Periskop.id – DKI Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,15% secara bulanan pada Juli 2026 setelah harga sejumlah bahan pangan, emas perhiasan, dan tiket pesawat menurun. Meski harga turun dibandingkan Juni, tingkat harga di Ibu Kota masih 2,5% lebih tinggi daripada Juli tahun lalu.
Kepala Badan Pusat Statistik DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi dengan andil 0,21%.
"Komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok ini yaitu cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit, masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,07%, 0,06%, dan 0,03%," kata Kadarmanto di Jakarta, Senin (3/8).
Telur ayam ras dan daging ayam ras turut memberikan andil deflasi masing-masing 0,02%. Sementara jeruk, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, serta tomat masing-masing menyumbang deflasi 0,01%.
Penurunan harga pangan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat pergerakan harga Jakarta berbalik dari inflasi 0,41% pada Juni menjadi deflasi 0,15% pada Juli. Pada Juni, kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara menjadi pendorong utama inflasi bulanan Jakarta.
Emas dan Tiket Pesawat Ikut Turun
Selain pangan, harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara menjadi komoditas yang paling besar menekan inflasi Jakarta. Keduanya masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,09%.
BPS DKI mencatat emas perhiasan telah mengalami deflasi bulanan selama empat bulan berturut-turut. Penurunannya mengikuti koreksi harga emas di pasar global setelah sempat mencapai level tinggi pada awal 2026.
Tren itu berbeda dengan kondisi pada Februari 2026 ketika harga rata-rata emas perhiasan di Jakarta tercatat sekitar Rp2 juta per gram dan menjadi salah satu pendorong utama inflasi. Ketika itu, BPS menilai kenaikan harga terjadi sejalan dengan penguatan emas global.
Kadarmanto mengatakan harga emas perhiasan memang sempat meningkat tajam pada awal tahun sebelum berangsur turun.
"Di awal-awal tahun ini, terjadi peningkatan emas, harga emas luar biasa, meskipun selama empat bulan terakhir ini terjadi penurunan harga komoditas emas," ujar Kadarmanto.
Turunnya tarif angkutan udara pada Juli juga berbanding terbalik dengan Juni, ketika harga tiket pesawat dan bensin mendorong inflasi kelompok transportasi. Perubahan tersebut menunjukkan harga komoditas transportasi dan pangan yang mudah bergejolak masih sangat memengaruhi pergerakan inflasi bulanan Jakarta.
Inflasi Tahunan Jakarta Masih 2,5%
Walaupun terjadi deflasi secara bulanan, Jakarta tetap mencatat inflasi tahunan sebesar 2,5% pada Juli 2026. Artinya, secara umum harga barang dan jasa masih lebih tinggi dibandingkan Juli 2025.
Inflasi tahunan tersebut terutama didorong kelompok transportasi yang mengalami kenaikan harga 5,3% dan memberikan andil 0,71%. Bensin menjadi komoditas utama yang mendorong kenaikan pada kelompok tersebut.
"Penyumbang utama inflasi bulan Juli tahun 2026 secara tahunan adalah kelompok transportasi yang memberikan andil inflasi sebesar 0,71% yang komoditasnya disumbang utamanya adalah bensin," kata Kadarmanto.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi tahunan cukup tinggi, yakni 8,39%, dengan andil 0,6%. Kenaikan kelompok tersebut terutama berasal dari emas perhiasan yang harganya masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski terus menurun dalam empat bulan terakhir.
Berdasarkan komoditas, emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Jakarta dengan andil 0,47%. Setelah itu terdapat bensin sebesar 0,46%, tarif angkutan udara 0,16%, beras 0,12%, dan minyak goreng 0,1%.
Inflasi tahunan Jakarta pada Juli melandai dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 2,78%. Pada periode tersebut, emas perhiasan menyumbang inflasi tahunan sebesar 0,57%, sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil 0,67%.
Angka 2,5% juga lebih tinggi dibandingkan inflasi Jakarta pada Juli 2025 yang sebesar 2,25%. Saat itu, tarif air minum PAM, emas perhiasan, bawang merah, beras, dan tomat menjadi penyumbang utama kenaikan harga tahunan.
Sejalan dengan Deflasi Nasional
Deflasi Jakarta sejalan dengan pergerakan harga secara nasional. BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026, setelah Indeks Harga Konsumen turun dari 111,89 pada Juni menjadi 111,73. Penurunan harga emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang utamanya.
Secara tahunan, inflasi nasional mencapai 2,88%, melambat dari 3,34% pada Juni 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan tahunan tersebut terlihat dari perubahan IHK.
“Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026,” kata Ateng.
Inflasi tahunan Jakarta maupun nasional masih berada dalam sasaran pemerintah dan Bank Indonesia sebesar 2,5% plus-minus 1%. Dengan rentang tersebut, batas sasaran inflasi 2026 berada pada kisaran 1,5 hingga 3,5%.
Namun, ekonom Bank Permata Faisal Rachman mengingatkan tekanan harga masih dapat meningkat akibat dampak El Niño terhadap produksi pangan dan risiko kenaikan harga energi apabila konflik di Timur Tengah berkepanjangan. Kondisi tersebut membuat pengendalian pasokan pangan, biaya transportasi, dan harga energi tetap menjadi perhatian pada sisa 2026
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar