Periskop.id – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di halaman Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7). Peresmian bertepatan dengan 30 tahun tragedi Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli 1996 yang menjadi salah satu catatan kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Monumen tersebut dihadirkan sebagai penghormatan kepada korban dan pejuang demokrasi, sekaligus pengingat agar kekerasan politik dan pembungkaman terhadap suara masyarakat tidak terulang. Dalam upacara peresmian, Megawati didampingi putranya yang juga Ketua DPP PDIP, M. Prananda Prabowo, serta jajaran pengurus partai.

Sebelum menekan tombol peresmian, Presiden Kelima RI itu mengajak masyarakat mempertahankan semangat perjuangan dan kecintaan terhadap Indonesia.

"Api perjuangan itu saya selalu yakin tidak akan pernah padam selama rasa cinta kepada tanah air terus bergema di dalam dada sanubari kita," kata Megawati.

Ia juga menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak melupakan pengorbanan para pahlawan serta perjalanan panjang pembentukan Republik Indonesia. "Namanya Republik Indonesia ini dibangun dengan yang namanya air mata, darah, dan keringat! Camkan!" tegas Megawati.

Setelah memulai hitungan mundur, Megawati bersama Prananda menekan tombol yang menandai pembukaan kain hitam penutup monumen. "Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Monumen Kudatuli ini atau peristiwa 27 Juli pada 30 tahun yang lalu, saya resmikan," ucap Megawati.

Monumen Menggambarkan Perempuan Memeluk Lima Sosok

Monumen karya pematung Dolorosa Sinaga itu menampilkan figur perempuan yang memeluk lima sosok dalam posisi menunduk. Megawati mengatakan bentuk tersebut lahir dari proses perenungan panjang mengenai perjalanan hidup, perjuangan politik, dan cita-cita Indonesia yang mandiri serta sejahtera.

"Saudara-saudara sekalian yang saya cintai, secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada seniwati yang saya kenal dan pandai. Saya memanggilnya Mbak Dolorosa Sinaga, yang telah menggambarkan dengan baik terhadap apa yang saya kontemplasikan selama ini," ujar Megawati.

Menurut Megawati, monumen tersebut tidak hanya menjadi karya berbahan batu dan logam. Patung itu juga menggambarkan konsep yang ia sebut sebagai kesabaran revolusioner, yakni keteguhan untuk terus bergerak menghadapi hambatan tanpa kehilangan keyakinan.

"Monumen ini menggambarkan kesabaran revolusioner yang lahir dari keyakinan, keteguhan, dan keberanian. Dalam kontemplasi saya, saya melihat kehidupan saya sendiri yang saya serangkum menjadi sebuah kata-kata, bahwa kita kalau yakin dalam kehidupan dan setelah itu tahu untuk apa kita punya keyakinan, maka harus punya keteguhan dan keberanian. Setelah itu, di dalam menjalankannya, kita tidak pernah boleh putus asa. Oleh sebab itu, kita harus punya kesabaran revolusioner," paparnya.

Ia menjelaskan kesabaran revolusioner bukan berarti berdiam diri ketika berhadapan dengan tekanan. Sikap tersebut justru menuntut kemampuan mencari jalan lain untuk terus memperjuangkan tujuan.

"Apa arti kesabaran revolusioner? Adalah kalau kita terbentur oleh penghalang, maka kita jangan berdiam diri. Kita pergilah perlahan-lahan untuk menghindarinya. Kesemuanya itu sebenarnya harus diajarkan kepada para rakyat kita di mana pun mereka berada," ujarnya.

Megawati kemudian menutup pesannya dengan keyakinan bahwa perjuangan yang didasarkan pada kebenaran pada akhirnya akan memperoleh kemenangan.

"Kesemuanya yang empat itu menyatu dalam sebuah keyakinan yang kental, bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang," tegasnya.

Kudatuli Menelan Korban Jiwa

Peristiwa Kudatuli terjadi pada 27 Juli 1996 setelah Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro diserang. Kantor tersebut saat itu dikuasai pendukung Megawati di tengah konflik kepemimpinan PDI antara kubu Megawati dan kubu Soerjadi. Penyerangan kemudian berkembang menjadi bentrokan dan kerusuhan di sejumlah wilayah Jakarta.

Berdasarkan hasil penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, peristiwa tersebut mengakibatkan lima orang meninggal dunia, 149 orang terluka, serta 23 orang dinyatakan hilang. Kerugian materiil akibat kerusuhan saat itu diperkirakan mencapai Rp100 miliar.

Tuntutan penyelesaian perkara terus disuarakan korban dan keluarga. Komnas HAM pada 2022 menerima audiensi dari perwakilan korban dan politikus PDIP yang meminta pemerintah memberikan kepastian serta menuntaskan persoalan tersebut.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto sebelumnya mengatakan pembangunan monumen telah digagas sejak 2021. Selain sebagai penanda sejarah, monumen itu dimaksudkan untuk memperkuat penghormatan terhadap hak sipil, kebebasan menyampaikan pendapat, dan partisipasi publik dalam mengawasi kekuasaan.

Dalam laporan mengenai peringatan 30 tahun Kudatuli, Megawati juga mengingatkan masyarakat agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, Kudatuli perlu ditempatkan sebagai pelajaran sejarah tentang dampak kekerasan politik dan pentingnya menjaga ruang demokrasi.

Melalui Monumen Kudatuli, PDIP berharap ingatan mengenai peristiwa 27 Juli 1996 tidak berhenti sebagai agenda peringatan tahunan. Monumen tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi bagi generasi berikutnya bahwa demokrasi, kebebasan berpendapat, dan kedaulatan rakyat lahir melalui perjuangan panjang yang harus terus dijaga.