Periskop.id - Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali meletus pada Selasa (7/7/2026) pagi. Kolom abu berwarna kelabu teramati membubung sekitar 100 meter di atas puncak, sementara statusnya masih bertahan di Level III atau Siaga.
Berdasarkan catatan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), letusan berlangsung pada pukul 08.21 WIB. Kolom abu berintensitas tebal itu bergerak ke arah barat laut dengan ketinggian sekitar 257 meter dari permukaan laut.
Aktivitas erupsi turut terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 11 milimeter dan durasi sekitar 15 detik.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Andi Suwardi menyebutkan, aktivitas GAK hingga kini masih berfluktuasi. Namun, hasil evaluasi belum memperlihatkan perubahan tingkat aktivitas apa pun.
"Erupsi masih terjadi dengan karakter yang fluktuatif. Sampai saat ini status Gunung Anak Krakatau masih tetap berada pada Level III atau Siaga," ujar Andi di Pos Pengamatan GAK, Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Selasa (7/7).
Andi menerangkan, seluruh parameter vulkanik, mulai dari tinggi kolom abu hingga aktivitas kegempaan, terus dipantau secara visual maupun lewat instrumen. Seluruh data tersebut menjadi bahan evaluasi Badan Geologi dalam menentukan perkembangan kondisi gunung.
Rekomendasi bagi masyarakat pun dinyatakan belum berubah selama GAK berada di Level III. Warga, nelayan, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati kawasan gunung atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Larangan itu diberlakukan karena kawasan tersebut masih berpotensi terdampak lontaran material vulkanik sewaktu-waktu.
Petugas Pos Pengamatan GAK juga terus berjaga selama 24 jam untuk mengantisipasi setiap perubahan aktivitas vulkanik. Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi di media sosial, dan diminta selalu mengacu pada rilis resmi Badan Geologi serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
"Setiap aktivitas yang terjadi kami pantau secara visual maupun melalui instrumen. Data tersebut kemudian dilaporkan secara berkala sebagai dasar evaluasi kondisi Gunung Anak Krakatau," pungkas Andi.
Tinggalkan Komentar
Komentar