Artikel

Jangan Tunggu Warga Sesak, Riset Ungkap Bahaya PM2.5 dari Asap Karhutla

Riset ungkap PM2.5 dari asap karhutla bisa meningkatkan risiko rawat inap pernapasan, terutama anak, remaja, dan lansia.

3 hari yang lalu · 4 mnt baca
karhutla
Sejumlah petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan. dok. Humas Bakom RI.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya membuat langit buram atau mata perih. Sebuah studi yang terbit di Nature Sustainability pada 2025 menunjukkan bahwa paparan partikel halus dari asap karhutla berkaitan dengan meningkatnya risiko rawat inap akibat berbagai penyakit pernapasan.

Studi berjudul Respiratory risks from wildfire specific PM2.5 across multiple countries and territories ini menganalisis data dari 1.052 komunitas di Australia, Brasil, Kanada, Chile, Selandia Baru, Vietnam, Thailand, dan Taiwan sepanjang 2000 sampai 2019. Fokus utama penelitian ini adalah PM2.5 yang secara spesifik berasal dari karhutla.

PM2.5 adalah partikel polusi udara berukuran sangat kecil, sekitar 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Karena ukurannya sangat halus, partikel ini dapat terhirup masuk ke saluran napas hingga bagian paru yang lebih dalam. Dalam konteks karhutla, PM2.5 berasal dari asap pembakaran biomassa seperti hutan, semak, gambut, atau lahan.

Kenaikan Kecil PM2.5 Tetap Berdampak

Peneliti menemukan bahwa setiap kenaikan 1 mikrogram per meter kubik PM2.5 spesifik karhutla berkaitan dengan peningkatan risiko rawat inap akibat penyakit pernapasan. Kenaikannya tampak kecil secara persentase, tetapi dampaknya bisa besar jika terjadi pada populasi luas dan berlangsung berulang.

Risiko rawat inap untuk seluruh penyakit pernapasan meningkat 0,36%. Untuk asma, risikonya naik 0,48%. Untuk penyakit paru obstruktif kronis, naik 0,38%. Untuk infeksi saluran pernapasan atas akut, naik 0,42%. Untuk influenza, kenaikannya paling tinggi, yaitu 0,79%. Sementara untuk pneumonia, risikonya naik 0,36%.

Angka ini menunjukkan bahwa asap karhutla tidak hanya berbahaya bagi satu jenis penyakit. Dampaknya menyebar ke berbagai gangguan pernapasan, mulai dari asma, infeksi, flu, pneumonia, hingga penyakit paru kronis.

Anak, Remaja, dan Lansia Lebih Rentan

Studi ini menemukan risiko yang lebih tinggi pada kelompok usia tertentu, terutama anak dan remaja berusia 19 tahun ke bawah serta orang berusia 60 tahun ke atas. Kelompok ini lebih rentan karena faktor biologis dan aktivitas harian.

Pada anak dan remaja, sistem pertahanan tubuh dan saluran pernapasan masih berkembang. Mereka juga cenderung lebih banyak beraktivitas di luar ruangan, sehingga peluang menghirup polusi udara bisa lebih besar. Sementara pada lansia, kondisi paru dan daya tahan tubuh umumnya sudah menurun, sehingga paparan asap dapat lebih mudah memicu gangguan kesehatan.

Risiko juga lebih tinggi pada masyarakat berpendapatan rendah dan komunitas yang sehari-harinya sudah tinggal di wilayah dengan polusi PM2.5 tinggi dari sumber non karhutla. Artinya, orang yang sudah lama hidup di lingkungan berpolusi bisa menjadi lebih rentan ketika asap karhutla datang.

PM2.5 dari Karhutla Dinilai Lebih Berisiko

Salah satu temuan penting studi ini adalah PM2.5 dari karhutla tampak menimbulkan risiko rawat inap yang lebih besar dibandingkan PM2.5 dari sumber lain. Sumber lain ini bisa mencakup polusi kendaraan, industri, atau aktivitas pembakaran yang bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan.

Peneliti menyebut PM2.5 dari karhutla dapat memiliki karakteristik yang berbeda. Partikelnya bisa lebih kecil dan mengandung komponen yang memicu oksidasi serta peradangan. Oksidasi dalam konteks ini berarti proses kimia yang dapat merusak sel tubuh. Sementara peradangan adalah respons tubuh terhadap gangguan atau iritasi yang dalam jangka panjang bisa memperburuk kondisi saluran napas.

Studi ini juga menemukan bahwa PM2.5 spesifik karhutla berkontribusi terhadap 42,4% rawat inap penyakit pernapasan yang berkaitan dengan PM2.5. Kontribusi ini bahkan dominan di Thailand.

Kenapa Influenza Paling Menonjol?

Dalam hasil studi, influenza menjadi salah satu penyakit dengan kenaikan risiko rawat inap paling tinggi terkait PM2.5 karhutla. Peneliti menjelaskan bahwa mekanismenya belum sepenuhnya pasti, tetapi ada beberapa kemungkinan.

PM2.5 dapat menjadi media yang membantu penyebaran virus atau memengaruhi cara tubuh merespons infeksi. Studi ini menyebut hampir separuh partikel PM2.5 yang terhirup bisa mencapai epitel alveolus, yaitu bagian dalam paru yang menjadi salah satu lokasi penting infeksi influenza.

Selain itu, paparan PM2.5 dapat mengubah respons antivirus pada sel saluran napas. Akibatnya, tubuh bisa menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Karakter PM2.5 dari karhutla yang bisa berpindah jauh dan memiliki komposisi kimia tertentu diduga dapat memperkuat risiko tersebut.

Pesan untuk Kebijakan Kesehatan Publik

Temuan studi ini memberi pesan jelas bahwa karhutla perlu dilihat sebagai isu kesehatan publik, bukan hanya persoalan lingkungan. Di tengah iklim yang semakin panas, kebakaran hutan dan lahan diperkirakan dapat menjadi lebih sering dan lebih parah.

Peneliti menilai pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat strategi mitigasi dan adaptasi. Langkah yang disarankan mencakup peningkatan kesadaran soal risiko kesehatan asap karhutla, pengendalian emisi, pemantauan kualitas udara secara ketat, serta kesiapsiagaan komunitas.

Intervensi juga perlu diprioritaskan untuk kelompok yang paling rentan, terutama anak anak, remaja, lansia, masyarakat berpendapatan rendah, serta komunitas yang sudah lama hidup di wilayah berpolusi tinggi. Pada akhirnya, asap karhutla bukan sekadar gangguan musiman. Bagi banyak orang, terutama kelompok rentan, asap bisa berarti risiko lebih besar untuk masuk rumah sakit.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.