Periskop.id – Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menilai, Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan atau P3MD menjadi salah satu langkah strategis, untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas yang kelak dapat mengisi posisi kepemimpinan di Indonesia.
Program angkatan pertama tersebut diikuti 400 profesional dari lingkungan badan usaha milik negara atau BUMN. Mereka menjalani pendidikan selama sembilan bulan yang mencakup pembentukan karakter, penguatan kemampuan manajerial, serta pengalaman kerja langsung di lingkungan pemerintahan dan perusahaan negara.
"Program ini merupakan bagian penting dalam menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang berkarakter, berintegritas, berwawasan kebangsaan," kata Sjafrie melalui akun Instagram pribadinya setelah memberikan pengarahan kepada peserta di Kodiklat TNI, Serpong, Senin (3/8).
Program tersebut dalam keterangan resmi pemerintah juga diperkenalkan dengan nama Presidential Future Leaders Program atau PFLP BUMN Batch 1. Pemerintah merancangnya sebagai jalur kaderisasi bagi talenta BUMN yang dinilai memiliki potensi untuk memimpin perusahaan negara pada masa mendatang.
Integritas dan Pengetahuan Jadi Modal Utama
Sjafrie mengatakan kemampuan profesional tidak cukup apabila calon pemimpin tidak memiliki integritas dan pemahaman kuat tentang kebangsaan. Para peserta karena itu diminta menggunakan masa pendidikan untuk membangun karakter sekaligus memperluas pengetahuan.
Menurutnya, calon pemimpin akan menghadapi perubahan geopolitik, perkembangan teknologi, transformasi ekonomi, dan ancaman keamanan yang semakin kompleks. Kemampuan mengambil keputusan strategis diperlukan agar mereka dapat merespons berbagai perubahan tanpa mengabaikan kepentingan nasional.
"Program ini juga dalam rangka menyiapkan generasi muda agar memiliki kemampuan strategis dalam menghadapi dinamika dan tantangan global yang semakin kompleks," kata Sjafrie.
Kementerian Pertahanan sebelumnya menjelaskan bahwa program tersebut diarahkan untuk membentuk sosok pemimpin yang tanggon, tanggap, dan trengginas. Tanggon menggambarkan ketangguhan karakter, tanggap berarti memiliki kecerdasan dan kepekaan terhadap perubahan, sedangkan trengginas menekankan kemampuan bertindak secara terampil dan efektif.
Pembentukan karakter itu juga dikaitkan dengan konsep best heart and best mind. Calon pemimpin tidak hanya diharapkan memiliki kecerdasan dalam mengelola organisasi, tetapi juga niat, moral, dan kesadaran untuk menggunakan kewenangannya bagi kepentingan masyarakat.
“PFLP dirancang untuk mendukung visi Presiden Prabowo dalam menciptakan tata kelola BUMN yang baik melalui penguatan sumber daya manusia yang memiliki best heart and best mind,” ujar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Peserta Jalani Pendidikan Sembilan Bulan
Program pendidikan dibagi ke dalam tiga tahap. Selama tiga bulan pertama, peserta mengikuti pembentukan karakter, kedisiplinan, wawasan kebangsaan, dan kepemimpinan di Kodiklat TNI.
Tahap berikutnya berupa penguatan kapasitas manajerial serta kemampuan mengambil keputusan selama empat bulan di Danantara Corporate University. Setelah itu, peserta menjalani magang selama dua bulan di kementerian, lembaga negara, atau lingkungan BUMN.
Pola tersebut membuat peserta tidak hanya memperoleh materi di dalam kelas. Mereka juga dibekali pengalaman untuk memahami hubungan antara kebijakan pemerintah, tata kelola korporasi, pengelolaan aset negara, dan pelayanan kepada masyarakat.
Sebanyak 400 peserta angkatan pertama dipilih dari 717 kandidat. Proses seleksi mencakup penilaian kompetensi, karakter, kedisiplinan, wawasan kebangsaan, serta komitmen terhadap nilai-nilai nasional.
Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto sebelumnya mengatakan, gelombang pertama difokuskan kepada pegawai BUMN karena pemerintah tengah membutuhkan talenta yang mampu mendukung transformasi perusahaan negara.
“Yang pertama ini kita didik adalah dari BUMN. Nah, kita berdayakan karyawan-karyawan yang baru direkrut itu untuk kita seleksi, untuk kita didik di program ini," kata Donny.
Disiapkan untuk Mengawal Transformasi BUMN
Penyelenggaraan program berlangsung ketika pemerintah melakukan konsolidasi dan pembenahan tata kelola BUMN. Pemimpin perusahaan negara dinilai harus mampu menjaga aset publik, meningkatkan kinerja perusahaan, serta memastikan kebijakan bisnis tetap sejalan dengan agenda pembangunan nasional.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menilai transformasi BUMN perlu diikuti dengan penyiapan talenta yang profesional, disiplin, dan berkarakter kuat. Menurutnya, pembenahan perusahaan negara mencakup berbagai langkah, mulai dari konsolidasi hingga restrukturisasi.
“Penataan dilakukan mulai dari konsolidasi, restrukturisasi, divestasi, hingga pembubaran," ujar Dony.
Sjafrie berharap seluruh peserta memanfaatkan masa pendidikan untuk mengenali kemampuan dan memperbaiki kelemahan masing-masing. Pendidikan tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai pelatihan formal, tetapi sebagai proses mempersiapkan kader yang nantinya memegang tanggung jawab besar.
Keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kelulusan peserta. Hasilnya perlu terlihat dari kualitas kepemimpinan, integritas dalam mengelola perusahaan negara, kemampuan mengambil keputusan, serta kontribusi peserta setelah kembali bekerja di lingkungan BUMN.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar