Periskop.id – Profesi konten kreator dinilai memiliki peluang besar menjadi sumber penghasilan utama di tengah pertumbuhan pengguna internet dan media sosial Indonesia. Namun, keberlanjutan profesi tersebut tidak cukup mengandalkan jumlah pengikut atau konten viral, melainkan membutuhkan keterampilan produksi, ketepatan informasi, etika digital, dan pesan yang bermanfaat.

Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik DKI Jakarta Syali Gestanon mengatakan kegiatan membuat konten kini dapat berkembang menjadi pekerjaan, portofolio profesional, maupun jalan menuju kewirausahaan.

"Konten tidak hanya membuat saja, tapi menghasilkan. Contohnya konten kreator yang berhasil dan menjadikan penghasilan utama mereka, menjadi bekal portofolio, bekal karir atau wirausahawan," kata Syali dalam pembukaan Bootcamp Content Creator di ANTARA Heritage Center, Jakarta Pusat, Kamis (30/7).

Menurutnya, permintaan terhadap informasi dan hiburan di platform digital membuat industri kreator masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas. "Pasar konten kreator ini tidak akan habis, ingat," ucapnya.

Pengguna Internet Indonesia Tembus 235,2 Juta

Peluang tersebut ditopang besarnya audiens digital Indonesia. Berdasarkan data APJII 2025 yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, jumlah pengguna internet mencapai 235,2 juta orang atau 81,72% dari populasi. Sementara itu, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna aktif media sosial.

Jumlah pengguna internet itu bertambah sekitar 13,6 juta dibandingkan hasil survei APJII 2024 yang mencatat 221,56 juta pengguna dengan tingkat penetrasi 79,5%. Pertumbuhan tersebut membuat media sosial menjadi ruang distribusi yang semakin besar bagi kreator, pelaku usaha, lembaga publik, dan media.

"Setiap unggahan berpotensi menjangkau banyak orang. Konten kreator memiliki posisi sebagai penyampai informasi yang membantu masyarakat memahami berbagai isu sekaligus mampu menggerakkan masyarakat menuju dampak yang positif," papar Syali.

Besarnya audiens membuka beragam jalur penghasilan, mulai dari iklan platform, kerja sama merek, pemasaran afiliasi, penjualan produk, hingga jasa produksi konten. Namun, peluang itu tidak otomatis menjamin pendapatan stabil karena setiap kreator tetap harus membangun keahlian, reputasi, dan kepercayaan audiens secara konsisten.

Kualitas Pesan Lebih Penting daripada Sekadar Viral

Syali mengingatkan ukuran keberhasilan kreator tidak hanya terletak pada jumlah tayangan, pengikut, atau seberapa cepat sebuah unggahan menjadi viral. Konten yang tidak akurat atau merugikan pihak lain justru berisiko merusak kepercayaan publik dan reputasi digital kreator.

"Yang paling penting bukan hanya viral, tetapi apakah pesan bisa dipahami, audiens mendapatkan manfaat, dan kualitas pesan itu yang menentukan keberlanjutan seorang konten kreator," ujar Syali.

Diskominfotik DKI merumuskan empat kebiasaan dasar bagi kreator. Prosesnya dimulai dengan menentukan tujuan dan mengenali audiens, dilanjutkan pemeriksaan fakta serta sumber, mengemas pesan secara kreatif dan etis, kemudian mempertimbangkan dampaknya sebelum konten dipublikasikan.

"Jangan hanya berpikir bagaimana konten menjadi viral, tetapi pastikan informasi yang disampaikan benar dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Syali.

Kreator juga diminta membedakan fakta dengan opini, memeriksa tanggal informasi, menggunakan sumber kredibel, menghormati privasi, serta meminta persetujuan ketika menampilkan orang lain. Bahasa yang memprovokasi, mempermalukan pihak tertentu, atau mengandung unsur SARA harus dihindari.

"Kami mendorong konten yang inklusif. Peserta harus terus belajar, mencoba, berkolaborasi, membangun portofolio yang baik, dan memastikan memiliki identitas digital yang positif," ucap Syali.

ANTARA Latih 20 Kreator Muda

Pembekalan tersebut menjadi bagian dari Bootcamp Content Creator yang digelar Perum LKBN ANTARA pada 30–31 Juli 2026. Program itu melibatkan 20 peserta berusia 17 hingga 20 tahun dan terselenggara bersama Pemprov DKI Jakarta, BNI, Perum Bulog, Jasindo, serta Tempo.

Peserta dibekali kemampuan menentukan sudut pandang, memilih tema, menyusun konsep, mengembangkan gaya penyampaian, serta memahami literasi media. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga menanamkan tanggung jawab sosial dalam setiap konten yang dipublikasikan.

"Bootcamp Content Creator yang diselenggarakan ANTARA bersama beberapa mitra ini sebagai upaya untuk membangun generasi muda yang lebih memiliki kemampuan tapi juga kepedulian sosial yang besar. Jadi di sini dilatih untuk mereka mampu dapat memberikan dampak bagi masyarakat secara luas lewat konten kreasi yang mereka hasilkan," kata Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butar Butar.

Benny berharap peserta mampu menghasilkan konten yang positif, menggugah, dan menginspirasi, sekaligus mengembangkan kompetensi tersebut menjadi peluang ekonomi. Keterampilan membuat konten juga dapat menjadi bagian dari portofolio untuk memasuki dunia kerja atau membangun usaha secara mandiri.

Di tengah derasnya arus informasi, Pemprov DKI berharap para kreator dapat menjadi mitra dalam memerangi hoaks. Kreator dinilai memiliki pengaruh besar dalam membantu publik memahami suatu isu, tetapi pengaruh tersebut harus disertai tanggung jawab untuk menyampaikan fakta dan data secara tepat.

Dengan demikian, profesi konten kreator berpeluang menjadi pekerjaan utama, tetapi keberhasilannya tidak hanya ditentukan algoritma. Kreativitas perlu berjalan bersama kemampuan memeriksa fakta, etika, konsistensi, serta pemahaman terhadap kebutuhan audiens.