Banjir Parigi Moutong Surut, PU Gencarkan Penanganan Pascabanjir
Banjir bandang Parigi Moutong surut setelah menutup 500 meter Jalan Trans Sulawesi. Kementerian PU mengerahkan alat berat dan BNPB mencatat 251 jiwa terdampak

Periskop.id - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat penanganan pascabanjir bandang di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, setelah luapan Sungai Morongi membawa lumpur dan gelondongan kayu hingga menutup sekitar 500 meter Jalan Trans Sulawesi. Banjir kini telah surut dan jalur utama tersebut kembali dapat dilalui kendaraan.
Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu mengerahkan tim serta menyiagakan alat berat, pompa dan peralatan pendukung untuk mempercepat pembersihan material sekaligus memeriksa kondisi infrastruktur yang terdampak.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan akses masyarakat menjadi prioritas ketika bencana terjadi.
"Begitu terjadi bencana, kita harus segera bergerak di lapangan. Yang utama adalah memastikan akses masyarakat tetap terlayani. Kementerian PU akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait agar penanganan berjalan cepat," ujar Dody dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Banjir terjadi pada Rabu (26/8) sekitar pukul 01.00 WITA setelah hujan lebat meningkatkan debit Sungai Morongi hingga meluap ke permukiman dan jalan. Pos Curah Hujan Toboli mencatat curah hujan 96,9 mm per hari pada 25 Agustus. Mengacu klasifikasi BMKG, hujan 50-100 mm per hari termasuk kategori hujan lebat.
Material Tutup 500 Meter Jalan Trans Sulawesi
Dampak paling terlihat terjadi di jalur Trans Sulawesi. Lumpur, kayu dan sedimentasi menutupi badan jalan sepanjang sekitar 500 meter sehingga arus kendaraan sempat terganggu. BPBD Parigi Moutong menyebut alat berat dari Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) kemudian dikerahkan untuk membersihkan material.
Pada Rabu siang, ruas tersebut sudah kembali dapat digunakan, meski pengguna jalan masih diminta berhati-hati karena permukaan jalan licin. "Arus lalu lintas sempat macet, sekarang sudah normal kendaraan sudah bisa melintas. Meski begitu kami mengimbau pengguna jalan tetap berhati-hati, karena jalan masih licin," kata Plt Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai.
Selain jalan, banjir membawa material kayu dalam jumlah besar hingga merusak permukiman dan fasilitas di sekitar lokasi. Pagar sebuah pabrik durian juga dilaporkan terdampak.
Kementerian PU mencatat 55 bangunan sempat terendam dan 12 bangunan mengalami kerusakan. Sementara pendataan BPBD yang dipublikasikan ANTARA mencatat 12 rumah rusak dan 50 rumah terendam lumpur. Perbedaan angka tersebut menunjukkan proses pendataan masih berkembang dan menggunakan kategori objek terdampak yang tidak sepenuhnya sama.
Data Terbaru BNPB: 73 KK atau 251 Jiwa Terdampak
Pendataan korban juga mengalami pembaruan. Pada tahap awal, BPBD Parigi Moutong melaporkan sekitar 68 kepala keluarga (KK) atau 103 jiwa terdampak, dengan 12 KK terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Namun, BNPB pada Kamis (27/8) memperbarui jumlah tersebut menjadi 73 KK atau 251 jiwa terdampak, termasuk 15 KK atau sekitar 50 jiwa yang sempat mengungsi secara mandiri. BNPB memastikan seluruh pengungsi tersebut kemudian telah kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi dinilai terkendali.
BNPB juga memastikan banjir telah surut sepenuhnya. "Teratasi selain karhutla, bencana lain juga, yaitu banjir bandang di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dan kekeringan di Kabupaten Serang, Banten," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
Meski air telah surut, pekerjaan belum selesai. Petugas masih membersihkan lumpur dan material yang tertinggal di rumah maupun fasilitas umum.
Tanggap Darurat Berlaku hingga 8 September
Pemkab Parigi Moutong menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 26 Agustus hingga 8 September 2026. Selama periode tersebut, penanganan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar korban, pembersihan lumpur dan kayu, pemulihan akses, serta normalisasi sungai. Sekitar 200 personel TNI dan Polri turut bergabung dalam operasi penanganan bersama BPBD, pemerintah desa dan unsur lainnya.
"Penanganan tanggap darurat tentunya melibatkan lintas sektor melalui kerja-kerja kolaborasi. Saat ini kurang lebih 200 personel TNI/Polri bergabung dengan tim di lapangan," ujar Rivai.
BWS Sulawesi III Palu juga telah menyiagakan excavator, trailer, pompa serta bahan penanganan banjir. Tim Satgas Bencana bergerak ke lokasi untuk mendata kerusakan infrastruktur dan menentukan kebutuhan penanganan lanjutan.
Air Bersih Jadi Kebutuhan Prioritas
Selain membersihkan permukiman, pemerintah memprioritaskan kebutuhan air bersih.
BPBD Parigi Moutong dan BPBD Sulawesi Tengah mengerahkan masing-masing mobil tangki untuk mendistribusikan air kepada masyarakat. Koordinasi juga dilakukan dengan PMI apabila kapasitas distribusi perlu ditambah.
"Kebutuhan mendesak saat ini berupa air bersih sudah disalurkan menggunakan mobil tangki," kata Rivai.
BNPB pada laporan berikutnya memastikan suplai makanan siap saji dan air bersih tetap diberikan meskipun warga sudah kembali dari tempat pengungsian.
Parigi Moutong Sudah Berulang Kali Dilanda Banjir
Banjir Avolua bukan kejadian hidrometeorologi pertama yang melanda Parigi Moutong pada 2026. Arsip BWS Sulawesi III menunjukkan sedikitnya sejumlah kejadian banjir telah dilaporkan di kabupaten tersebut pada 23 Mei, 5 Juni, 7 Juni, 11 Juni, dua kejadian pada 20 Juni, 30 Juni hingga 29 Juli 2026.
Bahkan dua hari sebelum banjir bandang Avolua, tercatat 115 KK di Parigi Moutong terdampak banjir akibat hujan deras pada 24 Agustus. Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan pentingnya penanganan yang tidak hanya berhenti pada pembersihan pascabencana. Evaluasi kapasitas sungai, sedimentasi, kondisi daerah aliran sungai, sistem drainase hingga tata ruang di kawasan rawan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kejadian berulang.
Kementerian PU menyatakan pemantauan Sungai Morongi dan infrastruktur terdampak akan terus dilakukan meskipun kondisi telah berangsur normal. Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai juga diminta tetap waspada jika hujan berintensitas tinggi kembali terjadi.
Dengan Jalan Trans Sulawesi telah terbuka dan seluruh pengungsi kembali ke rumah, fokus penanganan kini bergeser menuju pembersihan permukiman, pemulihan kebutuhan dasar dan evaluasi Sungai Morongi sebelum masa tanggap darurat berakhir pada 8 September.
Banjir bandang Parigi Moutong telah surut setelah menutup 500 meter Jalan Trans Sulawesi. Kementerian PU mengerahkan alat berat dan BNPB mencatat 251 jiwa terdampak
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Dody Hanggodo, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), banjir, dan sulawesi tengah dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.