Pasar Modal

Rebalancing MSCI Berlaku September, IHSG Diramal Volatil di 6.400-6.600

Rebalancing MSCI bakal berlaku akhir Agustus 2026. Pengamat pasar modal menilai dampaknya ke IHSG relatif terbatas meski sejumlah saham keluar dari indeks.

10 jam yang lalu · 2 mnt baca
Bursa Efek Indonesia, Pembukaan Saham, Saham, BEI, IHSG, Indeks Harga Saham Gabungan
Tamu undangan berada di dekat layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/1/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan merilis hasil rebalancing indeks untuk periode Agustus 2026. Perubahan ini bakal berlaku efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 atau awal perdagangan 1 September 2026.

Dalam rebalancing kali ini, saham GOTO dan CPIN keluar dari kategori Global Standard. Sembilan saham lain juga tersingkir dari kategori Small Cap, yaitu ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menilai risiko dari rebalancing ini dalam jangka pendek masih ada. Namun menurutnya, sebagian besar dampak sudah tercermin di harga saham sejak volatilitas pasar beberapa waktu lalu.

"Saya melihat IHSG masih cenderung volatil di kisaran 6.400-6.600 dalam jangka pendek," kata Budi Frensidy, dikutip Kamis (27/8).

Budi menjelaskan, tekanan terbesar bagi pasar kemungkinan muncul menjelang penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Saham-saham yang keluar atau turun kelas di indeks MSCI diperkirakan paling terdampak, meski efeknya terhadap IHSG secara keseluruhan disebut relatif terbatas.

Selain faktor MSCI, ia menyebut ada beberapa sentimen lain yang berpotensi mempengaruhi arah IHSG dalam jangka pendek dan menengah. Di antaranya volatilitas kurs rupiah, rebalancing indeks FTSE, kebijakan moneter The Fed, dinamika US Treasury, hingga konflik geopolitik global.

Budi juga menyoroti potensi aksi demonstrasi yang diperkirakan berlangsung pada 27 Agustus 2026 di Jakarta. Menurutnya, unjuk rasa ini dapat menekan pasar apabila terjadi eskalasi atau berujung ricuh, sementara aksi yang berlangsung tertib diperkirakan berdampak minim ke pasar.

"Perkembangan rupiah justru lebih penting karena pelemahan tajam bisa memicu outflow asing," imbuh Budi.

Hingga akhir tahun, Budi memproyeksikan IHSG bisa bergerak di kisaran 6.700 sampai 7.000. Level 7.000 masih terbuka jika kurs rupiah stabil, arus dana asing membaik, dan tekanan dari penyedia indeks global mereda.

Ia memperkirakan sektor teknologi, telekomunikasi, konsumer defensif, dan sebagian produk komoditas relatif menjanjikan hingga sisa tahun ini. Budi merekomendasikan investor melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat dan likuid sembari menyisakan sebagian kas.

"Tekanan teknikal saat rebalancing bisa menjadi peluang beli jika fundamental tidak berubah," pungkas Budi.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Prediksi IHSG, Morgan Stanley Capital International (MSCI), rekomendasi saham, dan rebalancing dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.