Nasional

Jabar Pulihkan Lahan Ciater-Pangalengan, 248 Ribu Pohon Teh Ditanam

Pemprov Jabar merevitalisasi 22 hektare kebun teh di Ciater dan Pangalengan dengan 248.200 pohon untuk memulihkan ekonomi dan fungsi ekologis

1 hari yang lalu · 5 mnt baca
Jabar Pulihkan Lahan Ciater-Pangalengan, 248 Ribu Pohon Teh Ditanam
Proses revitalisasi kebun teh di Ciater, Kabupaten Subang, oleh Pemprov Jabar. dok. Pemprov Jabar
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Hamparan kebun teh yang sebelumnya berubah menjadi bangunan liar dan lahan sayuran mulai dikembalikan ke fungsi awalnya. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah merevitalisasi 22 hektare perkebunan teh di Ciater, Kabupaten Subang, dan Pangalengan, Kabupaten Bandung, dengan total sekitar 248.200 pohon tehditanam hingga akhir Agustus 2026.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengembalikan lanskap hijau. Pemprov Jabar menempatkan revitalisasi sebagai bagian dari pemulihan fungsi ekonomi perkebunan, penataan kawasan, sekaligus konservasi tanah dan air untuk mengurangi potensi bencana di wilayah hulu.

Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat Gandjar Yudniarsa mengatakan program dilaksanakan mengikuti arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan melibatkan masyarakat di sekitar perkebunan serta pensiunan pekerja PT Perkebunan Nusantara (PTPN). "Total pekerja dalam revitalisasi kebun teh sebanyak 96 orang," kata Gandjar di Bandung, Senin (31/8/2026).

Ciater Ditanami Lebih dari 50 Ribu Pohon Teh

Di kawasan Ciater, revitalisasi telah menjangkau tiga desa dengan luas keseluruhan 6 hektare. Desa Ciater menjadi lokasi penanaman sekitar 15.200 pohon pada lahan seluas 2 hektare. Di Desa Cisaat, sebanyak 25.000 pohon ditanam di area 3 hektare. Sementara Desa Tambakan mendapat penanaman 10.000 pohon pada lahan seluas 1 hektare.

Dengan demikian, sebanyak 50.200 pohon teh telah ditanam di tiga lokasi tersebut.

Pemulihan kawasan Ciater tidak terlepas dari penataan yang berlangsung sejak tahun lalu. Pada Agustus 2025, pemerintah membongkar ratusan bangunan yang berdiri di sepanjang koridor wisata Bandung-Subang, termasuk pada lahan milik pemerintah dan PTPN di kawasan Ciater. Pemprov ketika itu menyatakan penertiban dilakukan untuk menata ulang jalur sekaligus mengembalikan fungsi kawasan.

Sebanyak 978 pedagang tercatat terdampak penertiban di jalur Cagak-Ciater-Tangkuban Parahu. Pemerintah kemudian menyiapkan bantuan sementara bagi pedagang sembari mempersiapkan lokasi relokasi.

Penanaman teh yang kini dilakukan menjadi tahap lanjutan dari penataan tersebut. Penanaman perdana di Ciater sendiri telah dimulai sejak November 2025.

Pangalengan Jadi Lokasi Revitalisasi Terbesar

Porsi revitalisasi yang lebih besar berlangsung di Pangalengan. Hingga akhir Agustus 2026, Pemprov Jabar telah memulihkan 16 hektare kebun dan menanam 198.000 pohon teh.

"Adapun perkebunan teh yang direvitalisasi di Pangalengan lebih luas lagi mencapai 16 hektare. Jumlah pohon teh telah ditanam mencapai 198.000 pohon," kata Gandjar.

Program penanaman di Pangalengan mulai berjalan sejak Desember 2025 setelah alih fungsi perkebunan teh menjadi lahan sayuran mendapat sorotan dari pemerintah daerah, pekerja perkebunan hingga masyarakat.

Masalahnya tidak kecil. Regional Head PTPN I Regional 2 Desmanto pada Desember 2025 menyebut dari hampir 6.000 hektare areal yang dikelola PTPN di kawasan tersebut, sekitar 1.500 hektare telah beralih menjadi tanaman seperti sayuran.

Menurut PTPN, perubahan vegetasi tersebut berdampak pada kemampuan kawasan menahan air.

"Hal ini menyebabkan limpasan permukaan (run off) yang tinggi dan pendangkalan di sungai," kata Desmanto.

PTPN kemudian menyatakan kesiapannya mengembalikan lahan ke tanaman perkebunan tahunan seperti teh, kopi, dan kina untuk membantu memulihkan fungsi konservasi di lereng.

