Periskop.id - Empat emiten anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) telah merilis laporan keuangan semester pertama 2026. Tiga di antaranya mencatatkan kenaikan laba, sementara satu lainnya justru mengalami penurunan tajam.

Keempat emiten tersebut adalah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Astra Graphia Tbk (ASGR), dan PT United Tractors Tbk (UNTR). Kinerja yang beragam ini mencerminkan kondisi bisnis Astra di berbagai sektor, mulai dari perkebunan, otomotif, teknologi, hingga pertambangan.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi gambaran awal kinerja keuangan ASII selaku entitas induk Grup Astra, yang hingga kini belum merilis laporan resminya.

Dari keempat emiten, AALI mencatat pertumbuhan laba tertinggi dengan kenaikan 56,5% secara tahunan menjadi Rp1,10 triliun dari sebelumnya Rp702,12 miliar. ASGR menyusul dengan laba Rp138,44 miliar, tumbuh 30,4% YoY dari Rp106,19 miliar. AUTO juga mencatat kenaikan laba 22,6% YoY menjadi Rp1,16 triliun dari Rp938,96 miliar.

Berbeda dengan tiga emiten tersebut, UNTR mengalami tekanan paling besar. Laba bersihnya merosot 88,2% YoY menjadi Rp956,28 miliar dari Rp8,13 triliun pada semester pertama tahun lalu.

AALI membukukan pendapatan Rp15,26 triliun, naik 5,6% YoY dari Rp14,45 triliun. Pertumbuhan ini terutama ditopang penjualan minyak sawit mentah (CPO) beserta produk turunannya yang naik menjadi Rp13,61 triliun dari Rp12,82 triliun.

Secara geografis, Sulawesi menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan Rp8,46 triliun, disusul Kalimantan Rp7,49 triliun dan Sumatra Rp5,67 triliun. Beban umum dan administrasi AALI justru turun menjadi Rp682,9 miliar dari Rp948,6 miliar, sementara beban keuangan susut drastis menjadi hanya Rp1,8 miliar dari Rp97,7 miliar. Efisiensi biaya ini mendorong laba sebelum pajak melonjak 53,8% menjadi Rp1,52 triliun.

AUTO mencatat pendapatan Rp10,85 triliun, naik 13,2% dari Rp9,58 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari penjualan domestik Rp6,42 triliun, ekspor Rp907,6 miliar, transaksi dengan pihak berelasi Rp3,51 triliun, serta pendapatan jasa Rp51,3 miliar.

Kenaikan laba AUTO turut ditopang kontribusi laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama setelah pajak yang naik menjadi Rp619,4 miliar dari Rp468,4 miliar. Laba sebelum pajak perusahaan naik 20,2% YoY menjadi Rp1,34 triliun.

ASGR mencatat pendapatan Rp1,56 triliun, naik tipis dari Rp1,53 triliun. Pendapatan itu berasal dari segmen jasa dan sewa Rp828,5 miliar, penjualan barang Rp436,4 miliar, dan pendapatan proyek Rp291,3 miliar. Total aset perseroan tercatat Rp2,92 triliun per akhir Juni 2026, turun dari Rp3,11 triliun pada akhir 2025.

Pendapatan UNTR justru turun 15% YoY menjadi Rp58,3 triliun dari Rp68,5 triliun. Penurunan ini dipicu rendahnya penjualan emas PT Agincourt Resources serta melemahnya kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara akibat berkurangnya alokasi RKAB batu bara nasional 2026.

Laba bersih UNTR yang tidak memperhitungkan pos nonberulang turun 48% YoY menjadi Rp4,3 triliun. Secara keseluruhan, laba bersih anjlok 88,2% YoY menjadi Rp956,3 miliar karena perseroan mencatat beban nonberulang sekitar Rp3,3 triliun, terutama dari penurunan nilai investasi di Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan pada Tambang Nikel Stargate.

Tambang Emas Martabe sempat menghentikan operasi sehingga penjualan emas turun tajam. Total penjualan setara emas hanya mencapai 23 ribu ons hingga semester pertama 2026, jauh lebih rendah dibandingkan 125 ribu ons pada periode sama tahun lalu. Operasional tambang baru kembali berjalan pada kuartal kedua.

Di bisnis alat berat, penjualan Komatsu turun 27% YoY menjadi 1.994 unit akibat lesunya permintaan dari sektor pertambangan. Pendapatan segmen alat berat ikut turun 28% YoY menjadi Rp15 triliun. Volume pemindahan tanah oleh PAMA Group juga turun 10% YoY menjadi 481 juta bcm, sementara produksi batu bara untuk klien turun 3% menjadi 67 juta ton mengikuti penyesuaian target akibat alokasi RKAB yang lebih rendah.

Posisi keuangan UNTR per 30 Juni 2026 berubah dari kas bersih Rp7,7 triliun pada akhir 2025 menjadi utang bersih Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5%. Perubahan tersebut terutama dipengaruhi akuisisi perusahaan tambang emas dan pelaksanaan program pembelian kembali saham.

Secara keseluruhan, anak-anak usaha Astra masih membukukan pertumbuhan laba. Laporan keuangan ASII juga mencantumkan pendapatan dari anak usaha lain di sektor properti, infrastruktur, teknologi informasi, dan keuangan yang belum menjadi perusahaan terbuka.