Periskop.id - Prospek pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum jelas meski Amerika Serikat menyebut kesepakatan bisa tercapai dalam waktu dekat. Wall Street Journal melaporkan, Rabu (5/8), Iran dikabarkan menuntut hak memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

Tak cuma soal biaya transit, Iran juga meminta pencabutan sanksi, pengakhiran blokade laut, dan jaminan keamanan dari AS. Permintaan itu muncul di tengah negosiasi yang sudah berjalan beberapa pekan terakhir antara Iran dan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz, wilayah yang masuk kedaulatan kedua negara.

Iran mengklaim AS tidak ikut serta dalam pembicaraan tersebut. Klaim itu langsung dibantah oleh pihak Washington.

Inti dari negosiasi ini adalah usulan pengaturan lalu lintas pelayaran. Kapal akan masuk Teluk Persia lewat rute yang dikendalikan Iran, lalu keluar melalui rute yang dikendalikan Oman.

Soal boleh tidaknya Iran memungut biaya layanan atau transit masih jadi ganjalan utama pembicaraan. AS sejak awal menolak segala bentuk pungutan semacam itu.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebutkan, kesepakatan berpotensi dicapai paling cepat pada Rabu. Optimisme itu disampaikannya di tengah negosiasi yang masih berlangsung.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memaparkan, diskusi dengan Iran dan Oman sudah mengalami kemajuan. Namun ia menegaskan, kesepakatan akhir belum tercapai.

Proposal terbaru dalam negosiasi ini belum mendapat tanggapan resmi dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menurut laporan Wall Street Journal.

Sejumlah pejabat IRGC menyampaikan kepada mediator bahwa mereka akan menolak perjanjian apa pun yang tidak mengakui klaim Iran untuk mengendalikan selat tersebut.

Sikap keras IRGC ini menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan final masih panjang, meski pejabat AS sudah menyatakan optimismenya soal waktu penyelesaian.