Bisnis

Dari Sel Tahanan ke Mesin Jahit: Kisah Eks Napi Garut Bangun Usaha Konveksi

Eks napi Lapas Garut, Fajar, rintis usaha konveksi rumahan bermodal mesin jahit bekas setelah bebas bersyarat, dari sempat depresi kini pimpin tim jahit.

1 minggu yang lalu · 8 mnt baca
Eks warga binaan, Fajar yang merintis usaha konveksi
Eks warga binaan, Fajar yang merintis usaha konveksi. Foto istimewa
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Sebuah mesin jahit bekas seharga Rp1,5 juta menjadi modal awal Fajar mewujudkan mimpinya punya usaha konveksi sendiri. Dua bulan setelah bebas bersyarat dari Lapas Kelas II Garut, Jawa Barat, ia mulai membangun kembali hidupnya dengan keahlian membuat produk konveksi yang ia pelajari selama menjalani masa tahanan.

Mesin jahit itu merupakan pemberian mertuanya. Siang harinya, Fajar bekerja di usaha konveksi milik orang lain. Baru setelah Magrib hingga sekitar pukul 22.00 WIB, mesin jahit di rumahnya kembali menyala untuk mengerjakan pesanan-pesanan kecil yang ia terima secara pribadi.

"Untuk sekarang saya sehari-hari kerja di konveksi, jadi orderan jahit, permak kalau di rumah itu saya kerjakan sesudah saya selesai kerja yang untuk konveksi, misalnya setelah magrib sampai jam 22.00 WIB," kata Fajar saat ditemui wartawan di halaman depan Lapas Kelas II Garut, usai melapor untuk pembebasan bersyaratnya.

Usaha itu bermula dari permintaan seorang saudara yang ingin dibuatkan satu setel almamater lengkap dengan rompi dan celana. Untuk pesanan pertamanya itu, Fajar hanya mematok harga Rp150 ribu.

"Namanya kasih harga ke saudara, ya bingung juga karena saya sedang merintis. Saya enggak matok harga, yang penting orang-orang tahu bagaimana kualitas jahitan saya," ujarnya.

Dari situ, pesanan lain mulai berdatangan satu demi satu. Ada yang minta pakaiannya dipotong, ada pula yang perlu dipermak. Meski nilainya kecil, hanya berkisar Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per potong, bagi Fajar setiap pakaian yang masuk ke rumahnya adalah peluang untuk menambah pelanggan.

Gabungan penghasilan dari bekerja di konveksi orang lain dan usaha rumahannya sendiri membuat Fajar mengantongi hampir Rp4 juta pada bulan pertama setelah bebas. Memasuki bulan kedua, pendapatannya sempat menembus lebih dari Rp1 juta dalam sepekan, dan sekitar Rp900 ribu pada pekan berikutnya.

"Kalau pendapatan saya kerja di konveksi sama terima orderan jahit dan permak di rumah mungkin hampir Rp4 juta dapatlah sebulan pertama kemarin. Bulan kedua ini ada yang seminggu dapat sejuta lebih, minggu berikutnya Rp900 ribu," ucap Fajar.

Uang hasil kerjanya itu belum banyak dipakai untuk keperluan lain. Fajar lebih memilih menyisihkannya sedikit demi sedikit untuk membeli perlengkapan menjahit tambahan, seperti penggaris pola dan benang.

"Rencana jangka pendek narik pelanggan dulu, branding kualitas jahitan saya dulu. Ini saya masih kumpulin keuntungan buat modal, beli penggaris pola, benang-benang," tuturnya.

Tak Bisa Tidur Nyenyak, Dihantui Ketakutan

Fajar mulai menjalani masa tahanannya di Lapas Garut sejak Oktober 2021, setelah sebelumnya ditahan di Rutan Garut. Ia dijerat kasus terkait Undang-Undang Perlindungan Anak dan divonis 10 tahun penjara, ditambah denda Rp50 juta subsider enam bulan kurungan.

Di awal masa tahanan, Fajar mengaku sempat mengalami depresi akibat bayangan-bayangan buruk tentang kehidupan di dalam lapas. Bayangan itu banyak terbentuk dari tontonan televisi dan film, serta cerita-cerita orang lain soal kerasnya kehidupan penjara.

