iklan periskop
Pasar Modal

Saham MDIA Pemilik ANTV Melonjak 318%, BEI Setop Transaksi

Saham pengelola ANTV, PT Intermedia Capital Tbk, meroket 318% dalam sebulan hingga disetop sementara oleh BEI. Manajemen buka suara soal penyebabnya.

6 hari yang lalu · 3 mnt baca
Saham MDIA Pemilik ANTV Melonjak 318%, BEI Setop Transaksi
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (19/5/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), perusahaan pemilik stasiun televisi ANTV, melonjak 317,91% dalam sebulan terakhir. Lonjakan tajam itu membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan sahamnya di seluruh pasar mulai Kamis (13/8).

Sekretaris Perusahaan MDIA Andrew Santoni Hutasoit menjelaskan, pergerakan harga saham perseroan merupakan bagian dari mekanisme pasar. Ia menyebut faktor penawaran-permintaan, likuiditas, hingga sentimen investor turut memengaruhi kenaikan tersebut.

Menurut manajemen, pergerakan harga saham dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan kinerja operasional perseroan. Ekspektasi investor terhadap prospek industri, optimalisasi aset, serta langkah efisiensi perusahaan juga disebut ikut memengaruhi aktivitas perdagangan.

Sebelum suspensi berlaku, saham MDIA sempat ditutup di level Rp280 per saham pada Rabu (12/8). Harga tersebut naik 13,82% dalam sehari, sementara dalam lima hari perdagangan terakhir saham ini menguat sekitar 25%.

Lonjakan harga terjadi di tengah kondisi keuangan perseroan yang masih mencatatkan rugi bersih. Meski begitu, kinerja kuartal I 2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

MDIA membukukan pendapatan Rp141,7 miliar dan laba usaha Rp14,3 miliar pada kuartal I 2026. Rugi bersih perseroan berhasil ditekan menjadi Rp8,3 miliar, jauh menyusut dari Rp58,3 miliar pada kuartal I 2025.

Perbaikan itu terutama didorong penurunan beban lain-lain neto, dari Rp90,3 miliar menjadi Rp22,6 miliar. Rugi selisih kurs turut menyusut, dari Rp48,2 miliar menjadi Rp8,8 miliar.

Dari sisi neraca, total aset MDIA per 31 Maret 2026 tercatat sekitar Rp3,13 triliun dengan ekuitas positif Rp935,5 miliar. Total liabilitas turun menjadi Rp2,19 triliun dari Rp2,39 triliun pada akhir 2025, atau berkurang sekitar Rp199,5 miliar setara 8,3%.

Manajemen menyebut bisnis penyiaran melalui ANTV masih menjadi motor utama pendapatan perseroan. Stasiun televisi ini mempertahankan fokus pada konten hiburan keluarga dengan target pemirsa perempuan dan ibu rumah tangga, mengandalkan serial India serta film klasik Indonesia untuk efisiensi biaya.

Selain revitalisasi Master Control Room dan optimalisasi transponder, MDIA memperluas distribusi konten free-to-air ANTV lewat YouTube, Facebook, dan Instagram lewat sinergi Grup VIVA. Untuk 2026, perseroan berencana memperkuat portofolio serial lokal pada jam prime time, menjajaki serial asing dari pasar baru, memperluas kegiatan off-air, serta meningkatkan efisiensi di seluruh rantai operasional.

Di tengah lonjakan harga saham, manajemen memastikan tidak ada informasi material yang salah maupun belum disampaikan ke publik. Perseroan juga menegaskan tidak ada kontrak baru, sumber pendapatan signifikan, atau perkara hukum berdampak material yang belum diungkapkan sejak laporan keuangan per 31 Maret 2026.

Manajemen meminta pergerakan saham MDIA dilihat dalam konteks mekanisme pasar dan sentimen investor, bukan semata cerminan kinerja operasional jangka pendek. Permintaan itu disampaikan bersamaan dengan penjelasan resmi kepada Bursa terkait suspensi yang berlaku sejak Kamis (13/8).

Di tengah transformasi digital, MDIA menilai prospek industri media dan hiburan Indonesia masih positif. Mengutip PwC Global Entertainment & Media Outlook 2025-2029, pendapatan industri hiburan dan media Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 8,4% hingga 2029, lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 4,2%.

PwC turut memperkirakan iklan televisi siaran atau broadcast TV advertising di Indonesia tumbuh dengan CAGR 7,7% hingga 2029, sementara iklan connected TV dan iklan video di media sosial menjadi bagian dari pertumbuhan ekosistem digital. Bagi MDIA, televisi FTA dinilai masih berperan penting membangun kesadaran merek secara nasional, terutama di luar Jakarta, yang kemudian dikombinasikan dengan distribusi digital untuk menjangkau audiens yang makin terfragmentasi.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Bursa Efek Indonesia (BEI), dan suspensi dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.