Periskop.id - Pelatih AC Milan Ruben Amorim menegaskan tidak akan membawa Rossoneri terpaku pada satu formasi atau sistem permainan. Menjelang laga pramusim menghadapi Chelsea di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (8/8), Amorim justru ingin membangun tim yang mampu mengubah cara bermain sesuai situasi pertandingan.
Pernyataan itu menarik karena Amorim selama ini lekat dengan skema tiga bek. Bahkan dalam dua pertandingan pramusim Milan melawan Celtic dan Inter Milan, pelatih asal Portugal tersebut sama-sama menurunkan tim dengan formasi awal 3-4-2-1. Namun, ia menegaskan struktur dasar itu bukan berarti Milan harus bermain secara kaku.
"Hal pertama adalah kami tidak memiliki sistem yang kaku. Kami akan menggunakan berbagai cara bermain yang berbeda," kata Ruben Amorim dalam konferensi pers di SUGBK, Jakarta, Jumat (7/8).
Menurut Amorim, sepak bola modern tidak cukup hanya mengandalkan satu formasi. Cara membangun serangan, menekan lawan hingga mengubah posisi pemain dapat berkembang sepanjang pertandingan. "Jadi, saat ini bukan soal sistem, melainkan bagaimana kami memainkan permainan kami," tuturnya.
Milan Masih Cari Bentuk Terbaik
Amorim resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala AC Milan pada 16 Juni 2026 setelah sebelumnya menangani Manchester United dan Sporting CP. Di Sporting, ia membawa klub meraih dua gelar liga Portugal, dua Piala Liga dan satu Piala Super. Milan menunjuknya untuk membuka siklus baru setelah klub ingin kembali bersaing memperebutkan trofi.
Dalam proses membangun tim, Amorim menilai Milan sudah memperlihatkan perkembangan dibandingkan pertandingan pramusim pertama menghadapi Celtic.
Rossoneri membuka pramusim dengan hasil imbang 2-2 melawan Celtic di Glasgow pada 25 Juli. Milan sempat tertinggal dua gol sebelum Francesco Camarda mencetak dua gol dalam delapan menit pada babak kedua untuk menyamakan kedudukan. Laman resmi klub menilai pola build-up dan permainan tanpa bola mulai memperlihatkan hasil dari latihan yang dijalani tim.
Perkembangan berikutnya terlihat ketika Milan bermain imbang 1-1 melawan Inter Milan di Optus Stadium, Perth, pada Rabu (5/8). Federico Dimarco membawa Inter unggul pada menit ke-52 sebelum Christopher Nkunku menyamakan skor melalui penalti pada menit ke-84.
Menariknya, laporan resmi AC Milan mencatat Amorim melakukan perubahan besar pada menit ke-63 dengan memasukkan sejumlah pemain, termasuk Luka Modric, Rafael Leao dan Goncalo Ramos. Perubahan tersebut membantu Milan kembali mendapatkan momentum hingga akhirnya menyamakan kedudukan. Bagi Amorim, variasi semacam itulah yang ingin terus dikembangkan.
Kondisi Fisik Jadi Tantangan
Masalahnya, fleksibilitas taktik membutuhkan kondisi fisik pemain yang memadai. Amorim ingin Milan mampu bermain dengan intensitas tinggi, mulai dari melakukan sprint, memberikan tekanan kepada lawan hingga mempertahankan energi sepanjang pertandingan.
"Kami juga terus berlatih pada saat yang sama, dan saya rasa tantangan terbesar saat ini adalah membangun kondisi fisik yang kami butuhkan untuk memainkan gaya permainan tersebut," ucapnya.
Amorim mengakui proses tersebut belum bisa berjalan sempurna karena tim baru melewati dua pertandingan pramusim. Adaptasi pemain terhadap pola permainan baru juga membutuhkan waktu.
Menurutnya, Milan masih jauh dari bentuk ideal dan akan terus berkembang menuju pertandingan resmi pertama musim 2026/2027. Ia menilai kemenangan juga penting agar tim memperoleh waktu dan kepercayaan diri untuk melanjutkan proses pembangunan permainan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan target yang disampaikan Amorim ketika pertama kali diperkenalkan Milan. Saat itu, ia menyebut kualitas permainan menjadi bagian penting karena ketatnya Serie A. Ia ingin Rossoneri mampu menguasai pertandingan sekaligus kembali meraih kemenangan secara konsisten.
Milan Datang untuk Milanisti Indonesia
Laga menghadapi Chelsea juga memiliki arti lain bagi Amorim. Ia menyadari Indonesia mempunyai basis pendukung AC Milan yang besar dan melihat pertandingan di Jakarta sebagai kesempatan untuk membalas dukungan Milanisti.
"Saya tahu bahwa klub penggemar Milan di sini (Indonesia) adalah salah satu yang terbesar di dunia. Jadi, kami ingin membalas semua dukungan yang mereka berikan kepada kami," kata Amorim.
Menurut dia, atmosfer suporter menjadi salah satu hal yang membuat kunjungan Milan ke Indonesia terasa istimewa. "Saya tahu ini adalah sebuah pesta setiap kali Milan bermain," serunya.
AC Milan sendiri telah mengonfirmasi Jakarta sebagai salah satu tujuan tur pramusim 2026 sejak April. Pertandingan melawan Chelsea dijadwalkan berlangsung di SUGBK, Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB dan menjadi lanjutan tur Milan setelah menghadapi Inter di Australia. Chelsea juga mencantumkan laga tersebut dalam jadwal resmi tur pramusim mereka.
Pertandingan yang dikemas dalam Indonesia Super Cup 2026 itu mendapat dukungan pemerintah. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menilai, kedatangan dua klub besar Eropa dapat memberikan efek ekonomi melalui sektor penginapan, transportasi, tiket dan pajak sekaligus menjadi promosi Indonesia di tingkat internasional.
"Kami pastikan kami mendukung (pertandingan Chelsea vs AC Milan), ya apa pun yang kita bisa, tentu disinergikan dengan segala keterbatasan," kata Erick.
Promotor Nine Sport sebelumnya menyebut pertandingan Chelsea kontra Milan akan disiarkan ke sekitar 70 negara. Sejumlah pemain bintang kedua klub juga diproyeksikan hadir di Jakarta.
Bagi Amorim, pertandingan di GBK tetap menjadi bagian dari proses yang lebih besar. Selain menghibur penggemar Indonesia, duel menghadapi Chelsea menjadi kesempatan berikutnya untuk menguji apakah Milan mampu menjalankan permainan fleksibel yang sedang ia bangun sebelum memasuki kompetisi resmi.
"Saya rasa rahasianya adalah memiliki gairah yang besar dan pelatih-pelatih yang baik untuk mengajarkan sepak bola dengan cara yang benar," tandasnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar