Periskop.id — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan revitalisasi besar Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, agar tidak lagi sekadar menjadi tempat naik-turun penumpang kereta. Stasiun ikonik di jantung ibu kota itu akan dikembangkan menjadi “teras Monas” yang menghadirkan pengalaman perjalanan baru bagi pengguna jasa kereta api maupun masyarakat.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, konsep revitalisasi Gambir diarahkan untuk memperkuat fungsi stasiun sebagai pintu masuk utama menuju kawasan Monumen Nasional. Dengan desain baru, penumpang diharapkan tidak hanya datang untuk naik kereta, tetapi juga dapat menikmati suasana dan lanskap Monas dari area stasiun.

"Kami akan jadikan Stasiun Gambir menjadi terasnya dari panggung yang kita sebut dengan Monas," kata Bobby saat berdiskusi dengan awak media dalam perjalanan menggunakan Kereta Wisata di Brebes, Jawa Tengah, Rabu (8/7). 

Menurut Bobby, revitalisasi Stasiun Gambir bukan hanya proyek fisik untuk memperbaiki bangunan. Lebih dari itu, KAI ingin membangun konsep in journey experience, yakni pengalaman perjalanan yang dimulai bahkan sebelum penumpang masuk ke kereta.

Ia menjelaskan, wajah baru Stasiun Gambir akan menggabungkan berbagai elemen khas alam Nusantara. Konsep desainnya akan menampilkan inspirasi dari air terjun, sawah terasering, alam pegunungan, hingga lanskap Indonesia lainnya. Elemen tersebut dihadirkan untuk memberi kesan bahwa penumpang berada di ruang transportasi yang juga memperlihatkan identitas Indonesia.

Itu semua, kata Bobby, dilakukan untuk menunjukkan Indonesia memiliki panggung yang bernama Monas. "Dari Stasiun Gambir nantinya dapat dilihat panggung tersebut dengan baik," serunya. 

Bobby menyebut Monas sebagai simbol nasional yang selama ini belum memiliki ruang pandang atau area transisi yang representatif bagi masyarakat. Karena itu, Gambir akan diarahkan menjadi ruang yang menghadap ke Monas dan memberi pengalaman visual yang lebih kuat bagi pengguna jasa kereta.

"Monas ini adalah panggungnya Indonesia.Terasnya ada di mana? Belum ada. Belum ada terasnya. Yang duduk bisa memandang Monas sekarang tidak ada. Untuk itu kami akan jadikan Gambir sebagai In journey experience. Pelanggan yang datang dia tidak hanya akan naik kereta. Dia akan menikmati Monas," ujarnya.

Monas memang menjadi salah satu ikon paling penting di Jakarta. Monumen tersebut menjulang setinggi 132 meter dan berdiri di kawasan Medan Merdeka yang luasnya sekitar 80 hektare. Karena posisinya berada di pusat kota dan berdekatan langsung dengan Stasiun Gambir, integrasi visual dan ruang antara stasiun dan kawasan Monas menjadi bagian penting dari gagasan revitalisasi.

Dalam rencana KAI, Stasiun Gambir nantinya akan dibuat lebih terbuka ke arah Monas. Pengguna jasa yang tiba di stasiun tidak hanya akan disambut bangunan transportasi, tetapi juga lingkungan kawasan Monas yang lebih tertata dan nyaman.

Ia mengatakan, Stasiun Gambir nantinya akan menghadap ke Monas dan ketika pengguna kereta tiba di stasiun tersebut mereka dapat menikmati lingkungan Monas yang lebih baik."

"Pengguna jasa juga akan menikmati yang namanya surroundingsnya Monas. Dia akan menikmati yang namanya stasiun New Gambir," tuturnya.

Anggaran Rp 1 Triliun, Rampung 2028

KAI menyiapkan anggaran sekitar Rp1 triliun untuk mewujudkan proyek tersebut. Revitalisasi Stasiun Gambir ditargetkan rampung pada 2028. Anggaran itu disebut akan digunakan untuk menata ulang wajah stasiun, memperkuat fasilitas, serta menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih modern dan representatif.

Rencana tersebut sejalan dengan penjelasan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam pemberitaan sebelumnya. Dudy menyebut revitalisasi Gambir ditargetkan selesai pada 2028 dan pendanaannya berasal dari KAI. Ia juga menekankan bahwa Gambir ke depan akan dikembangkan agar terkoneksi dengan layanan kereta jarak jauh dan KRL.

"Anggarannya dari KAI," ujar Dudy.

"Kita ingin membuat disitu nanti terkoneksi dengan KRL dan segala macam. Jadi ada konektivitas antara Kereta Jarak Jauh (KAJJ) maupun Komuter," imbuhnya.

