Periskop.id – Pedagang Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kembali menagih janji Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membangun kembali pasar yang terbakar pada 28 Juli 2025. Setelah satu tahun berlalu, mereka mengaku belum memperoleh kepastian mengenai nasib lokasi usaha yang menjadi sumber penghidupan ratusan keluarga.

Desakan itu disampaikan setelah sejumlah organisasi perangkat daerah meninjau kawasan Taman Puring terkait rencana pembangunan Taman Difabel. Pedagang berharap penataan ruang publik tidak menghapus fungsi pasar yang telah melekat di kawasan tersebut selama puluhan tahun.

"Bahwa janji Pak Gubernur akan membangun pasar kembali seperti awal statement Pak Gubernur itu, kami tetap menunggu dan berharap," kata Koordinator Pedagang Lapak Taman Puring Asmun kepada wartawan di Jakarta, Selasa (4/8).

Hanya 180 Pedagang yang Masih Bertahan

Sebelum kebakaran, Pasar Taman Puring dihuni lebih dari 500 pedagang. Kini hanya sekitar 180 orang yang masih bertahan dengan memanfaatkan lapak sederhana di sekitar lokasi bekas pasar.

"Sementara yang masih aktif berdagang ya karena dengan kondisi yang seperti ini masih sekitar hampir separuhnya, kurang lebihnya antara 150 sampai 200-an pedagang," katanya.

Pedagang lainnya memilih berpindah tempat atau berhenti sementara karena kondisi lokasi dinilai tidak lagi mendukung aktivitas jual beli. Mereka yang masih bertahan hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp200 ribu per hari dan jumlahnya tidak menentu.

Kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan sebelum kebakaran. Lapak sementara yang panas, terbatas, dan tidak mampu menampung banyak barang membuat pembeli berkurang serta pendapatan pedagang turun tajam.

“Kalau dulu orang nyaman belanja. Sekarang panas, seadanya. Pembeli tetap ada, tapi jauh berkurang,” ucap Asmun beberapa waktu lalu. 

Pedagang berharap dapat bertemu langsung dengan Pemprov DKI untuk memperoleh penjelasan mengenai rancangan kawasan, jadwal pembangunan, lokasi usaha sementara, serta kemungkinan pasar tetap dipertahankan dalam penataan baru.

"Kalau untuk jawaban masih belum ada jawaban dari beberapa dinas, tapi harapan kami tetap menunggu apa yang telah dijanjikan Pak Gubernur kepada kami," serunya.

Pramono Pernah Berjanji Memperbaiki Pasar

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menyatakan, Pasar Taman Puring akan diperbaiki setelah kebakaran yang menghanguskan 552 kios pada lahan sekitar 2.000 meter persegi. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, tetapi kerugian pedagang diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.

"Memang di sana sudah tiga kali (kebakaran) dan untuk itu kami tentunya tetap akan perbaiki, kami persiapkan," kata Pramono pada 29 Juli 2025.

"Karena pasar itu adalah pasar rakyat, yang dibutuhkan rakyat setempat dan itu pasar dengan aktivitas masih sangat tinggi. Tetapi tentunya dengan adanya kebakaran ini, kami akan bantu untuk perbaiki fasilitas yang ada," kata dia.

Namun, pada Oktober 2025, Pramono mengatakan revitalisasi baru dapat berjalan setelah seluruh pedagang mencapai kesepakatan. Ia menyebut pernah menerima perwakilan pedagang dan menginginkan persoalan internal diselesaikan terlebih dahulu agar proses pembangunan tidak kembali ditolak atau terhambat.

Pedagang membantah menolak pembangunan kembali pasar. Menurut mereka, perpindahan dari lokasi lama justru sempat diminta agar proses perizinan dan pembangunan dapat segera dilaksanakan.

Rencana Berubah Menjadi Taman Difabel

Ketidakpastian semakin menguat setelah Pemprov DKI menyetujui usulan pembangunan Taman Difabel di kawasan Taman Puring pada Mei 2026. Taman ramah disabilitas itu direncanakan memiliki luas sekitar 3.000 meter persegi dan ditargetkan selesai pada akhir 2026.

“Saya memberikan support (dukungan) dan menyetujui. Taman puring akan kita gunakan menjadi taman difabel di Jakarta Selatan,” kata Pramono.

Pemkot Jakarta Selatan menyatakan lahan telah mulai diratakan dan para pedagang ditawarkan pindah ke Pasar Cidodol serta Pasar Mampang. Pemerintah menyebut relokasi disesuaikan dengan jenis barang yang dijual dan menegaskan pedagang tidak akan ditelantarkan.

Namun, pedagang menilai lokasi yang ditawarkan belum sesuai dengan karakter Pasar Taman Puring yang dikenal sebagai sentra sepatu, pakaian, barang olahraga, dan produk bekas.

“Cidodol sama Mampang. Cidodol pasar sayur dan daging, Mampang sunyi,” kata Asmun.

Mereka tidak menolak pembangunan fasilitas bagi penyandang disabilitas, tetapi meminta fungsi pasar tetap dipertimbangkan dalam penataan kawasan.

"Setelah kami kebakaran habis semuanya, tiba-tiba ada statement lain selain ada pembangunan untuk dibangun pasar kembali, terutama untuk dibangun apa itu namanya taman apa itu. Harapan kami tetap saya menunggu janji Pak Gubernur," katanya.

Revitalisasi Harus Menjamin Keamanan

Selain memberikan kepastian kepada pedagang, pembangunan kembali kawasan dinilai harus memperbaiki sistem keselamatan. Pasar Taman Puring tercatat pernah mengalami kebakaran besar pada 2002, 2005, dan 2025.

Kebakaran pada 2002 menghanguskan 580 kios milik 370 pedagang. Insiden pada 2005 membakar sekitar 80 kios, sedangkan kebakaran pada 2025 menghancurkan lebih dari 500 kios.

Karena itu, revitalisasi perlu disertai pembaruan instalasi listrik, penyediaan alat pemadam di setiap blok, jalur evakuasi, akses mobil pemadam, serta sistem deteksi dini kebakaran.

Setahun setelah musibah, persoalan utama pedagang bukan lagi sekadar tempat berjualan sementara. Mereka membutuhkan keputusan resmi mengenai apakah Pasar Taman Puring akan dibangun kembali, dipadukan dengan Taman Difabel, atau seluruh kegiatan perdagangan dipindahkan secara permanen.

Kepastian tersebut penting agar penataan ruang publik yang lebih hijau dan inklusif tidak menghilangkan ruang ekonomi rakyat yang telah lama tumbuh di kawasan Taman Puring