Periskop.id - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan bahwa lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia kini telah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Kondisi tersebut dinilai menjadi bukti bahwa program hilirisasi mulai memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi industri sawit nasional.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP Zaid Burhan Ibrahim mengatakan, transformasi ekspor sawit tersebut turut memperkuat daya saing Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia.
"Yang menarik, saat ini struktur ekspor sawit Indonesia juga telah mengalami perubahan yang positif. Lebih dari 80% ekspor sawit Indonesia sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah," ucap Zaid dalam media briefing, Kalimantan Tengah, Kamis (30/7).
Menurut dia, nilai ekspor sawit Indonesia setiap tahun mencapai lebih dari US$20 miliar, menjadikannya salah satu penyumbang devisa terbesar bagi perekonomian nasional.
Selain menghasilkan devisa, sektor perkebunan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada 2025, sektor perkebunan menyumbang sekitar 4,56 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia dan menjadi salah satu penopang utama sektor pertanian.
Zaid menilai, kontribusi industri sawit sesungguhnya jauh lebih besar dari angka tersebut. Pasalnya, sekitar 41 persen luas perkebunan sawit nasional dikelola oleh pekebun rakyat yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi.
"Sering kali masyarakat melihat sawit hanya dari sisi perusahaan besar saja. Padahal, data menunjukkan 41% dari industri sawit nasional itu dikelola oleh masyarakat, dikelola oleh rakyat. Jadi dari 100% sawit Indonesia, 41% kurang lebih itu dikelola oleh perkebunan sawit rakyat, yang dikelola oleh pekebun-pekebun rakyat," terang Zaid.
Ia pun menjelaskan, perkebunan sawit rakyat mampu memproduksi lebih dari 16 juta ton sawit setiap tahun dengan produktivitas yang terus meningkat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pekebun rakyat merupakan aktor penting dalam rantai pasok industri sawit nasional, bukan sekadar pelengkap.
Lebih lanjut, industri sawit juga memiliki dampak ekonomi yang luas karena mampu menciptakan sekitar 16,5 juta lapangan kerja, baik secara langsung di sektor perkebunan maupun tidak langsung melalui sektor transportasi, logistik, perdagangan, industri pengolahan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Di berbagai daerah sentra sawit, kehadiran industri ini menjadi pendorong pembangunan infrastruktur, tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru, berkembangnya UMKM, hingga meningkatnya percepatan domestik regional bruto, pendapatan regional bruto Indonesia. Karena itu, ketika kita bicara mengenai sawit, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai kesejahteraan jutaan masyarakat Indonesia," tutup Zaid.
Tinggalkan Komentar
Komentar