Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (7/8). Pada penutupan Kamis (6/8), IHSG tercatat turun 0,12% ke level 6.343,71.

Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menyebutkan, secara teknikal, IHSG mengalami pullback minor. Indikator stochastic RSI disebutnya mendekati area overbought, sementara volume jual justru meningkat.

"Namun histogram MACD masih di area positif, serta IHSG masih di atas level MA5-MA50. Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran 6.300 hingga 6.400," jelas Alrich, Jumat (7/8).

Proyeksi berbeda disampaikan VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi. Ia memperkirakan IHSG bergerak beragam dengan cenderung melemah terbatas, dengan support di level 6.280 dan resistance di 6.410, sementara indikator MACD justru menunjukkan penguatan tren.

Menurut Audi, ada dua sentimen utama yang bakal memengaruhi arah pasar akhir pekan ini. Pertama, berjalannya kesepakatan damai dengan potensi dibukanya Selat Hormuz secara bertahap dinilai bakal berdampak positif, terutama bagi saham emiten yang berkaitan dengan emas.

"Ini akan berdampak positif terhadap saham, khususnya saham emiten yang berkaitan dengan emas seiring dengan harga yang bergerak di level US$4.300 per troy ons," ucap Audi.

Sementara itu, Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana justru memproyeksikan skenario lebih konservatif. IHSG dinilainya rawan melanjutkan koreksi dengan support di 6.315 dan resistance di 6.380.

Untuk perdagangan Jumat (7/8), Herditya menyebutkan investor bisa mencermati saham BNBR di kisaran Rp120 hingga Rp129, MEDC di rentang Rp1.425 hingga Rp1.505, dan PTRO di kisaran Rp5.500 hingga Rp5.725.

Audi turut memberikan rekomendasi teknikal. Ia menyarankan strategi buy on break untuk PTRO di level Rp5.100, dengan support Rp4.850 dan resistance Rp5.600, serta trading buy untuk saham HTRA dengan support Rp2.030 dan resistance Rp2.300.

Sentimen kedua yang disorot Audi datang dari pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kembali mendekati level Rp18.000. Penguatan rupiah tersebut, menurutnya, masih belum stabil dan berpotensi menambah kekhawatiran pasar.

"Nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS masih menunjukkan penguatan yang belum stabil sehingga mendorong kekhawatiran pasar lebih," ucapnya.