iklan periskop
Nasional

BMKG: 79,9% Wilayah RI Sudah Masuk Musim Kemarau

BMKG keluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian III Agustus 2026, sebagian besar Jawa dan Nusa Tenggara masuk kategori Awas akibat El Nino sangat kuat.

16 jam yang lalu · 2 mnt baca
Sungai Cisadane, Kali Cisadane, Pintu Air 10, Bendungan Cisadane, kekeringan, sungai kering, sungai surut, musim kemarau, kemarau panjang, krisis air, dasar sungai, perubahan iklim, krisis lingkungan
Suasana Sungai Cisadane yang mulai mengering di Tangerang, Banten, Kamis (16/7/20236). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian III Agustus 2026. Sebagian besar Pulau Jawa dan Nusa Tenggara masuk kategori Awas, status tertinggi dalam skala peringatan tersebut.

Peringatan ini muncul seiring terpantaunya fenomena El Nino berintensitas sangat kuat. BMKG memprediksi fenomena tersebut akan bertahan hingga awal 2027.

"Wilayah Indonesia saat ini mengalami hari tanpa hujan dengan kategori sangat pendek hingga ekstrem panjang. HTH terpanjang selama 110 hari, terjadi di pos hujan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta," tulis BMKG dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Agustus 2026, Senin (24/8).

Kuatnya El Nino tergambar dari anomali suhu permukaan laut atau Sea Surface Temperature Anomaly di region Nino3.4 yang mencapai +2,99 secara dasarian, naik dari +2,20 pada Juli. Fenomena ini diperparah indeks Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada di fase positif, yakni +0,394, naik dari +0,242 pada bulan sebelumnya.

BMKG menjelaskan, IOD positif diprediksi berlangsung setidaknya hingga Oktober 2026. Kombinasi kedua fenomena itu disebut membuat musim kemarau tahun ini jauh lebih kering dari kondisi normal, dengan curah hujan rendah hingga sangat rendah.

Kondisi tersebut, menurut BMKG, berpotensi memicu kekeringan, mengganggu ketersediaan sumber air bersih, menghambat sektor pertanian, sekaligus menaikkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian III Agustus 2026 dibagi tiga level. Kategori Waspada berlaku di sebagian Kalimantan bagian tengah dan utara, sebagian kecil Sulawesi dan Maluku, serta Papua bagian selatan.

Kategori Siaga meliputi sebagian Sumatra bagian selatan, Jawa bagian barat dan tengah, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi utara dan selatan, sebagian besar Maluku, hingga bagian selatan Papua. Sementara kategori Awas, yang paling parah, mencakup sebagian besar Jawa dan Nusa Tenggara, ditambah sebagian kecil Kalimantan Selatan dan Maluku.

BMKG mencatat, hingga Dasarian II Agustus 2026, sudah 79,9% atau 559 Zona Musim (ZOM) di Indonesia yang mengalami musim kemarau. Wilayah yang sudah kering itu tersebar dari sebagian Sumatra, seluruh Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku dan Papua.

Untuk analisis curah hujan, BMKG mencatat 90,29% wilayah masuk kategori rendah, dengan sifat di bawah normal mencapai 88,91%. Pada Dasarian III Agustus 2026, curah hujan di sebagian Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Papua diperkirakan tetap di bawah 50 mm per dasarian.

Selain data curah hujan, BMKG turut memetakan sebaran hari tanpa hujan (HTH) di berbagai wilayah berdasarkan kategori tingkat keparahannya.

"HTH Panjang terjadi di 782 Titik, HTH Sangat Panjang di 1.112 Titik, dan HTH Ekstrem Panjang di 792 titik," ungkap BMKG.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan Musim Kemarau 2026 dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.