Periskop.id - Posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dinilai tidak cukup dipertahankan hanya dengan mengandalkan luas perkebunan. Peningkatan produktivitas kebun rakyat, terutama petani plasma dan swadaya, menjadi pekerjaan penting agar pasokan mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menjaga daya saing Indonesia di pasar global.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan, industri sawit telah berulang kali menunjukkan ketahanannya ketika perekonomian menghadapi tekanan. Sektor ini tetap menjadi sumber devisa dan lapangan pekerjaan, termasuk ketika pandemi covid-19 menekan berbagai kegiatan ekonomi.
“Pada masa pandemi, devisa sawit mencapai sekitar US$39,2 miliar. Bahkan ketika banyak sektor melakukan PHK, industri sawit tetap membuka kesempatan kerja baru,” ujar Eddy dalam rangkaian 9th Borneo Forum 2026 di Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (8/8).
Urgensi meningkatkan produktivitas semakin besar karena Indonesia menguasai lebih dari 60% pasar sawit dunia. Produksi CPO nasional sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton, naik 7,26% dibandingkan 2024. Jika digabung dengan palm kernel oil atau PKO, produksinya mencapai 56,55 juta ton atau tumbuh 7,18%.
Kebun Rakyat Pegang Peran Besar
Tantangan utama justru berada di tingkat kebun. Kementerian Pertanian mencatat luas perkebunan kelapa sawit nasional telah melampaui 16,83 juta hektare dan sekitar 41% dikelola pekebun rakyat. Dengan porsi sebesar itu, peningkatan produksi nasional sangat bergantung pada kemampuan kebun rakyat menghasilkan tandan buah segar secara lebih optimal.
Masalah produktivitas terutama terlihat pada petani swadaya. Studi Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) yang dipublikasikan pada Juni 2026 memperkirakan produktivitas petani sawit swadaya baru mencapai sekitar 26,5% dari potensi maksimal. Kelompok ini juga masih menghadapi persoalan tanaman tua, akses benih unggul, pembiayaan, legalitas lahan, praktik budidaya hingga pendampingan teknis.
CIPS bahkan memperkirakan tanpa pembenahan, Indonesia berisiko kehilangan tambahan produksi CPO sekitar 4,73 juta ton, peningkatan ekspor senilai US$718,5 juta, serta potensi tambahan PDB sekitar Rp70,3 triliun.
"Indonesia berisiko kehilangan tambahan produksi minyak sawit mentah (CPO) sebesar 4,73 juta ton, kehilangan peningkatan ekspor hingga US$718,5 juta, dan kehilangan tambahan PDB sekitar Rp70,3 triliun," kata Peneliti dan Analis Kebijakan Senior CIPS Rahmad Supriyanto.
Karena itu, salah satu instrumen yang kembali didorong GAPKI adalah percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Program ini ditujukan mengganti pohon yang tua atau tidak produktif dengan tanaman unggul, sekaligus meningkatkan penggunaan teknologi dan praktik budidaya yang lebih baik.
Pada 2026, pemerintah menargetkan PSR tahap awal seluas 50.000 hektare. Sejak program diluncurkan pada 2017 hingga 2025, rekomendasi teknis telah diterbitkan untuk 417.008 hektare. Namun, progres fisik penanaman baru mencapai sekitar 290.701 hektare. Pemerintah mengakui legalitas lahan, persyaratan administratif, serta kesiapan kelembagaan petani masih menjadi hambatan.
BPDP saat ini memberikan dukungan dana PSR sebesar Rp60 juta per hektare kepada pekebun peserta program. Bantuan tersebut diharapkan membuat petani lebih mampu membiayai proses peremajaan ketika kebun belum kembali menghasilkan.
Ekspor Sawit Awal 2026 Melonjak
Dorongan meningkatkan produktivitas juga datang ketika permintaan ekspor masih kuat. Data BPS menunjukkan nilai ekspor CPO dan produk turunannya pada Januari-Februari 2026 mencapai US$4,69 miliar, naik 26,40% dibandingkan US$3,71 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Volume ekspornya meningkat dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton. Sementara sepanjang 2025, volume ekspor produk sawit Indonesia mencapai 32,34 juta ton dengan nilai US$35,87 miliar.
Kinerja tersebut memperlihatkan tingginya nilai strategis sawit dalam perdagangan Indonesia. Namun, besarnya permintaan global berjalan beriringan dengan peningkatan kebutuhan domestik untuk pangan, oleokimia, biodiesel dan berbagai produk hilir.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menilai hilirisasi dapat semakin memperkuat posisi Indonesia.
“Kalau CPO kita olah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60% pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan,” ujar Amran.

Kaltim Dorong Hilirisasi Sawit
Selain peningkatan produktivitas hulu, pemerintah daerah juga mendorong agar lebih banyak nilai tambah sawit tercipta di wilayah produksi.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengatakan masa depan industri sawit perlu dibangun melalui ketahanan menghadapi perubahan, inovasi dan transformasi.
“Oleh karenanya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mendorong pengembangan industri hilir berbasis kelapa sawit. Kami ingin potensi yang dimiliki Kalimantan Timur memberikan nilai tambah yang semakin besar, memperkuat investasi, mengembangkan industri turunannya, serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Seno Aji.
Strategi hilirisasi juga sejalan dengan upaya Kalimantan memperkecil ketergantungan terhadap penjualan komoditas mentah. Pengembangan industri pengolahan dinilai dapat memperbesar nilai tambah yang tertinggal di daerah dan memperluas manfaat ekonomi dari sektor perkebunan.
Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Timur Rachmat Perdana Angga menuturkan, Borneo Forum diharapkan mempertemukan kepentingan pemerintah, industri, akademisi dan masyarakat untuk menjawab berbagai tantangan tersebut.
“Borneo Forum menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam menghasilkan gagasan dan kolaborasi yang dapat mendukung kemajuan industri sawit Indonesia,” ujar dia.
Dengan produksi yang tetap tumbuh dan ekspor yang menguat, tantangan Indonesia kini bukan sekadar mempertahankan besarnya industri sawit. Produktivitas kebun rakyat menjadi salah satu penentu apakah Indonesia mampu meningkatkan produksi tanpa terus bergantung pada ekspansi lahan, sekaligus memenuhi kebutuhan domestik dan mempertahankan pengaruhnya di pasar minyak sawit dunia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar