Periskop.id - Ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi Indonesia sepanjang Semester I 2026 ternyata belum mampu menghentikan geliat pasar properti hunian. Meski daya beli masyarakat mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya hidup dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), keinginan memiliki rumah tetap bertahan.
Potret tersebut tergambar dalam Indonesia Residential Property Market Report Semester I 2026 yang dirilis Pinhome. Laporan ini menunjukkan bahwa dinamika ekonomi nasional justru membentuk pola baru dalam perilaku konsumen, baik dari sisi penawaran maupun permintaan.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, jumlah rumah yang dipasarkan justru terus bertambah. Pinhome memperkirakan peningkatan tersebut dipicu oleh semakin banyak pemilik properti yang memilih menjual asetnya dalam waktu singkat karena tekanan finansial.
Secara nasional, inventori rumah tapak meningkat sekitar 5% dibanding semester sebelumnya, meski pertumbuhannya berbeda-beda di setiap daerah.
Wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi salah satu kawasan yang merasakan perlambatan cukup nyata. Penundaan sejumlah proyek belanja infrastruktur membuat pertumbuhan inventori rumah di Samarinda dan Balikpapan melambat dari 9,2% pada Semester II 2025 menjadi hanya 4,5% pada Semester I 2026.
Situasi tersebut sejalan dengan proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Timur yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi provinsi itu berada di kisaran 4,5–5,3% sepanjang 2026, lebih rendah dibanding capaian 6,17% pada 2024 seiring memasuki fase normalisasi pembangunan IKN.
Menariknya, pencarian hunian secara keseluruhan masih mencatat kenaikan rata-rata 13% setiap bulan sepanjang Semester I 2026. Angka tersebut mengindikasikan bahwa kebutuhan akan rumah belum berkurang, melainkan bergeser menuju pilihan yang dianggap lebih rasional.
Pengembangan infrastruktur masih menjadi salah satu faktor utama yang mendorong minat masyarakat. Kehadiran Tol Jogja–Solo maupun LRT Jabodebek meningkatkan pencarian properti di kawasan yang dilalui. Selain itu, berbagai insentif fiskal dan kebijakan yang mendukung pembangunan hunian vertikal turut memperbesar minat terhadap rumah dengan harga lebih terjangkau. Tidak sedikit calon pembeli yang kini beralih ke rumah bekas siap huni karena dinilai lebih ekonomis dibanding membangun rumah baru.
Dari sisi pembiayaan, tingginya suku bunga acuan turut memengaruhi pola pengajuan kredit. Setelah BI-Rate bertahan di level 5,75%, masyarakat menjadi lebih selektif dalam memilih skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21–22 Juli 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah inflasi tahunan Juni sebesar 3,34% dan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 4,9–5,7%.
CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menilai kondisi tersebut tidak menunjukkan pelemahan pasar KPR, melainkan proses penyesuaian terhadap situasi ekonomi.
“Perubahan arah kebijakan suku bunga mendorong masyarakat untuk semakin selektif dalam memilih skema pembiayaan rumah. Di tengah kondisi tersebut, kami melihat pasar tidak melemah, melainkan beradaptasi. Hal ini tercermin dari data Pinhome yang menunjukkan meningkatnya aktivitas Take Over KPR yang kini mendominasi sekitar 60% pasar KPR. Sementara permintaan KPR Komersial didominasi oleh segmen menengah (Rp300 juta-Rp1 Miliar) sekitar separuh (49%) dan segmen di bawah 300 juta rupiah berkontribusi sekitar 21%. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan memiliki hunian tetap tinggi, sementara konsumen semakin aktif mencari solusi pembiayaan yang paling sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini,” ungkap Dara.
Perubahan perilaku konsumen juga mendorong lembaga keuangan menyesuaikan strategi bisnisnya. Bank Tabungan Negara (BTN), misalnya, memperkenalkan pendekatan Beyond Mortgage, yakni konsep yang memandang pembiayaan rumah sebagai awal hubungan jangka panjang dengan nasabah melalui ekosistem layanan keuangan yang lebih luas.
Tidak hanya urusan membeli rumah, cara masyarakat memanfaatkan hunian pun mulai berubah. Rumah kini berkembang menjadi pusat aktivitas keluarga sekaligus ruang yang mendukung kesehatan dan kenyamanan. Perubahan ini tercermin dari meningkatnya penggunaan layanan Home Service yang tersedia di aplikasi Pinhome.
“Perubahan kondisi sosial ekonomi mendorong masyarakat urban beralih dari pola perawatan rumah konvensional menuju layanan on-demand yang lebih fleksibel. Data Pinhome mencatat permintaan layanan Infal meningkat hingga +117% pada bulan Ramadan dengan retensi 21% di kuartal kedua tahun 2026,” lanjut Dara.
Perubahan prioritas pengeluaran masyarakat juga mulai terlihat. Sebagian keluarga memilih mengurangi anggaran rekreasi dan mengalihkannya untuk meningkatkan kualitas hunian.
Tren serupa juga diamini oleh merek gaya hidup seperti Technogym Indonesia dan Modena, di mana gaya hidup sehat lewat ruang olahraga yang lebih privat di rumah serta pemilihan perangkat rumah tangga modern semakin diminati.
Secara keseluruhan, pasar properti Indonesia pada Semester I 2026 memperlihatkan kemampuan beradaptasi di tengah tekanan ekonomi. Konsumen memang menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, namun kebutuhan akan rumah tetap tinggi.
Di saat yang sama, fungsi hunian pun berkembang menjadi lebih luas, bukan sekadar aset, melainkan ruang yang mendukung kesehatan, kenyamanan, dan kualitas hidup keluarga dalam jangka panjang.
Tinggalkan Komentar
Komentar