Periskop.id - Di tengah dinamika dan tekanan hidup yang makin tinggi, muncul fenomena menarik di mana aktivitas berbelanja dijadikan sarana untuk bertahan melewati masa sulit. 

Perilaku yang populer dengan sebutan treat culture ini makin melekat pada gaya hidup generasi muda, khususnya Gen Z. Meskipun kondisi keuangan atau pendapatan cenderung terbatas, para anak muda selalu menemukan cara untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri secara berkala.

Riset yang dirilis Bank of America pada Juli 2025 merekam tren ini secara nyata. Sebanyak 57% Gen Z tercatat membeli hadiah kecil untuk diri mereka setidaknya satu kali dalam sepekan. Kebiasaan ini menunjukkan betapa melekatnya apresiasi diri dalam keseharian mereka.

Alasan Psikologis di Balik Treat Culture

Praktik treat culture di kalangan Gen Z biasanya dilakukan untuk merayakan pencapaian kecil, atau justru menjadi penawar stres saat melewati hari yang buruk. Bahkan, tak jarang sebagian dari mereka memanjakan diri tanpa membutuhkan alasan khusus sama sekali.

Mengutip Fortune, jika ditinjau dari kacamata psikologi, fenomena ini berkaitan erat dengan konsep penguatan positif (positive reinforcement). Saat seseorang berhasil melakukan hal positif atau berusaha membangun kebiasaan baru, pemberian reward bertindak sebagai dorongan psikologis yang memperkuat perilaku tersebut.

Lebih dari sekadar apresiasi diri, treat culture juga menjadi bentuk mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) sekaligus respons atas tekanan sosial. 

Tumbuh dewasa di tengah ketidakstabilan ekonomi, dampak pandemi global, ancaman krisis iklim, serta gejolak sosial membuat Gen Z mencari cara sederhana untuk menghibur diri dan merebut kendali atas kebahagiaan mereka.

Peluang Bisnis dan Sisi Gelap Kebiasaan Memanjakan Diri

Maraknya budaya ini membawa angin segar bagi para pelaku usaha, terutama pemilik coffee shop maupun kafe bergaya modern. 

Makanan, minuman seperti kopi kekinian, hingga pengalaman nongkrong di tempat yang estetik dan instagramable menjadi pilihan favorit karena harganya dianggap relatif terjangkau.

Namun, di balik kesenangan sesaat tersebut, treat culture menyimpan risiko finansial yang kerap diabaikan. 

Laporan yang sama menunjukkan bahwa bagi 59% Gen Z, kebiasaan membeli hadiah kecil ini justru berujung pada pengeluaran berlebihan (overspending). Porsi pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali tanpa sadar berakumulasi menjadi gumpalan dana yang besar.

Bila tak dikendalikan, treat culture mudah bergeser menjadi bentuk konsumerisme negatif yang mencerminkan kurangnya pengendalian diri, pengeluaran sembrono, hingga ketidakpedulian terhadap risiko finansial jangka panjang seperti jeratan utang. 

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk tetap bijak menarik batas antara merawat kesehatan mental dan menjaga stabilitas finansial.