"

Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada perdagangan sesi pertama, Rabu (29/7/2026). Di penghujung sesi I pukul 12.00 WIB, IHSG turun 36,995 poin atau 0,6% ke level 6.093,593.

Koreksi IHSG kali ini terjadi hampir merata di seluruh indeks sektoral. Sektor properti dan real estate mencatat pelemahan paling dalam, mencapai 2,62%.

Sektor infrastruktur ikut tertekan dengan penurunan 1,59%, disusul sektor perindustrian yang melemah 1,39%. Sektor barang konsumer non-primer turun 1,31%, sementara sektor transportasi dan logistik terkoreksi 0,94%.

Pelemahan juga merambat ke sektor energi yang turun 0,87% dan sektor keuangan yang tergerus 0,59%. Sektor barang baku, teknologi, serta barang konsumen primer masing-masing melemah 0,36%, 0,33%, dan 0,12%.

Di tengah tekanan yang meluas itu, sektor kesehatan menjadi satu-satunya kelompok saham yang bertahan di zona hijau. Sektor ini menguat tipis 0,02% hingga akhir sesi pertama.

Dari sisi transaksi, volume perdagangan bursa tercatat mencapai 26,88 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp16,86 triliun. Sebanyak 461 saham mengalami penurunan harga, 176 saham naik, dan 154 saham lainnya stagnan.

Saham PT Indosat Tbk (ISAT) memimpin deretan top losers indeks LQ45 setelah anjlok 4,36%. Posisi berikutnya ditempati PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang turun 2,82%.

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melengkapi tiga besar top losers LQ45 dengan koreksi 2,5%. Ketiga saham ini menjadi penekan utama di kelompok saham likuid tersebut.

Meski indeks utama tertekan, sejumlah saham LQ45 justru mencatat penguatan. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 1,43%, menjadi top gainer LQ45 siang ini.

Dua saham lain yang masuk jajaran top gainers LQ45 adalah PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang menguat 1,4% dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang naik 1,24%.

Pergerakan beragam antar saham LQ45 ini menunjukkan pelaku pasar masih selektif memilih saham di tengah pelemahan indeks secara keseluruhan. Sektor komoditas dan ritel tampak lebih tahan banting dibanding sektor properti dan infrastruktur yang jadi pemberat utama sesi pertama.