Transformasi Gambir juga berkaitan dengan rencana menjadikan stasiun tersebut tidak hanya melayani kereta jarak jauh, tetapi juga menjadi pemberhentian KRL. Sebelumnya, Dudy mengatakan pemerintah menyiapkan transformasi Stasiun Gambir agar layanan kereta jarak jauh dan KRL dapat terhubung dalam satu kawasan pelayanan.

"Nanti (Stasiun) Gambir yang selama ini melayani kereta jarak jauh, akan dikombinasikan dengan layanan KRL," kata Menhub.

Menurut Dudy, pengoperasian KRL di Gambir tidak akan mengurangi peran Stasiun Manggarai. Sebaliknya, integrasi tersebut akan memperkuat konektivitas jaringan perkeretaapian melalui pembagian fungsi layanan yang saling melengkapi. Sekadar informasi, pemerintah menyiapkan penambahan jalur rel untuk mengakomodasi layanan kereta jarak jauh dan KRL.

"Mengenai berapa jumlah KRL, nanti kita akan melihat kondisinya, namun dipastikan layanan di Stasiun Gambir akan melayani kereta jarak jauh maupun kereta listrik atau KRL," beber Menhub.

Dengan tambahan fungsi tersebut, revitalisasi Gambir tidak hanya menyasar aspek estetika. Proyek ini juga berhubungan dengan konektivitas transportasi publik di Jakarta. Keberadaan KRL di Gambir nantinya dapat memudahkan penumpang komuter menuju kawasan Monas, pusat pemerintahan, kawasan bisnis, dan layanan kereta jarak jauh tanpa harus berpindah ke stasiun lain.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Allan Tandiono juga menyebut. KAI sedang memfinalisasi perencanaan dan desain beautifikasi Stasiun Gambir. Target pengerjaan disebut berlangsung sekitar dua tahun sesuai rencana transformasi yang disampaikan KAI.

"Terkait beautifikasi Gambir sekarang ini PT KAI sedang finalisasi perencanaannya, desainnya, dan seperti disampaikan oleh Dirut KAI targetnya dua tahun penyelesaiannya," kata Allan.

Posisi Strategis Stasiun Gambir

Rencana revitalisasi Gambir menjadi penting karena stasiun tersebut selama ini memiliki posisi strategis di Jakarta. Gambir dikenal sebagai salah satu stasiun utama untuk layanan kereta jarak jauh, terutama rute-rute antarkota dari dan menuju Jakarta. Letaknya yang berada di kawasan pusat pemerintahan membuat Gambir bukan hanya simpul transportasi, tetapi juga bagian dari wajah ibu kota.

Jika revitalisasi berjalan sesuai rencana, Gambir akan naik kelas menjadi stasiun nasional yang lebih terintegrasi. Penumpang tidak hanya mendapatkan layanan perjalanan, tetapi juga ruang transit yang lebih nyaman, akses yang lebih baik, dan pengalaman visual yang menghubungkan transportasi dengan simbol nasional.

Konsep “teras Monas” juga dapat menjadi pembeda dibandingkan revitalisasi stasiun pada umumnya. Alih-alih hanya memperbaiki peron, ruang tunggu, atau akses penumpang, KAI ingin membuat Gambir menjadi ruang yang menyatu dengan kawasan kota. Dalam konteks pariwisata urban, pendekatan ini dapat memperkuat pengalaman wisatawan yang tiba di Jakarta melalui jalur kereta api.

Namun, proyek ini tetap memiliki tantangan. KAI dan pemerintah perlu memastikan pembangunan tidak mengganggu operasional harian penumpang kereta jarak jauh. Selain itu, penambahan fungsi KRL juga perlu disiapkan dengan perhitungan kapasitas, alur penumpang, integrasi tiket, akses pejalan kaki, serta konektivitas dengan moda lain seperti Transjakarta, MRT, LRT, taksi, dan transportasi daring.

Tantangan lainnya adalah menjaga kawasan Monas tetap tertata sebagai ruang publik dan simbol nasional. Karena Gambir akan diarahkan menghadap dan terhubung secara visual dengan Monas, desain stasiun perlu mempertimbangkan aspek tata ruang, arsitektur kawasan, kenyamanan pejalan kaki, serta pengendalian kepadatan lalu lintas di sekitar Medan Merdeka.

Bobby menegaskan wajah baru Stasiun Gambir akan dibuat semenarik mungkin agar pengguna jasa memiliki pengalaman perjalanan yang lebih baik. Dengan konsep tersebut, Gambir tidak hanya menjadi titik keberangkatan dan kedatangan kereta, tetapi juga ruang pertama yang memperkenalkan Jakarta dan Indonesia kepada penumpang.

Jika target 2028 tercapai, Stasiun Gambir akan memasuki babak baru. Dari stasiun kereta jarak jauh di pusat kota, Gambir akan diarahkan menjadi simpul transportasi nasional, ruang pengalaman perjalanan, sekaligus “teras” bagi Monas sebagai panggung Indonesia.