"Jujur sih kalau dari bayangan pertama kali masuk lapas kayak suram lah gitu. Kayak lihat yang di TV-TV kayak gitu kan, yang di film-film, bayangannya kekerasan lah, di-bully sesama warga binaan gitu kan. Awalnya saat mapenaling (masa pengenalan lingkungan) dua minggu itu saya tidur paling cuma hitungan sejam, kebangun, tidur sejam lagi, kebangun lagi, penuh was-was. Karena kan sebelumnya juga ada eks residivis yang nakut-nakutin, misalkan di lapas gini-gini-gini," terang Fajar.

Rasa cemas itu berangsur mereda seiring ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan di dalam lapas. Dua tahun pertama masa tahanannya banyak dihabiskan untuk mengikuti kegiatan keagamaan sebagai santri.

"Tapi ternyata yang terjadi, yang sudah saya alami, tidak seperti itu. Ini pengalaman pribadi saya, yang saya jalani, yang saya alami itu di luar ekspektasi saya yang saya bayangkan. Ternyata sangat dimanusiakan," cerita Fajar.

Saat itu, ia mengaku belum terpikir untuk langsung ikut program bimbingan kerja. "Mungkin karena saya ingin bertobat dulu," imbuhnya.

Baru setelah dua tahun, masuk pesanan untuk bengkel konveksi Lapas Garut yang akhirnya membawa Fajar kembali menekuni keahliannya, yaitu menjahit. Sebelum tersangkut kasus hukum, pria asal Pameungpeuk ini sempat bekerja di rumah jahit milik kakaknya di Cikajang.

Kemampuan itu diketahui oleh Sopian, sesama eks warga binaan yang kini berstatus honorer di bengkel konveksi Lapas Garut sekaligus tengah merintis usaha konveksi rumahannya sendiri, sama seperti Fajar.

"Dulu akhirnya ke bimbingan kerja konveksi karena ada yang ngajak, karena dulu itu dapat pesanan kaos kampanye, saya diajak Mang Sopian, mantan di sini juga, yang sekarang punya konveksi di luar. Ikutlah dari situ, lanjut terus di bimbingan kerja. Mang Sopian tahu background saya bisa jahit karena kita suka sharing tentang kegiatan sebelum masuk lapas, apa pekerjaannya, di mana," terang Fajar.

Bukan Cuma Belajar Menjahit

Awalnya, Fajar hanya ditempatkan di divisi jahit bengkel konveksi Lapas Garut. Namun, kebutuhan produksi dan proses regenerasi tim membuatnya "dipaksa" mempelajari lebih banyak keterampilan. Ketika napi yang sebelumnya memimpin tim konveksi selesai menjalani masa tahanan, Fajar didorong untuk menguasai pembuatan pola, pengukuran, hingga pemotongan kain.

"Di sini saya enggak cuma jahit. Karena 'dipaksa' harus mengasah skill, saya 'dipaksa' harus bisa motong kainnya, bisa buat pola berbagai macam pakaian. Kan memang dari dulu turun-temurun ada leader-nya juga, pas saya pertama masuk ke bimker konveksi, leader-nya itu WNA asal China, Pak Chan. Karena dia pulang, saya 'dipaksa' harus bisa membuat pola pakaian, bisa potong, bisa ngukur," jelas dia.

Fajar menegaskan, kata "dipaksa" yang ia maksud bukan berarti ada hukuman atau tindak intimidasi dari petugas lapas, melainkan sekadar gambaran dorongan kuat agar dirinya tidak berhenti hanya pada kemampuan menjahit saja.

Ia membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk benar-benar menguasai teknik membuat pola. Menurutnya, kemampuan ini justru menjadi salah satu bagian paling penting dalam keseluruhan proses produksi pakaian.

Tanggung jawab Fajar pun kian bertambah. Ia dipercaya memimpin delapan warga binaan lain di bengkel konveksi. Di titik inilah ia mengaku belajar hal baru di luar urusan jahit-menjahit, yaitu soal kepemimpinan.

"Teman-teman napi yang saya pimpin di bimker konveksi ada delapan orang. Kalau dulu di rumah jahit kakak, anak buahnya cuma tiga sampai empat orang. Jadi di sini selain kemampuan konveksi terasah, kemampuan leadership dan koordinasi juga diasah," kata Fajar.

Ia dituntut memahami kemampuan masing-masing anggota timnya, menentukan siapa yang mengerjakan pola, menjahit, atau mengukur, sekaligus menjaga agar target produksi dan kualitas tetap terpenuhi. Salah satu tantangan terberatnya datang saat timnya harus menuntaskan pesanan 1.500 tas serut hanya dalam tiga minggu.

