga penyintas.
Pengiriman lanjutan dari Kantor Pusat Kemenhub juga dijadwalkan berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok pada 29 Agustus 2026 menuju Maumere, Larantuka, Lewoleba, dan Kupang.
Selain kapal penumpang, penanganan darurat turut diperkuat oleh pengerahan Kapal Negara (KN) NIPA milik Distrik Navigasi Tipe A Kelas II Kupang.
Kapal bantuan ini membawa air bersih, obat-obatan, selimut, serta tenda darurat dari Kupang sejak Selasa (18/8).
Pelayaran KN NIPA yang bertolak pukul 00.31 WITA tersebut berhasil bersandar pada Kamis (20/8) untuk membongkar muatan.
Pelabuhan Reo dan Maropokot dipilih sebagai pusat pembongkaran karena menjadi dua titik wilayah terdampak gempa paling parah.
Sebagai langkah pembuka aksesibilitas laut, pemantauan dan pemulihan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) turut dilakukan secara simultan di perairan Flores.
Upaya pemeliharaan rambu laut ini difokuskan untuk menjamin keamanan lintasan kapal di perairan NTT pascaguncangan gempa.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.