iklan periskop
Pasar Modal

MSCI Pertahankan Status Indonesia sebagai Emerging Market

MSCI tetap mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market pada Index Review Agustus 2026, meski bursa domestik masih dibekukan dan 10 saham RI didepak dari indeks.

2 jam yang lalu · 3 mnt baca
Polusi, Kualitas Udara, Kabut Polusi, IQAir, Gedung Bertingkat, Pertumbuhan Ekonomi, Ekonomi, Penanaman Modal, Investasi, Ekonomi Indonesia, Realisasi Investasi
Kabut polusi udara menyelimuti kawasan di Jakarta, Rabu (15/7/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai negara emerging market dalam hasil kajian tahunan negara untuk MSCI Frontier Emerging Markets Index. Keputusan itu tertuang dalam August 2026 Index Review yang diumumkan Rabu (12/8) waktu setempat.

Lembaga pemeringkat indeks global itu menegaskan tidak ada perubahan pada daftar negara emerging market yang tercakup dalam indeks tersebut. Status Indonesia disebut tetap bertahan, meski bursa domestik masih dalam kondisi dibekukan atau freeze oleh MSCI.

"Tidak akan ada perubahan pada daftar emerging markets yang saat ini tercakup dalam Indeks MSCI Frontier Emerging Markets sebagai hasil dari tinjauan ini," tulis MSCI dalam pengumuman resminya, Kamis (13/8).

MSCI Frontier Emerging Markets Index sendiri merupakan gabungan seluruh indeks negara dalam MSCI Frontier Markets Index dengan sejumlah indeks negara terpilih dari MSCI Emerging Markets Index. Selain Indonesia, negara berstatus emerging market dalam klasifikasi MSCI di antaranya Brasil, Cile, China, India, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Turki.

Pembekuan bursa Indonesia oleh MSCI masih berlangsung sambil menunggu perbaikan aspek aksesibilitas dan transparansi pasar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya berharap MSCI segera mencabut kebijakan tersebut pada rebalancing berikutnya, dan memprediksi dampak rebalancing periode ini akan lebih ringan dibanding sebelumnya.

Di sisi lain, MSCI mendepak hingga 10 saham Indonesia dalam pengumumannya. Pada MSCI Global Standard Indexes, indeks bergengsi ini mengeluarkan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), sementara PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diturunkan ke MSCI Global Small Cap Indexes.

Sembilan saham lain turut dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes, yaitu PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

"Semua perubahan akan berlaku mulai penutupan pada 31 Agustus 2026. Tanggal berlaku: 1 September 2026," tulis MSCI dalam pengumumannya, Kamis (13/8).

MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil November 2026 Index Review pada 11 November 2026, yang akan berlaku efektif mulai 1 Desember 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjelaskan, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK telah melakukan berbagai perbaikan untuk meningkatkan transparansi pasar modal domestik. Menurutnya, perbaikan itu perlu jadi pertimbangan MSCI dalam mengevaluasi kebijakan pembekuan.

"Kami harapkan nanti secara fair mereka dapat melihat dan menilai, memperbandingkan tingkat transparansi pasar kita. Bahkan, rasanya sudah jauh lebih bagus dibanding pasar-pasar lainnya," kata Hasan ketika ditemui seusai acara Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia 2026 di Jakarta, Selasa (11/8).

Hasan memperkirakan dampak rebalancing pada periode Agustus 2026 tidak akan sebesar rebalancing mayor pada Mei yang berdampak pada Juni lalu. Berdasarkan perhitungan OJK dan BEI, saham-saham Indonesia yang masih bertahan dalam indeks MSCI dinilai masih layak dipertahankan.

"Kalaupun ada yang keluar, rasanya dari perhitungan kami sementara ini tidak akan sebesar atau lebih signifikan dibanding keputusan rebalancing yang mereka lakukan di Bulan Mei yang lalu," kata dia.

Kedalaman transaksi bursa serta peran investor aktif, termasuk investor domestik dan ritel, dinilai membantu pasar tetap resilien menghadapi tekanan tersebut. Hasan berharap kondisi serupa kembali terjadi pada rebalancing Agustus ini, sehingga dampaknya tidak terlalu signifikan bagi pasar.

"Kami berharap justru upside-nya ada pada saat freeze itu diangkat," ujar Hasan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Hasan Fawzi, Otoritas Jasa Keuangan / OJK, Morgan Stanley Capital International (MSCI), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.