Periskop.id - Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global.

Ia menjelaskan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga dalam mendukung konsumsi rumah tangga, didukung peran shock absorber APBN dalam mendorong efektivitas program perlindungan sosial (perlinsos), stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus pada periode libur sekolah.

"Ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global," kata Purbaya saat konferensi pers KSSK, Jakarta, Senin (3/8).

Selain itu, katanya, investasi juga diprakirakan tumbuh kuat, ditopang oleh proyek-proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur pada program prioritas Pemerintah.

Konsumsi Pemerintah diprakirakan tumbuh positif, sejalan dengan percepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), dan penyaluran bantuan sosial.

Menurut Purbaya, koordinasi kebijakan antara Pemerintah dan BI terus diperkuat dalam menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan perbankan, tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang tinggi sebesar 14,1% yoy pada Juni 2026 dan fungsi intermediasi perbankan yang semakin baik.

Sementara itu, aktivitas manufaktur dan kinerja sektor eksternal menunjukkan moderasi, sehingga perlu terus didorong. Ke depan, sinergi kebijakan antarlembaga anggota KSSK akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan.

Lebih jauh, ia menilai dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 5,6–6,0% yoy, ditopang berbagai sinergi kebijakan Pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan.