iklan periskop
Nasional

Pemprov Kebut Pemulihan Jalur Vital dan Jembatan Dampek Pasca Gempa NTT M7,7

Pemprov NTT mempercepat perbaikan jalan dan jembatan terdampak gempa M7,7, termasuk Jembatan Dampek yang menjadi jalur vital distribusi bantuan

18 jam yang lalu · 4 mnt baca
Pemprov Kebut Pemulihan Jalur Vital dan Jembatan Dampek Pasca Gempa NTT M7,7
Perbaikan jalan dan jembatan Dampek pada ruas Jalan Provinsi Reo–Dampek–Pota, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, yang terdampak gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026. dok. Humas Pemprov NTT
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pemerintah mempercepat pemulihan jalur transportasi vital di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa magnitudo 7,7 merusak sejumlah jalan dan jembatan. Salah satu titik yang menjadi prioritas adalah Jembatan Dampek pada ruas Reo-Dampek-Pota, Manggarai Timur, yang ditargetkan kembali dapat dilalui kendaraan umum mulai 23 Agustus 2026.

Percepatan pemulihan konektivitas menjadi krusial di tengah besarnya dampak gempa. Data BNPB per Sabtu (22/8/2026) mencatat 87 orang meninggal dunia, 1.298 orang terluka, serta 150.576 warga mengungsi. Aktivitas gempa susulan yang masih tinggi juga membuat distribusi logistik dan mobilitas warga sangat bergantung pada akses jalan yang tetap berfungsi.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) NTT Benyamin Nahak mengatakan, kerusakan di Jembatan Dampek terdapat pada bagian oprit atau struktur pendekat jembatan. Perbaikan dilakukan bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT dengan dukungan TNI, Polri, pemerintah daerah, mitra kerja, dan masyarakat.

“Perbaikan retakan oprit Jembatan Dampek sudah kita laksanakan. Saat ini pekerjaan terus dipercepat dan ditargetkan pada 23 Agustus 2026 besok, jalan dan jembatan pada ruas jalan provinsi ini sudah kembali normal dan dapat dilalui kendaraan umum,” ujarnya.

Ruas Reo-Dampek-Pota menjadi penting karena menghubungkan sejumlah wilayah di bagian utara Flores. Kerusakan akses tidak hanya berdampak terhadap perjalanan masyarakat, tetapi juga dapat menghambat pergerakan alat berat, tenaga kesehatan, serta distribusi bantuan ke daerah terdampak.

"Jalan dan jembatan menjadi perhatian penting karena merupakan jalur utama mobilitas masyarakat sekaligus akses distribusi bantuan logistik ke wilayah-wilayah terdampak," ujar Nahak.

Tiga Jembatan Bailey Dimobilisasi ke Flores

Penanganan infrastruktur di Flores juga diperkuat Kementerian Pekerjaan Umum. Pemerintah pusat memobilisasi tiga unit Jembatan Bailey dengan bentang masing-masing sekitar 30 meter dari Jawa Timur-Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Jembatan sementara tersebut dipersiapkan untuk menjaga konektivitas pada titik yang mengalami kerusakan berat sekaligus memastikan distribusi kebutuhan masyarakat tetap berjalan.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pemulihan konektivitas harus ditempatkan sebagai bagian langsung dari pelayanan kepada masyarakat terdampak.

"Yang penting sekarang bagaimana kebutuhan masyarakat bisa segera kita layani," kata Dody.

Salah satu infrastruktur lain yang mendapat perhatian pemerintah adalah Jembatan Wae Pesi. Kementerian PU menempatkan perbaikannya sebagai prioritas karena jalur tersebut terhubung dengan Pelabuhan Reo yang memiliki peran strategis dalam distribusi logistik dan energi di wilayah Flores.

Sebelumnya, Kementerian PU memastikan sejumlah ruas Jalan Trans Flores yang terdampak longsor maupun kerusakan badan jalan telah ditangani agar kembali fungsional. Tim BPJN NTT juga terus melakukan inspeksi untuk mengidentifikasi titik yang masih membutuhkan penanganan.

“Kami sudah cek kondisi di lapangan. Untuk beberapa titik sudah mulai tertangani, tetapi masih ada yang perlu kami selesaikan. Ada satu jembatan yang masih harus ditangani dan kami terus berpacu agar bisa segera ditangani,” kata Dody dalam keterangan sebelumnya.

Hampir 45 Ribu Rumah Tercatat Rusak

Skala kerusakan akibat gempa terus berubah seiring proses verifikasi di lapangan. BNPB pada Jumat (21/8) mencatat 44.946 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 17.176 rumah rusak berat, 9.758 rusak sedang, dan 18.013 rusak ringan. Data tersebut masih bersifat dinamis karena pendataan dan verifikasi terus berlangsung.

Angka terbaru tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pendataan awal pada hari-hari pertama pascagempa. Karena itu, pemerintah masih melakukan identifikasi untuk menentukan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi secara lebih akurat.

Pemprov NTT juga mempercepat tindak lanjut setelah Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Presiden meninjau wilayah terdampak, termasuk kawasan Dampek.

"Kami dapat arahan langsung dari Bapak Gubernur Melki Laka Lena setelah kemarin beliau bersama Wapres mengunjungi wilayah Dampek dan kami langsung segera menindaklanjuti arahan beliau," jelas Nahak.

Pemulihan infrastruktur tidak hanya diarahkan pada jalan dan jembatan. Pemerintah juga melakukan pemeriksaan terhadap jaringan air, fasilitas pendidikan, kesehatan, hingga bangunan publik yang mengalami kerusakan. Menteri PU sebelumnya menegaskan pemulihan layanan dasar menjadi bagian penting selama masa tanggap darurat.

Gempa Susulan Masih Jadi Ancaman

Gempa utama terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB dengan pusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, pada kedalaman sekitar 15 kilometer. BMKG menyimpulkan gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas Flores Back-arc Thrust dengan mekanisme sesar naik.

Aktivitas susulan setelah gempa utama berlangsung sangat intens. Pemantauan hingga 22 Agustus mencatat lebih dari 5.000 gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,2. Kondisi tersebut membuat banyak masyarakat belum berani kembali ke rumah dan mendorong jumlah pengungsi terus bertambah.

BMKG juga meminta masyarakat menghindari bangunan yang telah retak atau rusak karena guncangan susulan dapat memperbesar tingkat kerusakan pada struktur yang sudah melemah.

Di tengah kondisi tersebut, pemulihan jalan dan jembatan menjadi salah satu pekerjaan paling mendesak. Selain membuka kembali aktivitas ekonomi masyarakat, keberadaan jalur darat yang aman menentukan kecepatan pengiriman pangan, air bersih, layanan kesehatan, alat berat hingga material rekonstruksi.

Karena itu, normalisasi Jembatan Dampek bukan sekadar perbaikan satu titik infrastruktur. Pemulihan ruas Reo-Dampek-Pota menjadi bagian dari upaya menjaga wilayah terdampak tetap terhubung selama fase tanggap darurat sekaligus mempersiapkan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Flores dalam jangka lebih panjang.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Dody Hanggodo, kementerian PU, perbaikan infrastruktur, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.