Periskop.id – Perumda Pasar Jaya memperkuat gerakan pengurangan plastik sekali pakai di 153 pasar rakyat yang dikelolanya. Program tersebut akan dijalankan melalui pembatasan kantong plastik, penggunaan tas belanja berulang, edukasi pedagang dan konsumen, serta pemilahan sampah sejak dari sumber.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan mengatakan pasar memiliki posisi strategis untuk mengubah kebiasaan masyarakat karena menjadi tempat interaksi langsung antara pedagang dan jutaan konsumen.

“Persoalan sampah plastik kini tidak lagi sekadar menjadi masalah kebersihan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan lingkungan, kesehatan masyarakat, ekonomi, hingga keberlanjutan pembangunan kota,” kata Agus di Jakarta, Kamis (30/7/).

Pasar Jaya tercatat mengelola 153 pasar yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Data perusahaan sebelumnya menunjukkan jaringan tersebut memiliki lebih dari 110 ribu tempat usaha dan dikunjungi lebih dari dua juta orang setiap hari. Besarnya aktivitas itu membuat perubahan kecil dalam penggunaan kemasan berpotensi memberikan dampak luas.

Perkuat Aturan yang Sudah Berlaku Sejak 2020

Gerakan tersebut bukan kebijakan larangan plastik pertama di Jakarta. Pergub DKI Jakarta Nomor 142 Tahun 2019 telah mewajibkan pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat menggunakan kantong belanja ramah lingkungan.

Ketentuan itu berlaku efektif sejak 1 Juli 2020. Pengelola pasar diwajibkan melakukan sosialisasi, sedangkan pedagang tidak diperbolehkan menyediakan kantong plastik sekali pakai kepada pembeli.

Pasar Jaya kini akan memperkuat pelaksanaan kebijakan tersebut dengan mendorong penggunaan tas belanja yang dapat dipakai berulang kali. Perusahaan juga berencana meningkatkan edukasi kepada pedagang dan konsumen agar pengurangan plastik tidak berhenti sebagai aturan administratif.

Selain membatasi kemasan sekali pakai, setiap pasar akan didorong memilah sampah berdasarkan jenisnya. Material yang masih memiliki nilai ekonomi kemudian dapat dikumpulkan untuk digunakan kembali atau masuk ke rantai daur ulang.

“Kami terus mengembangkan berbagai inovasi dalam pengelolaan sampah melalui penerapan ekonomi sirkular,” ujar Agus.

Menurutnya, jaringan pasar yang luas dapat digunakan sebagai sarana edukasi sekaligus tempat penerapan langsung kebiasaan baru.

“Jaringan pasar tersebut menjadi sarana yang efektif untuk mengedukasi pedagang dan konsumen agar membiasakan penggunaan tas belanja ramah lingkungan, mengurangi plastik sekali pakai, serta melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya,” paparnya.

Pasar Tradisional Pernah Hasilkan 600 Ton Sampah Sehari

Besarnya kontribusi pasar terhadap sampah Jakarta pernah terlihat dalam data program Pasar Bebas Plastik pada 2020. Ketika itu, pasar tradisional diperkirakan menghasilkan sekitar 600 ton sampah setiap hari.

Survei di Pasar Tebet Barat juga menemukan 89,5 persen pedagang bersedia mengurangi plastik sekali pakai. Namun, setiap pedagang rata-rata masih menggunakan sekitar 30 kantong plastik kecil dan 25 kantong besar dalam sehari.

Temuan tersebut menunjukkan kesediaan pedagang perlu disertai alternatif kemasan yang mudah diperoleh, terjangkau, dan sesuai kebutuhan komoditas pasar. Penggunaan plastik untuk bahan basah, daging, ikan, sayuran, dan kebutuhan curah tidak selalu dapat digantikan hanya dengan tas belanja biasa.

Karena itu, program pengurangan perlu mencakup penyediaan wadah guna ulang, kantong dari bahan yang dapat digunakan berulang, sistem pengembalian kemasan, hingga fasilitas pencucian yang higienis.

WtE Hanya Tangani Sebagian Sampah

Plt. Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Laksmi Widjajayanti menyebut timbulan sampah Jakarta telah mencapai sekitar 9.000 ton per hari.

Sementara itu, publikasi Dinas Lingkungan Hidup DKI pada April 2026 mencatat rata-rata timbulan sekitar 7.500 ton per hari dan dapat menembus 8.000 ton pada periode tertentu. Perbedaan angka dapat muncul akibat waktu pengukuran, cakupan, dan perubahan timbulan harian, tetapi seluruh data tersebut menunjukkan besarnya tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah Jakarta.

Pemerintah tengah mengembangkan teknologi Waste to Energy untuk mengolah residu menjadi listrik. Namun, Laksmi mengingatkan teknologi itu tidak dapat menggantikan pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber.

“Ada kebijakan pengolahan sampah menjadi energi listrik melalui Waste to Energy. Namun, teknologi ini hanya menyelesaikan sebagian persoalan. Diperkirakan sekitar 24 persen permasalahan sampah dapat ditangani melalui pendekatan tersebut,” kata Laksmi.

Sampah yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang seharusnya tidak langsung dikirim ke fasilitas pembakaran maupun tempat pemrosesan akhir. Pemilahan diperlukan agar WtE hanya menangani residu yang benar-benar tidak dapat diproses dengan metode lain.

Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Erma Putri menambahkan, plastik yang terbuang ke lingkungan dapat terurai menjadi partikel berukuran kecil dan masuk ke rantai makanan.

“Ketika kita berbicara tentang plastik, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang polusi yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” kata Erma.

Pemilahan Sampah Empat Kategori

Pemprov DKI mendorong pemilahan sampah menjadi empat kategori, yakni organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun, serta residu. Pendekatan itu diperlukan agar material daur ulang tidak tercampur dengan sisa makanan dan kehilangan nilai ekonominya.

Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto menilai pelaksanaan program harus didukung regulasi, pembiayaan, teknologi yang telah teruji, pengendalian emisi, dan kemitraan yang transparan.

“Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat, yang didukung teknologi pengelolaan sampah modern serta perubahan perilaku masyarakat, Jakarta memiliki peluang besar menjadi kota yang lebih bersih, sehat, tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” kata Sugiyanto.

Keberhasilan gerakan Pasar Jaya nantinya tidak cukup diukur dari jumlah spanduk atau sosialisasi. Pemerintah perlu memantau penurunan penggunaan kantong plastik, kepatuhan pedagang, ketersediaan kemasan alternatif, serta jumlah sampah yang berhasil dipilah dan didaur ulang di setiap pasar.