"Mungkin kalau untuk tantangan ya karena dipercaya juga untuk ngejar target, pertama. Ditambah harus menjaga kualitas juga. Sambil saya kasih contoh juga kepada teman-teman. Saya harus tahu skill teman-teman saya sudah sampai mana. Jadi bagian pola ke siapa, bagian jahit ke siapa, bagian ukur ke siapa, bagian ini ke siapa," terang Fajar.

Demi mengejar target itu, Fajar menyampaikan usulan dari teman-temannya kepada pihak lapas agar tim diizinkan lembur dan menginap di bengkel. Izin pun turun. Makanan diantarkan langsung ke tempat kerja sehingga mereka tak perlu bolak-balik ke blok selama proses pengerjaan. Pesanan besar itu akhirnya rampung tepat waktu.

"Alhamdulillah atas kerja sama dengan teman-teman sama Pak Asep, lalu saya izin ke Kalapas juga kan minta supaya bisa tidur di bengkel konveksi, alhamdulillah beres. Jadi harus taktis, teman-teman juga menyarankan minta lembur agar mencapai target, ya saya bawa aspirasi teman-teman ke Pak Kalapas. Jadi kami nggak pulang ke blok selama ngejar pesanan itu. Waktu makan juga makanan diantar ke konveksi," cerita Fajar.

Pengalaman memimpin delapan orang juga mengajarkan Fajar bahwa mengejar target tak selalu berarti memaksa semua orang bekerja tanpa henti. Jika ada anggota timnya yang terlihat jenuh atau bosan, ia akan membiarkan yang bersangkutan beristirahat sejenak atau mencoba mempelajari hal baru lain di bengkel konveksi.

"Kalau ada di tim yang bosan, stres, paling strategi saya suruh istirahat dulu. Atau ganti proses, misalnya dari menjahit jadi membuat pola supaya tidak jenuh. Kalau ganti proses kan ada tantangan baru," tuturnya.

Bingung Menghadapi Kebebasan

Menjelang masa bebas bersyaratnya, persoalan baru justru muncul bagi Fajar. Ia mengaku berulang kali dilanda kebingungan memikirkan apa yang harus dilakukannya begitu kembali ke tengah masyarakat.

"Menghirup udara bebas, jujur rasanya masih bingung karena harus adaptasi lagi dengan dunia luar. Saya selama seminggu mungkin enggak ngapa-ngapain," katanya.

Di tengah kebingungan itu, ia teringat sosok Mubarok, pelaku UMKM yang menjalin kerja sama dengan Lapas Garut. Mubarok sebenarnya datang ke lapas sebagai konsultan budi daya ulat maggot, namun belakangan juga tertarik dengan unit UMKM konveksi Lapas Garut.

Kepala Seksi Bimbingan Kerja Lapas Garut, Asep, menuturkan bahwa Mubarok kemudian mengenal langsung kemampuan Fajar. Mereka bertiga pun beberapa kali berdiskusi soal peluang mengembangkan bisnis konveksi bersama.

"Fajar ini enggak sekadar dipekerjakan (di bengkel konveksi Lapas Garut), tapi kita ajak diskusi proyeksi mengembangkan bisnis konveksi," kata Asep.

Mubarok sendiri punya rencana membangun usaha konveksi dengan produksi dan merek miliknya sendiri. Jika usaha itu berkembang, ia berharap bisa membuka lapangan kerja bagi para mantan warga binaan, terutama yang memiliki keterampilan di bidang konveksi.

"Jadi niatnya Mubarok ini bagus karena dia mau usahanya menjadi wadah lapangan kerja untuk eks napi, terkhusus yang dari konveksi," ucap Asep, yang telah 21 tahun bertugas di Lapas Garut.

Di penghujung perbincangan, Fajar kembali menyebut sosok Asep, yang menurutnya bukan sekadar petugas lapas biasa, melainkan sosok yang ia anggap seperti "ayah" bagi para napi di bengkel konveksi.

"Yang paling dekat petugas lapas di sini sama saya ya Pak Asep, karena dia yang sering sharing sama anak-anak soal kegiatan di dalam, kalau butuh apa-apa misalnya bahan dan alat-alat, kita ngomongnya sama Pak Asep. Harapan saya ke depannya tempat bimbingan kerja konveksi di Lapas Garut bisa semakin banyak alatnya, bisa lebih modern alat-alatnya," pungkas Fajar.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai narapidana dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.