Periskop.id - Warisan Budaya Takbenda merupakan nilai-nilai budaya seperti tarian, kuliner, maupun permainan tradisional yang diwariskan secara antargenerasi dan menjadi identitas suatu daerah. 

UNESCO menyebut warisan budaya ini sebagai kekayaan yang berperan penting dalam menjaga keberagaman serta karakter suatu bangsa.

Di antara kekayaan tradisi Nusantara, masyarakat Betawi memiliki seni bela diri silat yang diakui sebagai warisan budaya takbenda. Terdapat tiga aliran utama dalam silat Betawi yang memiliki sejarah, karakteristik, serta filosofi yang unik. Berikut adalah penjelasannya:

Silat Beksi

Seni bela diri khas Betawi ini lahir dari proses akulturasi antara teknik perkelahian tangan kosong Nusantara dengan ilmu bela diri asal Tiongkok. Secara bahasa, nama Beksi berasal dari singkatan kalimat "Berbaktilah kepada Seruan Ilahi".

Sejak tahun 1928, Kampung Budaya Silat Beksi telah berdiri dan menjadi pusat pelestarian aliran seni bela diri ini.

Silat Cingkrik

Aliran silat kedua adalah Silat Cingkrik, yang diperkenalkan pertama kali di wilayah Rawa Belong pada era 1920-an.

Ditinjau secara etimologis, nama Cingkrik diambil dari istilah dalam bahasa Betawi yaitu cicingkrikan, jingkrak-jingkrik, jingke, atau jinjit. Istilah-istilah tersebut menggambarkan karakter gerakannya yang sangat lincah.

Silat Tiga Berantai

Aliran ketiga adalah Silat Tiga Berantai yang sejarahnya dikaitkan dengan tokoh penguasa Jakarta pada abad ke-17, yaitu Pangeran Jayakarta.

Di dalam Silat Tiga Berantai, terdapat tiga cabang aliran utama dengan ciri khas yang berbeda, antara lain Si Macan, Si Tembak, dan Si Karet

Secara keseluruhan, filosofi Tiga Berantai sangat mengedepankan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat, seperti kerja sama, sikap saling mendukung, serta komitmen untuk saling melindungi.