Nasional

Anak Krakatau Erupsi 13 Kali dalam 6 Jam, Status Tetap Siaga

Gunung Anak Krakatau mengalami 13 erupsi dalam enam jam pada Rabu, 26 Agustus 2026. Status tetap Level III Siaga dengan zona bahaya tiga kilometer

23 jam yang lalu · 4 mnt baca
anak krakatau
Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terekam CCTV PVMBG pada Rabu (26/8). dok. PVMBG
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat 13 kali erupsi hanya dalam enam jam pada Rabu (26/8/2026), dengan tinggi letusan mencapai 300 meter dari puncak.

Rentetan erupsi terjadi pada periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB. Tinggi kolom letusan bervariasi antara 50 hingga 300 meter di atas puncak Gunung Anak Krakatau.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Suwarno mengatakan aktivitas gunung masih fluktuatif sehingga potensi erupsi susulan tetap terbuka.

“Sejak siang hingga sore hari terhitung sebanyak 13 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 47-56 mm, dan lama gempa 20-173 detik,” ujarnya.

Selain gempa letusan, alat pemantauan PVMBG juga mendeteksi tremor menerus yang menunjukkan aktivitas vulkanik masih berlangsung. “Erupsi itu terekam di Tremor Menerus dengan amplitudo 4-60 milimeter,” kata dia.

PVMBG terus melakukan pemantauan visual dan instrumental untuk melihat perkembangan aktivitas magma serta potensi perubahan karakter erupsi.

Status Resmi Masih Level III atau Siaga

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi menaikkan statusnya dari Level II atau Waspada menjadi Level III pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB setelah mendeteksi peningkatan aktivitas vulkanik.

Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi, citra satelit sejak 1 Juni menunjukkan emisi gas sulfur dioksida (SO2) dan anomali panas. Titik api di kawasan kawah juga mulai terdeteksi sejak 10 Juni. Hasil evaluasi menyeluruh kemudian menjadi dasar kenaikan status.

Status tersebut masih dikonfirmasi Badan Geologi dalam laporan aktivitas pada Senin (24/8/2026). Saat itu, Gunung Anak Krakatau mengalami enam erupsi beruntun hanya dalam rentang pukul 09.41 hingga 11.22 WIB. "Erupsi masih berlangsung saat laporan sedang dibuat," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria.

Badan Geologi pada laporan tersebut menegaskan Gunung Anak Krakatau masih Level III (Siaga) dan masyarakat, wisatawan maupun pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Dengan demikian, terdapat ketidaksesuaian dalam naskah awal ANTARA yang pada satu bagian menyebut status Level II dan radius larangan dua kilometer. Rujukan resmi Badan Geologi menunjukkan status yang berlaku adalah Level III (Siaga) dengan rekomendasi radius aman tiga kilometer. Status Level III berlaku selama belum ada laporan evaluasi berikutnya yang mengubah tingkat aktivitas tersebut.

Sehari Sebelumnya Erupsi 22 Kali

Aktivitas tinggi Anak Krakatau tidak hanya terjadi pada Rabu. Berdasarkan laporan PVMBG yang dikutip Tribratanews Polda Lampung, pada Selasa (25/8/2026) pukul 12.00-18.00 WIB tercatat 22 kali letusan dengan kolom erupsi setinggi 200 hingga 400 meter di atas puncak.

Pada periode itu, instrumen juga merekam 28 kali gempa hembusan, tiga gempa low frequency, empat gempa hybridatau fase banyak, serta tremor menerus dengan amplitudo hingga 50 milimeter.

Beberapa hari sebelumnya, Sabtu (22/8/2026), PVMBG juga mencatat sembilan kali letusan dalam enam jam dengan tinggi kolom erupsi antara 200 hingga 400 meter.

“Gunung Anak Krakatau teramati 9 kali letusan dengan tinggi 200-400 meter. Asap berwarna kelabu dan hitam dengan intensitas tebal,” ujar Suwarno saat itu.

Aktivitas vulkanik dengan lontaran material pijar juga telah terpantau pada pertengahan Agustus. Badan Geologi mencatat delapan kali letusan pada 16 Agustus dengan ketinggian 200-300 meter, disertai semburan lava pijar. Dalam periode tersebut, status gunung juga masih Level III.

"Teramati delapan kali letusan dengan tinggi 200 hingga 300 meter di atas puncak kawah, dimana warna asap teramati kelabu dan hitam. Selain letusan, juga teramati adanya semburan lava pijar," kata petugas Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau Muhammad Dika Nurzaman.

Rangkaian tersebut menunjukkan aktivitas Anak Krakatau berlangsung cukup intens sepanjang Agustus dan belum memperlihatkan tanda berhenti sepenuhnya.

Wisatawan dan Nelayan Dilarang Mendekat 3 Kilometer

Dengan status Siaga, PVMBG meminta masyarakat tidak memasuki zona tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Larangan berlaku bagi wisatawan, nelayan, pengunjung maupun pendaki.

Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat di sekitar kawasan gunung. Badan Geologi juga meminta masyarakat di pesisir Banten dan Lampung tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang mengaitkan setiap aktivitas erupsi Anak Krakatau dengan ancaman tsunami tanpa dasar resmi.

Dalam klarifikasi pada Juli 2026, Badan Geologi menegaskan rekomendasi resmi adalah larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer. Masyarakat pesisir tetap dapat melakukan kegiatan dengan mengikuti arahan pemerintah daerah dan BPBD serta memantau perkembangan melalui kanal resmi PVMBG dan Badan Geologi.

Dengan 13 erupsi dalam enam jam pada Rabu dan aktivitas tinggi yang telah berlangsung selama beberapa hari, masyarakat terutama nelayan dan wisatawan di kawasan Selat Sunda diminta tetap mematuhi zona bahaya dan tidak mendekati Gunung Anak Krakatau hingga ada perubahan rekomendasi dari PVMBG.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gunung anak krakatau, dan Gunung meletus dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.