Periskop.id – Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong pengelola masjid memperluas fungsi rumah ibadah menjadi pusat pelayanan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kemanusiaan. Peran tersebut dinilai penting agar keberadaan masjid memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Nasaruddin dalam rangkaian Bridging to International Grand Imams Conference atau IGIC 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (2/8). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan konferensi imam internasional yang akan digelar di Jakarta pada September 2026.

“Bukan umat yang memberdayakan masjid, tapi masjid yang memberdayakan umat,” ujar Menag Nasaruddin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (3/8). 

Masjid Didorong Hadirkan Pelayanan Masyarakat

Menurut Nasaruddin, masjid tidak semestinya hanya ramai ketika waktu salat atau kegiatan keagamaan tertentu. Rumah ibadah juga perlu menjadi tempat masyarakat memperoleh layanan sosial, bantuan kemanusiaan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi.

Transformasi itu mulai terlihat melalui program Masjid Ramah Pemudik. Pada masa mudik Lebaran 2026, Kementerian Agama menyiapkan 6.859 masjid yang memberikan pelayanan kepada masyarakat selama perjalanan.

Layanan yang disiapkan meliputi tempat beristirahat, toilet dan air wudu, area parkir, pengisian daya perangkat elektronik, pusat informasi, air minum, serta makanan ringan. Sejumlah masjid juga dibuka selama 24 jam untuk membantu para pemudik.

Program tersebut menggambarkan besarnya potensi rumah ibadah sebagai bagian dari jaringan pelayanan publik. Data Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama mencatat terdapat 317.205 masjid dan 391.817 musala yang telah terdaftar di Indonesia. Secara keseluruhan, jumlahnya mencapai 709.022 tempat ibadah yang tersebar di 38 provinsi.

Nasaruddin mengatakan perluasan fungsi itu sejalan dengan peran masjid pada masa Rasulullah SAW. Ketika itu, masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial dan pemerintahan.

“Kita lihat masjidnya Rasulullah berfungsi sebagai sekretariat negara. Semua persoalan-persoalan pemerintahan diselesaikan di masjid. Jadi masjid itu adalah rumah besar untuk kemanusiaan,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Dalam kunjungannya ke Palembang pada Mei 2026, Nasaruddin juga pernah menekankan bahwa sebagian besar kegiatan di masjid pada masa Rasulullah berhubungan dengan pelayanan dan penguatan masyarakat.

“Delapan puluh persen masjidnya Rasulullah dipakai untuk pemberdayaan umat,” kata Nasaruddin saat meresmikan Masjid Dr. Irzanita Al Mukarromah di Universitas Kader Bangsa Palembang.

Imam Masjid Jadi Penggerak Perdamaian

Perluasan fungsi masjid membuat tanggung jawab imam menjadi semakin strategis. Imam tidak hanya dituntut memiliki kemampuan memimpin ibadah, tetapi juga perlu memahami persoalan sosial dan mampu menggerakkan program yang bermanfaat bagi masyarakat.

Imam masjid juga diharapkan menjadi teladan moral, penghubung antarumat, serta penyampai pesan Islam yang damai, moderat, dan inklusif.

“Kita ingin imam Indonesia bukan hanya menjadi imam yang baik bagi jamaahnya, tetapi juga menjadi duta perdamaian Indonesia yang mampu membawa pengalaman Islam Indonesia ke panggung dunia,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Semangat tersebut akan menjadi salah satu pembahasan utama dalam IGIC 2026. Konferensi itu dijadwalkan berlangsung di Masjid Istiqlal dan Hotel Borobudur, Jakarta, dengan peserta dari sekitar 50 negara. Forum tersebut dirancang untuk memperkuat jejaring imam, diplomasi keagamaan, dan kontribusi tokoh agama terhadap perdamaian global.

Nasaruddin menyebut sekitar 400 imam besar dari berbagai kawasan dunia ditargetkan menghadiri konferensi tersebut. Imam Besar Masjidil Haram Syekh Abdul Rahman As-Sudais dan Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Al-Tayyeb termasuk tokoh yang diundang.

“Dan akan hadir sekitar 400 imam-imam besar dunia, termasuk kita usahakan Insya Allah, Sheikh Sudais akan datang, kemudian juga imam besar yang lain termasuk Grandsheikh Al-Azhar kita juga undang. Dari Amerika, dari Eropa, dari Jepang, Korea, semua imam-imam besar pada negara-negara terutama negara-negara besar itu akan datang secara simbolik di Indonesia,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Panitia IGIC 2026 juga telah menjalin komunikasi dengan puluhan masjid utama dari berbagai negara. Konferensi tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan masjid, penguatan kapasitas imam, pemberdayaan masyarakat, serta penyelesaian konflik melalui pendekatan keagamaan.

Melalui penguatan peran imam dan pengelolaan yang lebih terbuka, masjid diharapkan tidak berhenti sebagai bangunan tempat ibadah. Masjid perlu hadir sebagai pusat solusi yang membantu masyarakat menghadapi persoalan pendidikan, ekonomi, sosial, dan kemanusiaan.