iklan periskop
Nasional

BMKG: 473 Hotspot Terdeteksi di Kalsel, Hampir Seluruh Wilayah Masuk Zona Merah Karhutla

BMKG mendeteksi 473 hotspot di Kalimantan Selatan pada 25 Agustus 2026. Hulu Sungai Selatan, Tapin, dan Banjar mencatat jumlah terbanyak

2 jam yang lalu · 4 mnt baca
Warga Palangka Raya Cerita Asap Karhutla Kalimantan, Sekolah Sempat Diliburkan
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di di Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada Selasa (18/8/2026). dok. Kemenko Pangan/
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan masih tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 473 titik panas atau hotspot di 11 kabupaten dan kota, Selasa (25/8/2026), sementara hampir seluruh wilayah provinsi tersebut berada dalam zona merah bahaya kebakaran.

Tiga daerah dengan jumlah titik panas terbanyak adalah Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan 118 hotspot, Kabupaten Tapin 102 hotspot, dan Kabupaten Banjar sebanyak 99 hotspot. Hanya Kota Banjarmasin dan Kabupaten Balangan yang tidak tercatat memiliki titik panas pada pemantauan pukul 07.00 WITA.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor BMKG Kalimantan Selatan Utari Randiana mengatakan sebagian besar titik panas berada pada kategori tingkat kepercayaan sedang.

"Dari total 473 titik panas tersebut, sebanyak 425 titik memiliki tingkat kategori sedang, 32 titik kategori tinggi, dan 16 titik dengan kategori rendah. Kategori sedang menjadi yang paling dominan dengan proporsi sekitar 89,9 persen," kata Utari di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa.

Hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang ditemukan di Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Kotabaru, Tabalong, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tapin, dan Kota Banjarbaru.

Sementara 32 hotspot berkategori kepercayaan tinggi tersebar di tujuh daerah, yakni Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Tanah Bumbu, Tapin, dan Banjarbaru.

Hampir Seluruh Kalsel Masuk Zona Merah

Selain pemantauan hotspot, sistem peringatan bahaya karhutla BMKG pada Selasa menunjukkan hampir seluruh wilayah di 13 kabupaten dan kota Kalimantan Selatan berada pada zona merah, yang menggambarkan potensi bahaya kebakaran sangat tinggi.

Namun, jumlah hotspot tidak dapat langsung dibaca sebagai jumlah kebakaran aktif. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Titik tersebut masih membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah benar merupakan kebakaran.

Perbedaan ini terlihat dari data BNPB pada Jumat (21/8). Ketika itu, tim Direktorat Penanganan Darurat Wilayah III BNPB mengidentifikasi 53 fire spot atau titik api terverifikasi di sembilan wilayah Kalsel dengan estimasi luas terbakar sekitar 595 hektare. Kabupaten Banjar mencatat estimasi area terbesar, sekitar 174 hektare, disusul Tanah Laut 107 hektare, Barito Kuala 96 hektare, dan Tapin 85 hektare.

Karena itu, melonjaknya deteksi hotspot menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk mempercepat pengecekan lapangan agar titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Empat Helikopter Water Bombing Dikerahkan

Peningkatan ancaman membuat operasi udara di Kalimantan Selatan diperkuat. BNPB kini mengoperasikan empat helikopter water bombing, setelah sebelumnya tiga helikopter digunakan selama sekitar satu bulan. Satu armada tambahan dipindahkan dari operasi karhutla di Riau.

"Sudah ada empat helikopter yang standby di Kalsel, semuanya dioperasikan hari ini," kata Kepala Subbid Kesiapsiagaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel Ariansyah pada Senin (24/8).

Operasi udara diprioritaskan pada kawasan yang sulit dijangkau petugas darat. Salah satu lokasi utama berada di ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor, khususnya kawasan Guntung Damar, Banjarbaru, yang didominasi lahan gambut dan berdekatan dengan permukiman penduduk.

Water bombing dilakukan untuk mengatasi karhuta. dok. Periskop.id/ AI Generated Image

Sebelum penambahan armada tersebut, tiga helikopter yang beroperasi pada 21 Agustus telah melakukan ratusan kali penjatuhan air. Super Puma PK-DAN melakukan 245 kali penjatuhan sekitar 980.000 liter air, MI8-AMT RA-22834 sebanyak 57 kali atau sekitar 228.000 liter, dan Sikorsky Black Hawk N711BF sebanyak 82 kali dengan sekitar 328.000 liter air.

BNPB juga mengerahkan patroli udara menggunakan helikopter Bell 206 dan pesawat Cessna Caravan untuk mencari titik api serta memperkirakan luasan kawasan terdampak. Operasi udara berjalan bersama pemadaman darat oleh BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat.

Angin Kencang dan Akses Sulit Jadi Tantangan

Penanganan karhutla Kalsel masih menghadapi sejumlah kendala. BNPB mencatat angin kencang dapat mempercepat penyebaran api, sementara sebagian lokasi sulit dijangkau petugas dan memiliki sumber air terbatas. Sejumlah titik api juga berada di kawasan pertambangan dan perkebunan yang tidak semuanya dapat dijangkau melalui water bombing.

Kondisi lahan gambut menambah tingkat kesulitan. Api dapat bertahan di bawah permukaan meski kobaran di atas tanah telah padam sehingga proses pendinginan perlu dilakukan lebih lama untuk mencegah kebakaran kembali muncul.

Pemerintah sebelumnya telah menempatkan Kalimantan Selatan sebagai salah satu provinsi prioritas nasional penanganan karhutla bersama Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau operasi di Kabupaten Banjar pada Minggu (23/8) mengatakan, pengerahan personel dan armada udara terus disesuaikan dengan perkembangan titik panas.

"Penanganan karhutla diarahkan sesuai dengan titik lokasi berdasarkan pemantauan perkembangan titik panas di sejumlah wilayah Kalsel," katanya.

Dengan 473 hotspot yang terdeteksi hanya dalam pemantauan Selasa pagi dan hampir seluruh wilayah Kalsel berada pada kategori bahaya sangat tinggi, fokus penanganan kini tidak cukup hanya memadamkan lokasi yang sudah terbakar. Deteksi dini dan verifikasi 32 hotspot berkategori tinggi menjadi penting agar titik panas dapat ditangani sebelum berkembang menjadi titik api yang lebih luas.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran di kawasan rawan dan segera melaporkan apabila menemukan api atau asap. BNPB menilai kecepatan laporan dari lapangan menjadi salah satu faktor penting agar pemadaman dapat dilakukan ketika kebakaran masih dalam skala kecil.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.