Periskop.id - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno disebut akan berkantor langsung di kawasan Kota Tua selama proses revitalisasi berlangsung. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk memastikan penataan kawasan bersejarah tersebut berjalan optimal, sekaligus memperkuat citra Jakarta sebagai kota global berbasis budaya.
"Kami akan revitalisasi (Kota Tua). Harapannya, benchmark-nya ke Kota Lama Semarang. Rencananya, Wagub akan bekerja di sana dan membangun Kota Tua lebih baik lagi," kata Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Denny Aputra, Rabu (6/5).
Keputusan berkantor di lokasi proyek disebut sebagai upaya pengawasan langsung terhadap progres revitalisasi. Rano juga telah membentuk kelompok kerja khusus guna mempercepat koordinasi lintas instansi.
Sejatinya Penataan Kota Tua bukan program baru. Kawasan seluas sekitar 334 hektare ini telah mengalami beberapa tahap revitalisasi sejak era 1970-an. Tahap awal dilakukan pada 1971–1977 yang mencakup kawasan inti seperti Taman Fatahillah, Kali Besar, hingga sejumlah museum utama.
Revitalisasi berlanjut pada 2004–2006 dengan pengembangan museum perbankan, lalu pada 2013 hingga 2022 dengan fokus pada penataan kawasan publik, gedung bersejarah, serta akses transportasi seperti Stasiun Beos.
Menurut data Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Kota Tua merupakan salah satu destinasi wisata utama yang dikunjungi jutaan wisatawan setiap tahun, termasuk wisatawan mancanegara.
Dibagi Tiga Zona
Dalam tahap terbaru, revitalisasi akan membagi kawasan Kota Tua menjadi tiga zona, yakni zona inti, zona pengembangan, dan zona penunjang. Pemerintah daerah menargetkan pembenahan fasilitas dasar sebagai prioritas utama, terutama area parkir dan penataan pedagang kaki lima (PKL) agar lebih tertib dan terintegrasi.
Selain itu, kawasan ini juga akan didesain agar lebih ramah wisatawan dengan akses transportasi publik yang mudah, seperti KRL dan MRT. Revitalisasi Kota Tua juga tidak hanya berorientasi pada pariwisata, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar menjadikan Jakarta sebagai kota global.
Konsep ini sejalan dengan tren pengembangan kota-kota dunia yang mengintegrasikan warisan sejarah dengan modernisasi, seperti yang dilakukan di kawasan heritage di Singapura, Seoul, hingga Amsterdam.
Rano menilai, penguatan identitas budaya menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing kota. Dengan menghidupkan kembali kawasan bersejarah, Jakarta diharapkan tidak hanya menjadi pusat bisnis, tetapi juga destinasi wisata budaya yang kuat dan berkarakter.
Tinggalkan Komentar
Komentar