Periskop.id – Pasar pakaian olahraga atau sportswear Indonesia diproyeksikan mencapai Rp58,6 triliun pada 2030. Perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin aktif dan meningkatnya kebutuhan terhadap pakaian olahraga berkualitas menjadi peluang besar bagi produsen nasional, terutama industri kecil dan menengah.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan nilai pasar sportswear Indonesia telah mencapai sekitar Rp38,5 triliun pada 2025. Angka tersebut tumbuh sekitar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Proyeksi yang bersumber dari laporan Sportswear in Indonesia terbitan Euromonitor International pada Februari 2026 itu memperkirakan, pasar tumbuh rata-rata sekitar 9% per tahun selama periode 2025 hingga 2030.

"Potensi pasar yang besar tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri dalam negeri untuk terus meningkatkan daya saing. Dalam konteks itulah, ISAW & Cosmetic Day 2026 memiliki arti yang sangat strategis,” tutur Faisol saat membuka Indonesia Sport and Active Wear atau ISAW & Cosmetic Day 2026 di Jakarta, Senin (3/8).

Gaya Hidup Aktif Dorong Permintaan

Faisol menilai perkembangan industri pakaian olahraga semakin menjanjikan karena aktivitas kebugaran kini tidak lagi dipandang sebagai kegiatan sesaat. Olahraga telah menjadi bagian dari gaya hidup, mulai dari lari, bersepeda, yoga, bulu tangkis, sepak bola, hingga latihan di pusat kebugaran.

Perubahan tersebut ikut meningkatkan permintaan terhadap pakaian yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga ringan, lentur, cepat kering, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan setiap cabang olahraga.

Besarnya pasar memberikan kesempatan kepada merek lokal untuk masuk ke segmen yang lebih spesifik, seperti pakaian lari, seragam klub, perlengkapan olahraga perempuan, modest activewear, hingga produk dengan bahan ramah lingkungan.

Kemenperin menilai kemampuan produsen lokal menjadi pemasok dalam ekosistem olahraga nasional membuktikan produk Indonesia dapat bersaing. Salah satu contoh yang disoroti pemerintah adalah keterlibatan merek lokal Speed sebagai penyedia kostum Tim Nasional Voli Indonesia.

Namun, proyeksi Rp58,6 triliun tersebut secara khusus menggambarkan pasar pakaian olahraga. Nilainya tidak otomatis mewakili keseluruhan industri olahraga yang juga mencakup alas kaki, peralatan, pusat kebugaran, penyelenggaraan pertandingan, pariwisata olahraga, dan layanan pendukung lainnya.

Ekspor Pakaian dan Alat Olahraga Meningkat

Optimisme pemerintah juga ditopang oleh pertumbuhan ekspor. Nilai ekspor industri pakaian jadi dari tekstil meningkat dari US$7,08 miliar pada 2024 menjadi US$7,27 miliar pada 2025 atau tumbuh sekitar 2,7%.

Pada periode yang sama, ekspor industri alat olahraga naik sekitar 12 persen, dari US$274,4 juta menjadi US$306,3 juta. Capaian tersebut menunjukkan produk olahraga Indonesia tidak hanya memiliki pasar domestik, tetapi juga mulai memperkuat posisinya di pasar internasional.

“Tren positif tersebut menunjukkan semakin kuatnya daya saing industri apparel nasional, termasuk produk pakaian olahraga, di pasar global,” kata Faisol.

Kinerja itu melanjutkan pertumbuhan yang telah terlihat sebelumnya. Pada 2024, ekspor alat olahraga tercatat tumbuh sekitar 4,6%. Hingga September 2025, nilainya kembali meningkat 11,9% dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

 

Ekspor Bola Sepak dan Bola Tiup Dunia 2025: Indonesia Tembus Peringkat Tiga Besar
Bola resmi Piala Dunia 2026, Trionda. dok.FIFA.

 

 

 

Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Belanda, dan China menjadi sejumlah pasar utama produk alat olahraga Indonesia. Sementara sepatu olahraga termasuk salah satu komoditas manufaktur dengan nilai ekspor besar.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya juga menilai industri olahraga dapat berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Industri olahraga Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi baru. Kinerja ekspor yang terus tumbuh, kualitas produk yang meningkat, serta komitmen standardisasi menunjukkan bahwa industri kita semakin siap bersaing di tingkat global,” kata Agus pada November 2025.

Menopang Jutaan Tenaga Kerja

Industri pakaian jadi dan produk olahraga mempunyai peran strategis karena sebagian besar kegiatan produksinya bersifat padat karya. Berdasarkan data BPS yang dikutip Kemenperin, terdapat sekitar 594 ribu unit industri kecil pakaian jadi pada 2024 dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 1,2 juta orang.

Sementara itu, data BPS dan Sistem Informasi Industri Nasional mencatat terdapat 128 unit usaha industri alat olahraga dengan total 15.663 pekerja. Produksinya masih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, tetapi mulai berkembang ke wilayah lain seperti Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Bali.

Besarnya penyerapan tenaga kerja membuat pertumbuhan industri ini tidak hanya berkaitan dengan penjualan produk. Perkembangannya juga berpotensi menciptakan pekerjaan, meningkatkan nilai tambah bahan baku, menghidupkan sentra produksi daerah, serta membuka peluang bisnis bagi desainer dan pelaku pemasaran digital.

Merek Lokal Harus Perkuat Kualitas

Meski pasar membesar, produsen lokal masih menghadapi persaingan dari merek internasional dan produk impor berharga murah. Pelaku usaha juga harus mengikuti perubahan tren dengan cepat sekaligus menjaga kualitas bahan, ukuran, desain, dan konsistensi produksi.

Standardisasi menjadi salah satu faktor penting, terutama untuk produk yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan performa atlet. Kemenperin telah mendorong sertifikasi Standar Nasional Indonesia bagi produsen alat olahraga melalui pengujian produk dan pendampingan teknis.

Pemerintah juga menjalankan program peningkatan kompetensi sumber daya manusia, modernisasi mesin, penguatan sertifikasi, pendampingan pengembangan produk, hingga pertemuan antara produsen dan jaringan ritel. Pada Februari 2026, pakaian jadi dan sepatu olahraga tercatat masuk dalam 20 komoditas manufaktur dengan nilai ekspor terbesar.

Pertumbuhan pasar hingga Rp58,6 triliun akhirnya tidak otomatis menjamin merek lokal memperoleh bagian terbesar. Peluang tersebut baru dapat dimanfaatkan apabila produsen mampu menghasilkan produk berkualitas, membangun identitas merek, memperkuat distribusi, serta memahami kebutuhan konsumen yang semakin beragam.