Postpartum Rage: Mengapa Ibu Bisa Lebih Mudah Marah Setelah Melahirkan?
Postpartum rage membuat ibu mengalami kemarahan dan iritabilitas yang intens setelah melahirkan. Kenali tanda, penyebab, dan kapan perlu mencari bantuan.

Periskop.id - Sejumlah ibu mengalami perubahan emosi setelah melahirkan, termasuk lebih mudah marah dan tersulut. Kemarahan itu bisa muncul dalam bentuk keinginan berteriak, membanting barang, atau bereaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil.
Kondisi tersebut dikenal dengan istilah postpartum rage, yakni episode kemarahan atau iritabilitas yang intens pada masa setelah melahirkan.
Perubahan emosi setelah persalinan sebenarnya cukup kompleks. Kurang tidur, kelelahan, perubahan hormon, hingga minimnya dukungan dari lingkungan dapat memengaruhi kondisi emosional ibu.
Apa Itu Postpartum Rage?
Postpartum rage menggambarkan episode kemarahan, iritabilitas, atau ledakan emosi yang kuat pada masa pascapersalinan. Menurut Cleveland Clinic, kondisi ini dapat berupa kemarahan, agresi, dan agitasi yang muncul pada minggu atau bulan pertama setelah melahirkan. Kondisi tersebut juga dapat muncul bersamaan dengan depresi atau kecemasan.
Postpartum rage bukan diagnosis gangguan mental tersendiri. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman kemarahan yang intens pada ibu setelah melahirkan.
Studi Christine H. K. Ou dan tim dalam jurnal Qualitative Health Research menunjukkan bahwa kemarahan pascapersalinan masih minim diteliti, meski dampaknya dirasakan oleh ibu. Dalam penelitian terhadap 20 ibu, kemarahan berkaitan dengan kelelahan, stres, kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, serta pola tidur bayi yang tidak menentu.
Sementara itu, ulasan dalam jurnal Birth menunjukkan kemarahan pascapersalinan dapat diarahkan kepada diri sendiri, pasangan, maupun anak dan berpotensi memengaruhi hubungan dalam keluarga.
Mudah marah setelah melahirkan tidak otomatis berarti seorang ibu merupakan orang tua yang buruk. Namun, frekuensi dan intensitas kemarahan perlu diperhatikan, terutama jika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau hubungan dengan keluarga.
Tanda-Tanda Postpartum Rage
Pengalaman setiap ibu dapat berbeda. Namun, beberapa kondisi berikut dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan:
Mudah tersulut: Hal-hal kecil yang biasanya tidak mengganggu tiba-tiba memicu kemarahan.
Kemarahan intens: Rasa marah muncul sangat kuat dan sulit dikendalikan.
Luapan verbal: Sering berteriak atau berbicara dengan nada tinggi kepada pasangan atau anak.
Reaksi fisik: Jantung berdebar, otot menegang, tubuh gemetar, atau wajah terasa panas ketika marah.
Kebutuhan dasar terabaikan: Mudah marah ketika tidak mendapat cukup waktu untuk tidur, makan, mandi, atau beristirahat.
Emosi menumpuk: Kekesalan terus dipendam hingga akhirnya meledak.
Rasa bersalah: Muncul penyesalan setelah kemarahan mereda.
Frustrasi terhadap lingkungan: Merasa pasangan atau keluarga tidak cukup membantu.
Riset mengenai mom rage juga menemukan bahwa sebagian ibu mengalami gambaran mental atau intrusive thoughts mengenai tindakan impulsif yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.
Penyebab Ibu Mudah Marah Setelah Melahirkan
Kemarahan setelah melahirkan dapat dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berkaitan, antara lain:
Kurang tidur: Pola tidur yang berubah dan tidak teratur dapat memengaruhi kemampuan mengatur emosi.
Kelelahan fisik dan mental: Tubuh masih dalam proses pemulihan setelah persalinan, sementara perawatan bayi berlangsung sepanjang hari.
Kebutuhan dasar tidak terpenuhi: Waktu untuk makan, mandi, tidur, atau beristirahat sering kali terabaikan.
Tuntutan menjadi ibu: Ekspektasi untuk selalu sabar, penyayang, dan mampu mengurus semuanya dapat menambah tekanan.
Perubahan hormon dan kondisi psikologis: Perubahan setelah persalinan dapat disertai kecemasan atau depresi yang turut memengaruhi suasana hati.
Perbedaan Postpartum Rage, Baby Blues, dan Depresi Postpartum
Ketiga kondisi tersebut dapat memiliki gejala yang beririsan, tetapi terdapat perbedaan pada gejala utamanya.
Baby Blues: Umumnya muncul pada hari-hari awal setelah melahirkan, ditandai mudah menangis, cemas, dan sensitif. Kondisi ini biasanya membaik dalam 1–2 minggu.
Postpartum Rage: Ditandai kemarahan atau iritabilitas yang intens. Kondisi ini dapat muncul sendiri atau bersamaan dengan kecemasan maupun depresi.
Depresi Postpartum: Dapat ditandai kesedihan yang menetap, kehilangan minat, merasa tidak berharga, kesulitan menjalankan aktivitas, hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi.
Karena gejalanya dapat saling tumpang tindih, ibu tidak perlu mencoba menentukan diagnosis sendiri.
Kapan Perlu Mencari Bantuan?
Konsultasi dengan dokter, psikolog, psikiater, atau bidan dapat dipertimbangkan jika kemarahan:
muncul terus-menerus dan semakin sulit dikendalikan;
mulai mengganggu hubungan dengan pasangan atau keluarga;
menghambat aktivitas sehari-hari dan perawatan bayi;
disertai kecemasan, kesedihan yang menetap, atau kehilangan minat;
memunculkan dorongan untuk menyakiti diri sendiri, bayi, atau orang lain.
ACOG merekomendasikan skrining kesehatan mental selama masa kehamilan dan pascapersalinan. Jika muncul dorongan untuk membahayakan diri sendiri atau orang lain, maupun gejala seperti halusinasi, segera cari pertolongan medis darurat.
Langkah yang Bisa Dilakukan
Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi beban fisik dan emosional setelah melahirkan:
Prioritaskan istirahat. Bagikan tugas dengan pasangan atau keluarga agar ibu memiliki waktu untuk tidur dan beristirahat.
Sampaikan kebutuhan secara spesifik. Misalnya, meminta pasangan menjaga bayi ketika ibu mandi, tidur, atau makan.
Kenali pemicu. Perhatikan kondisi yang biasanya membuat emosi meningkat, seperti lapar, kurang tidur, atau terlalu lelah.
Ambil jeda. Saat emosi mulai memuncak dan bayi berada di tempat yang aman, tinggalkan situasi sejenak. Tarik napas dalam, minum air, atau minta orang lain mengambil alih sementara.
Kurangi tuntutan pada diri sendiri. Rumah tidak harus selalu rapi dan semua pekerjaan tidak harus diselesaikan sendiri.
Bicarakan kondisi yang dirasakan. Ceritakan kepada pasangan, keluarga, teman, atau orang lain yang dipercaya.
Cari bantuan profesional. Jika kemarahan semakin sulit dikendalikan atau mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan tenaga profesional dapat membantu.
Mudah marah setelah melahirkan dapat dipengaruhi banyak hal, mulai dari kurang tidur dan kelelahan hingga kondisi psikologis. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kemarahan semakin sering, intens, dan mulai mengganggu ibu maupun orang-orang di sekitarnya.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Ibu, dan Melahirkan dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.