Periskop.id - Legenda sepak bola Italia dan AC Milan, Franco Baresi, meninggal dunia pada usia 66 tahun, Jumat, 31 Juli 2026. Kepergiannya meninggalkan warisan istimewa, termasuk perjalanan langka berupa tiga kali naik podium dalam tiga penampilan di Piala Dunia.
Baresi tercatat menjadi bagian dari skuad juara dunia Italia pada 1982, membantu Azzurri merebut peringkat ketiga pada 1990, lalu memimpin tim sebagai kapten hingga mencapai final pada 1994. Dengan demikian, ia membawa pulang medali emas, perunggu, dan perak dari turnamen sepak bola paling bergengsi tersebut.
Kabar meninggalnya Baresi diumumkan AC Milan dan dikonfirmasi Federasi Sepak Bola Italia atau FIGC. Sepanjang kariernya, ia hanya membela dua tim, yakni AC Milan di level klub dan Italia di panggung internasional.
Spanyol 1982, Menjadi Juara Tanpa Bermain
Perjalanan Baresi di Piala Dunia dimulai ketika pelatih Enzo Bearzot memanggilnya ke skuad Italia untuk turnamen di Spanyol. Ketika itu, Baresi baru berusia 22 tahun dan belum menjadi pilihan utama di lini pertahanan.
Ia tidak dimainkan dalam satu pertandingan pun karena posisi bek tengah Italia masih ditempati pemain yang lebih berpengalaman, termasuk Gaetano Scirea. Meski demikian, Baresi tetap berhak atas medali setelah Italia mengalahkan Jerman Barat 3-1 dalam final di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid.
Pengalaman mengikuti turnamen bersama para pemain senior menjadi bekal penting bagi perkembangan kariernya. Tidak lama setelah Piala Dunia, Baresi melakukan debut bersama tim nasional senior Italia dalam pertandingan kualifikasi Piala Eropa menghadapi Rumania pada Desember 1982.
Italia 1990, Menjadi Pemimpin Pertahanan Azzurri
Baresi tidak dibawa Bearzot ke Piala Dunia 1986 di Meksiko. Namun, empat tahun kemudian, perannya berubah total ketika Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1990.
Ia menjadi poros pertahanan Azzurri dan tampil dalam seluruh tujuh pertandingan. Bersama Baresi, Italia membukukan lima laga tanpa kebobolan secara beruntun dan hanya kemasukan dua gol sepanjang turnamen.
Langkah Italia menuju final terhenti setelah kalah lewat adu penalti dari Argentina pada semifinal. Azzurri kemudian menaklukkan Inggris 2-1 dalam perebutan tempat ketiga, membuat Baresi mengakhiri turnamen dengan medali perunggu.
Penampilannya selama Piala Dunia 1990 juga mengantarkannya masuk dalam tim terbaik turnamen. Ia semakin dikenal sebagai bek dengan kemampuan membaca permainan, mengatur garis pertahanan, sekaligus memulai serangan dari area sendiri.

Amerika Serikat 1994, Kembali dari Operasi untuk Bermain di Final
Piala Dunia 1994 menjadi perjalanan paling emosional dalam karier internasional Baresi. Berstatus kapten Italia, ia mengalami cedera meniskus lutut ketika menghadapi Norwegia pada pertandingan kedua fase grup.
Baresi kemudian menjalani operasi dan sempat diperkirakan tidak bisa bermain lagi selama turnamen. Namun, ia menjalani pemulihan cepat dan kembali ke lapangan ketika Italia menghadapi Brasil dalam final di Rose Bowl, Pasadena.
Hanya 25 hari setelah menjalani operasi, Baresi sanggup bermain penuh selama 120 menit. Ia membantu Italia menahan lini serang Brasil yang diperkuat Romario dan Bebeto hingga pertandingan berakhir tanpa gol.
"Dunia saya seakan runtuh saat pertandingan melawan Norwegia," kenang Baresi beberapa tahun lalu. “Pelatih datang menemui saya di kamar setelah operasi dan meminta saya tetap bertahan bersama tim. Saya tidak pernah berpikir bisa bermain lagi di turnamen itu. Saya menjalani proses pemulihan dan latihan, sambil menyaksikan rekan-rekan setim terus berjuang. Setiap pertandingan adalah laga hidup-mati. Tim itu menjalani Piala Dunia yang luar biasa,” tuturnya.
Final tersebut akhirnya ditentukan lewat adu penalti. Baresi menjadi penendang pertama Italia, tetapi bola sepakannya melambung di atas gawang. Brasil memenangi adu penalti dengan skor 3-2 dan Italia harus puas membawa pulang medali perak.
Meski gagal dalam adu penalti, penampilan Baresi pada laga itu tetap dikenang sebagai salah satu pertunjukan bertahan terbaik dalam sejarah final Piala Dunia. Ia mampu mengawal pertahanan Italia dalam kondisi baru pulih dari operasi dan menghadapi panasnya cuaca Pasadena selama dua jam pertandingan.
Simbol Kesetiaan AC Milan
Selain prestasinya bersama Italia, Baresi menjadi simbol kesetiaan di level klub. Ia menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama AC Milan selama 20 musim dan membukukan 719 pertandingan resmi.
Baresi membantu Rossoneri meraih enam gelar Serie A, tiga Piala Champions Eropa atau Liga Champions, dua Piala Interkontinental, serta empat Piala Super Italia. Ia juga menjadi kapten Milan selama 15 musim.
Setelah Baresi pensiun pada 1997, AC Milan mengistirahatkan nomor punggung 6 sebagai penghormatan terhadap kontribusinya. Ia menjadi pemain pertama dalam sejarah klub yang mendapatkan penghormatan tersebut.
Bersama tim nasional, Baresi mencatatkan 81 penampilan dan satu gol. FIGC juga memasukkannya ke dalam Hall of Fame Sepak Bola Italia pada 2013.
Presiden FIGC Giovanni Malagò mengenang Baresi sebagai pemain yang menunjukkan kesetiaan luar biasa sepanjang kariernya. FIGC juga berencana memberikan penghormatan dalam pertandingan-pertandingan tim nasional Italia berikutnya.
Kepergian Baresi bukan hanya menjadi kehilangan bagi Italia dan AC Milan. Ia meninggalkan teladan tentang kepemimpinan, ketangguhan, dan kesetiaan, serta catatan tiga podium Piala Dunia yang membuat namanya tetap hidup dalam sejarah sepak bola.
Tinggalkan Komentar
Komentar