Periskop.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menargetkan revitalisasi 120 bangunan cagar budaya sepanjang 2026. Tiga di antaranya adalah stasiun besar di Jabodetabek, yakni Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priuk, dan Stasiun Bogor.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin melaporkan langsung target tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebutkan, perusahaan saat ini mengelola lebih dari 600 bangunan berstatus cagar budaya di seluruh Indonesia.

"Perlu kami laporkan juga, Pak, kami di PT Kereta Api mengelola lebih dari 600 bangunan cagar budaya, di mana 120 di antaranya sekarang masuk dalam program revitalisasi untuk beautification," kata Bobby dalam acara Peresmian Revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Kamis (30/7).

Program pemugaran ini disebut Bobby sebagai bentuk komitmen KAI merawat sekaligus mempercantik aset bersejarah perusahaan. Sejumlah stasiun besar di Jabodetabek masuk daftar prioritas karena nilai sejarah dan letaknya yang strategis.

"Termasuk di Jakarta itu Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priuk, dan Stasiun Bogor, Pak. Dalam tahun ini akan kita revitalisasi untuk mengembalikan kembali ke fasad sejarahnya," beber Bobby.

Rencana pemugaran ketiga stasiun tersebut difokuskan pada pengembalian bentuk fasad ke rupa aslinya. Konsep ini mengikuti pola yang sebelumnya diterapkan pada revitalisasi Stasiun Semarang Tawang.

Stasiun Semarang Tawang yang kini genap berusia 112 tahun sudah lebih dulu rampung dipugar. Bobby menjelaskan, proses restorasinya memakan waktu 330 hari sejak tahun lalu.

"Prosesnya dibagi dalam dua tahap, Pak. Tahap pertama difokuskan pada bagian fasad depan, termasuk area hall utama. Kemudian sisi barat dan sisi timur juga kita kembalikan lagi ke bentuk semulanya," papar Bobby.

Setiap detail arsitektur di stasiun tersebut, menurutnya, direstorasi berdasarkan arsip historis yang masih tersimpan. Referensi ini menjadi acuan agar bentuk asli bangunan tidak berubah dari desain awalnya.

"Kami mendapatkan referensi langsung dari foto-foto lama zaman Belanda. Lampu-lampu dan seluruh ornamen yang ada di sini kami kembalikan ke bentuk aslinya," beber Bobby.

Ketelitian dalam proses restorasi ini, menurut Bobby, menjadi kunci agar nilai sejarah bangunan tetap terjaga meski usianya sudah lebih dari satu abad. Ia berharap pendekatan serupa bisa diterapkan pada 120 bangunan cagar budaya lain yang masuk program tahun ini.

"Dengan demikian, bangunan yang sudah berumur 112 tahun ini dapat terus kita jaga kelestarian serta jejak sejarahnya," pungkas Bobby.