Periskop.id - Honda Motor memperpanjang penghentian produksi kendaraan di sejumlah fasilitasnya di Jepang hingga 19 Agustus 2026 setelah gempa besar di Kumamoto mengganggu pasokan komponen. Kondisi tersebut membuat Honda membutuhkan waktu pemulihan lebih lama ketika sejumlah produsen Jepang lain mulai mengaktifkan kembali fasilitas produksinya.

Dalam presentasi keuangan terbarunya, Honda menyebut pabrik Saitama akan kehilangan enam hari produksi, yakni pada 5-7 Agustus dan 17-19 Agustus. Sementara fasilitas Suzuka, termasuk Honda Auto Body, menghentikan produksi selama lima hari pada 6-7 Agustus dan 17-19 Agustus. Periode 8-16 Agustus memang sudah dijadwalkan sebagai libur musim panas sehingga tidak dihitung sebagai kehilangan hari produksi tambahan.

Penghentian tersebut terutama dipicu kekurangan komponen setelah sejumlah pemasok mengalami kerusakan akibat gempa. Honda belum memastikan seluruh produksi kembali normal setelah 19 Agustus dan masih melihat perkembangan rantai pasok sebelum menentukan langkah berikutnya.

“Kami akan terus memantau situasi dan mengambil keputusan terkait dimulainya kembali produksi sebagaimana mestinya,” demikian pernyataan Honda dalam paparan resminya.

Civic hingga Super-One Bisa Terdampak

Gangguan produksi berpotensi memengaruhi beberapa kendaraan Honda yang dipasarkan di Australia. Drive melaporkan fasilitas yang terdampak memproduksi sejumlah model seperti Civic, Prelude, HR-V, dan ZR-V. Pabrik Suzuka juga berkaitan dengan produksi hatchback listrik baru Honda Super-One yang dijadwalkan masuk pasar Australia pada 2026.

Honda Australia kini berupaya mencegah gangguan produksi tersebut berkembang menjadi keterlambatan pengiriman kepada konsumen. Namun, model terlaris Honda di Australia, CR-V, relatif terlindungi karena diproduksi di Thailand. Accord untuk pasar tersebut juga berasal dari Thailand.

Honda Super-One sendiri telah dipastikan masuk Australia pada paruh kedua 2026. Kendaraan listrik berukuran kompak tersebut menjadi salah satu produk elektrifikasi terbaru Honda untuk pasar Negeri Kanguru.

 

Honda Super-ONE
Honda Super-ONE yang dipamerkan pada hari peluncuran resminya di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, ICE BSD, Tangerang, Rabu (29/7/2026). ANTARA/Pamela Sakina

 

 

Dampak Gempa Menjalar ke Pabrik di Luar Kyushu

Gempa yang menjadi pemicu gangguan rantai pasok terjadi di wilayah Kumamoto pada 28 Juli 2026. Badan Meteorologi Jepang atau JMA mencatat gempa berkekuatan magnitudo 7,1 pada kedalaman sekitar 10 kilometer. Perhitungan moment magnitude mencatat kekuatannya sekitar Mw 6,8.

Dampaknya tidak hanya dirasakan fasilitas Honda yang berada dekat pusat gempa. Kerusakan fasilitas pemasok membuat kekurangan komponen menjalar ke pabrik mobil Honda di Saitama dan Suzuka yang berlokasi jauh dari Kumamoto.

Honda juga sempat menghentikan produksi sepeda motor di pabrik Kumamoto selama sembilan hari sejak malam terjadinya gempa. Sejumlah proses mulai kembali beroperasi pada 5 Agustus setelah pemulihan fasilitas selesai dilakukan secara bertahap.

Bencana tersebut menimbulkan dampak luas terhadap masyarakat. Associated Press melaporkan sedikitnya 38 orang meninggal dunia beberapa hari setelah gempa, sementara ribuan warga masih berada di lokasi pengungsian dan berbagai fasilitas publik mengalami kerusakan.

Industri Otomotif Jepang Sempat Terganggu

Kyushu merupakan salah satu pusat penting industri otomotif dan semikonduktor Jepang. Kementerian Perindustrian Jepang yang dikutip Reuters menyebut, kedua sektor tersebut menyumbang sekitar dua perlima produksi industri regional, sehingga gangguan pada pemasok dapat memberikan efek berantai ke berbagai fasilitas manufaktur.

Toyota sebelumnya menghentikan aktivitas di tiga pabrik di Kyushu, sementara Nissan mengalami gangguan produksi akibat keterlambatan pasokan komponen. Produsen chip seperti Renesas dan Sony juga sempat menghentikan operasi fasilitas mereka setelah gempa.

Namun, dampak industri diperkirakan tidak berkepanjangan. Ekonom Eksekutif Nomura Research Institute Takahide Kiuchi menilai gangguan terhadap produksi dan rantai pasok kemungkinan hanya berlangsung sementara karena sebagian besar penghentian awal dilakukan sebagai langkah keselamatan, bukan karena kerusakan berat seluruh fasilitas produksi.

"The negative impact on production activity and supply chains will likely be relatively temporary," kata Kiuchi.

Meski demikian, kasus Honda menunjukkan kerusakan pada satu pemasok tetap dapat menghentikan lini produksi di lokasi lain. Kondisi tersebut kembali menyoroti tingginya ketergantungan industri otomotif modern terhadap jaringan pemasok yang saling terhubung.

Bagi Honda, tantangan berikutnya adalah memulihkan pasokan komponen sebelum penghentian produksi berkembang menjadi keterlambatan distribusi kendaraan di pasar ekspor. Perusahaan belum menetapkan tanggal pasti normalisasi penuh dan memilih terus mengevaluasi kondisi pemasok hingga produksi dapat kembali berjalan stabil