Periskop.id - Gunung Anak Krakatau (GAK) masih berstatus Siaga atau Level III hingga Senin (6/7). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melarang masyarakat maupun kapal beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak gunung yang berada di perairan Selat Sunda itu.
Petugas Pos Pengamatan GAK PVMBG Deny Mardiono menyebutkan, aktivitas gempa tremor di gunung tersebut masih terus terekam oleh alat pemantauan. Kondisi itu menjadi dasar PVMBG mempertahankan status Siaga.
"Potensi erupsi masih ada. Pelaporan akan tetap kita teruskan ke masyarakat, baik itu dari grup maupun dari portal dari vulkanologi ataupun badan geologi," ujar Deny di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (5/7).
Kepala Pusat PVMBG Rita menegaskan, aktivitas GAK secara umum belum menunjukkan penurunan. Pihaknya mencatat rekaman tremor menerus yang mengindikasikan pergerakan fluida menuju permukaan.
"Aktivitas Gunung Anak Krakatau hari ini terekam tremor menerus yang mengindikasikan terjadinya fluida yang keluar menuju permukaan. Meskipun belum ada lagi suplai magma yang terdeteksi, namun aktivitas Gunung Anak Krakatau masih belum stabil dan dapat berpotensi erupsi kembali," kata Rita saat dikonfirmasi, Senin (6/7).
Data seismik PVMBG periode pukul 00.00-06.00 WIB pada hari yang sama mencatat empat kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 3 mm dan durasi 7-10 detik. Satu kali gempa Tremor Menerus juga terekam dengan amplitudo 1-4 mm, dominan 1 mm.
Meski begitu, kawasan wisata di sepanjang Anyer hingga Carita dipastikan masih aman. Jarak dari puncak GAK ke kawasan tersebut sekitar 42 kilometer, jauh melampaui radius larangan tiga kilometer.
"Untuk Pantai Anyer, Cinangka, Carita dan sekitarnya itu kurang lebih jauhnya 42 kilo meter. Jadi, untuk material vulkaniknya pun tidak akan sampai ke Anyer dan Carita, hanya di tubuhnya anak Krakatau," jelas Deny.
Kepulan asap masih terlihat keluar dari puncak GAK dengan ketinggian sekitar 5 hingga 10 meter. Arah sebarannya bergantung pada kondisi angin saat itu.
Warga diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Masyarakat diminta memantau perkembangan aktivitas GAK melalui saluran resmi, termasuk portal vulkanologi dan badan geologi.
Tinggalkan Komentar
Komentar