Dari Persoalan Kebun Sayur hingga Ancaman Banjir Lumpur

Alih fungsi kebun teh Pangalengan telah menjadi persoalan sejak setidaknya 2024. Pada April 2025, pekerja perkebunan memprotes penebangan tanaman teh karena lahan yang sebelumnya menjadi sumber pekerjaan mereka berubah menjadi kebun sayuran.

Manajer Kebun Malabar PTPN I Regional 2 Heru Supriadi saat itu menyebut perkebunan sayur pada kawasan tersebut dikhawatirkan mengganggu tata air dan berkaitan dengan kejadian banjir lumpur yang dirasakan masyarakat Pasirmulya.

Persoalan tersebut kemudian berkembang hingga akhir 2025. Pemerintah daerah mendorong penghentian alih fungsi lahan di wilayah hulu sebagai bagian dari strategi mengurangi sedimentasi dan risiko banjir di Bandung Raya.

“Alih fungsi ini harus dihentikan. Perkebunan yang berubah harus dikembalikan menjadi perkebunan teh atau tanaman keras lain yang tidak memperparah sedimentasi,” tegas Dedi Mulyadi.

Karena itu, revitalisasi saat ini tidak hanya berbicara tentang produksi teh. Tanaman tahunan dipilih untuk membantu mempertahankan tutupan vegetasi dan memperbaiki fungsi lahan yang sebelumnya berubah menjadi pertanian hortikultura intensif.

Target Revitalisasi 36 Hektare

Pemprov Jabar masih mempunyai pekerjaan lanjutan. Target program mencapai 36 hektare, terdiri atas 12 hektare di Ciater dan 24 hektare di Pangalengan.

Dengan realisasi saat ini 6 hektare di Ciater dan 16 hektare di Pangalengan, masih terdapat 14 hektare yang perlu direvitalisasi untuk memenuhi target awal tersebut.

Gandjar menyatakan proses penanaman akan terus berlangsung hingga sasaran tercapai. Selain pemerintah dan PTPN, keterlibatan warga lokal menjadi bagian dari skema agar pemulihan lingkungan sekaligus menghasilkan aktivitas ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Program ini menjadi relevan karena Jawa Barat merupakan jantung industri teh nasional. Data Outlook Teh 2024 Kementerian Pertanian memperkirakan produksi teh Jawa Barat mencapai sekitar 83.351 ton pada 2024, dari produksi nasional sekitar 124.041 ton. Dalam rata-rata periode 2020-2024, Jawa Barat menyumbang sekitar 67,39% produksi teh Indonesia, jauh di atas provinsi penghasil lainnya.

Kabupaten Bandung sendiri masuk lima besar sentra produksi teh Jawa Barat. Data Ditjen Perkebunan yang diolah Pusdatin Kementan mencatat Kabupaten Bandung menghasilkan sekitar 3.177 ton teh pada 2022 atau 7,47% produksi provinsi dari kelompok perkebunan yang dicatat dalam data tersebut.

Industri Teh Nasional Juga Sedang Tertekan

Pemulihan kebun turut memiliki arti ekonomi karena industri teh Indonesia menghadapi kecenderungan penurunan produksi. Laporan Kinerja Ditjen Perkebunan 2025 mencatat produksi teh nasional turun dari 144.063 ton pada 2020 menjadi 116.418 ton pada 2025.

Pada tahun terakhir tersebut, luas areal teh tercatat sekitar 105.273 hektare dan 24.138 hektare atau sekitar 22,9% di antaranya berada dalam kategori tanaman rusak.

Produktivitas rata-rata juga menurun dari sekitar 1.699 kilogram per hektare pada 2020 menjadi 1.480 kilogram per hektare pada 2025. 

Data itu menunjukkan rehabilitasi tanaman dan peremajaan kebun menjadi salah satu pekerjaan penting apabila Indonesia ingin mempertahankan produksi teh dalam jangka panjang. Dalam konteks tersebut, 248.200 pohon teh yang kini ditanam di Ciater dan Pangalengan memang belum mengubah industri teh Jawa Barat secara keseluruhan.

Namun, program tersebut menjadi contoh bagaimana pemulihan perkebunan dapat menjalankan beberapa fungsi sekaligus: mengembalikan lahan produktif, menyediakan pekerjaan, mempertahankan karakter kawasan wisata, serta memulihkan kemampuan wilayah hulu dalam menyerap dan mengendalikan air.

Pemprov Jabar kini menargetkan penanaman berlanjut hingga 36 hektare. Tantangan setelahnya bukan hanya memastikan bibit tumbuh, tetapi menjaga kawasan yang telah dipulihkan agar tidak kembali beralih fungsi ketika nilai ekonomi penggunaan lahan lain kembali menguat.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Jawa Barat (Jabar), revitalisasi, dan pengalengan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.