Periskop.id - Mendengar pasangan dewasa berbicara dengan gaya bahasa manja layaknya kepada bayi mungkin sering membuat sebagian orang merasa geli atau heran. Namun, kebiasaan unik yang sering disebut sebagai babytalk ini ternyata memiliki alasan psikologis yang sangat mendalam.
Fenomena ini bukan sekadar tingkah konyol tanpa arti, melainkan bentuk komunikasi emosional yang wajar dalam sebuah hubungan yang dekat.
Sebuah riset menarik berjudul Babytalk as A Communication of Intimate Attachment: An Initial Study in Adult Romances and Friendships yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Personal Relationships pada 1996 berhasil mengungkap fakta di balik kebiasaan ini.
Penelitian tersebut menjadi studi awal yang membuktikan secara empiris bahwa gaya bahasa manja tak hanya digunakan oleh ibu kepada bayinya, tetapi juga lazim dipakai dalam hubungan asmara maupun pertemanan orang dewasa.
Mengenal Konsep Babytalk
Dalam dunia psikologi, babytalk dikategorikan sebagai salah satu speech register, yaitu variasi gaya bahasa khusus yang digunakan seseorang dalam situasi atau konteks hubungan tertentu.
Ciri khasnya terlihat dari perubahan nada suara yang menjadi lebih tinggi, pemilihan kata-kata yang lembut, hingga penggunaan gaya bahasa yang terkesan menggemaskan dan kekanakkanakan.
Para peneliti menemukan bahwa benang merah utama dari penggunaan babytalk adalah intimate attachment atau kelekatan emosional yang intim.
Dalam teori kelekatan, manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa aman, dicintai, dan terhubung secara batin dengan orang lain.
Gaya bahasa manja ini hadir sebagai jembatan untuk mengekspresikan sekaligus mempererat rasa aman dan kasih sayang tersebut secara lebih leluasa tanpa rasa canggung.
Mengapa Orang Dewasa Menggunakan Gaya Babytalk?
Berdasarkan hasil temuan dalam studi tersebut, ada beberapa alasan utama mengapa seseorang memilih untuk ber-babytalk dengan pasangannya.
Motivasi terbesar yang mendorong timbulnya kebiasaan ini adalah keinginan untuk menyampaikan rasa kasih sayang dan suasana bermain yang menyenangkan (playfulness).
Selain sebagai bentuk ungkapan kasih sayang, gaya bahasa manja ini juga berfungsi sebagai sarana untuk meruntuhkan tembok pertahanan diri atau yang dikenal dengan istilah willing vulnerability. Dengan berbicara manja, seseorang secara tak langsung menunjukkan rasa percaya yang tinggi kepada pasangannya. Kebiasaan ini membantu seseorang untuk melepaskan topeng ketegasan mereka sehari-hari dan berani menampilkan sisi lembut yang lebih jujur di depan orang tersayang.
Timbal Balik dan Pengaruhnya terhadap Kualitas Hubungan
Satu hal yang menarik dari temuan riset ini adalah tingginya tingkat timbal balik dalam penggunaan babytalk.
Tindakan pasangan yang merespons atau ikut membalas dengan gaya bahasa manja menjadi pemicu paling kuat bagi seseorang untuk terus menggunakannya. Ketika kedua belah pihak saling menyambut gaya komunikasi ini, hubungan emosional yang terjalin justru akan terasa semakin solid dan harmonis.
Frekuensi penggunaan gaya bahasa manja ini biasanya akan mencapai puncaknya saat pasangan sedang gencar-gencarnya membangun ikatan keintiman di awal hubungan.
Begitu ikatan emosional sudah terbentuk dengan kuat dan stabil, penggunaan babytalk perlahan akan sedikit berkurang dan beralih fungsi menjadi sarana pemeliharaan hubungan yang santai.
Pada akhirnya, gaya bahasa manja terbukti menjadi sinyal positif yang menandakan bahwa suatu hubungan berada dalam kondisi yang aman dan penuh keterbukaan.
Tinggalkan Komentar
Komentar