Periskop.id - Pelatih Timnas Indonesia John Herdman berjanji melakukan pembenahan setelah langkah Garuda terhenti di fase grup Piala AFF 2026. Evaluasi akan dilakukan mulai dari kesalahan kecil pemain, pengendalian emosi hingga komposisi permainan sebagai persiapan menuju FIFA ASEAN Cup 2026 dan Piala Asia 2027.
"Kami akan membenahi semua itu dan kembali dengan semangat baru, benar-benar semangat yang baru," kata Herdman dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu (8/8).
Indonesia gagal melaju ke semifinal setelah bermain imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8). Garuda sempat unggul melalui Ragnar Oratmangoen pada awal babak kedua sebelum Ilhan Fandi menyamakan kedudukan.
Hasil tersebut membuat Indonesia mengakhiri persaingan Grup A di posisi ketiga dan gagal mendapatkan satu dari dua tiket menuju semifinal.
Meski kecewa dengan sejumlah keputusan wasit, Herdman memilih tidak memperpanjang persoalan tersebut. Ia menilai Indonesia sebenarnya mampu mengendalikan pertandingan, tetapi kesulitan menembus organisasi pertahanan Singapura.
"Kami memiliki cukup peluang untuk memenangkan pertandingan itu. Kami memiliki cukup penguasaan bola, cukup kontrol, dan terkadang dewa sepak bola tidak akan memberi apa yang kami inginkan," tuturnya.
Menurut Herdman, para pemain telah berusaha mengejar gol kemenangan hingga pertandingan berakhir. Namun, beberapa kesalahan kecil kembali merugikan Garuda dalam laga yang menentukan nasib mereka.
"Hal-hal (kesalahan kecil) itu tidak akan lagi kita lihat pada turnamen mendatang," katanya.
Herdman Minta Waktu Bangun Tim
Herdman berharap kegagalan di Piala AFF tidak langsung mengubah arah pembangunan tim nasional. Ia meminta kesempatan untuk melanjutkan proses hingga Garuda mampu meraih trofi di bawah kepemimpinannya.
Pelajaran penting dari turnamen regional tersebut, menurut Herdman, bukan hanya menyangkut aspek teknis. Pemain juga harus semakin matang dalam mengendalikan emosi dan mempertahankan fokus ketika menjalani pertandingan dengan tekanan tinggi.
Evaluasi itu menjadi penting karena Garuda tidak memiliki waktu panjang untuk berbenah.
Agenda berikutnya adalah FIFA ASEAN Cup pada September-Oktober 2026. Turnamen yang berlangsung dalam kalender internasional FIFA tersebut akan memberikan kesempatan kepada Herdman menggunakan komposisi pemain yang lebih lengkap.
Indonesia kembali berada di Grup A bersama Singapura, Malaysia, dan India.
Pertemuan ulang dengan Singapura menjadi salah satu laga yang sudah ditunggu Herdman setelah kegagalan pada Piala AFF.
"Saya sudah tidak sabar untuk kembali menghadapi Singapura. Saat itu pasti akan tiba," katanya.
FIFA ASEAN Cup juga dapat menjadi kesempatan untuk menggabungkan pemain yang tampil di Piala AFF dengan sejumlah pemain utama Garuda yang berkarier di luar negeri sebelum memasuki agenda yang jauh lebih berat pada awal 2027.
Pengamat: Jangan Pecat Herdman
Pengamat sepak bola nasional Anton Sanjoyo menilai kegagalan di Piala AFF harus dipandang sebagai bagian dari proses membangun skuad menuju Piala Asia 2027.
Menurutnya, keberhasilan Herdman seharusnya tidak hanya diukur berdasarkan hasil di tingkat Asia Tenggara.
"Sejak John Herdman menangani tim pada Januari 2026, saya selalu menekankan bahwa tolok ukur utama adalah Piala Asia, bukan Piala AFF," kata Anton.
Ia menilai hasil Piala AFF justru memperlihatkan kelemahan yang harus segera diperbaiki, termasuk kedalaman skuad. Ketika menghadapi pertahanan Singapura yang disiplin, pemain pelapis Indonesia dinilai belum cukup konsisten untuk membuat perbedaan.
Kualitas tersebut akan semakin diuji ketika Indonesia menghadapi tim dengan level lebih tinggi di Piala Asia.
Anton pun tidak setuju jika kegagalan di Piala AFF langsung berujung pada pergantian pelatih.
"Proses itu masih berjalan, dan pergantian pelatih hanya akan merusak fondasi yang sedang dibangun," ujarnya.
Namun, dukungan terhadap Herdman tetap disertai tuntutan evaluasi. Anton menilai pelatih harus menemukan pola permainan yang paling sesuai dengan karakter pemain Indonesia.
Penggunaan skema seperti 3-4-3, misalnya, perlu dipertimbangkan kembali apabila kualitas dan kedalaman bek tengah yang tersedia belum memadai.
Herdman juga dinilai perlu meningkatkan komunikasi dengan para pelatih klub di Liga Super dan Divisi Satu. Pelatih klub memiliki informasi langsung mengenai perkembangan dan konsistensi pemain lokal yang dapat memperkuat kedalaman Timnas Indonesia.
"Herdman dibayar mahal untuk membawa timnas bersaing di level elite Asia. Waktu menuju Piala Asia semakin sempit. Sekarang saatnya bagi Herdman untuk membuktikan kapasitasnya dalam meramu strategi dan memaksimalkan potensi pemain Indonesia," katanya.
Jepang dan Qatar Menunggu di Piala Asia
Tekanan terhadap proses evaluasi semakin besar karena Indonesia hanya memiliki waktu sekitar lima bulan menuju Piala Asia 2027 yang berlangsung di Arab Saudi pada 7 Januari hingga 5 Februari.
Hasil undian menempatkan Garuda di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand.
Jepang merupakan salah satu kekuatan terbesar sepak bola Asia, sedangkan Qatar datang sebagai juara Piala Asia 2019 dan 2023. Thailand juga menjadi salah satu kekuatan tradisional Asia Tenggara dengan pengalaman panjang di level kontinental.
Situasi tersebut membuat kualitas yang cukup untuk bersaing di Asia Tenggara belum tentu memadai ketika menghadapi level Piala Asia.
Indonesia juga membawa standar baru setelah berhasil mencatat sejarah pada Piala Asia 2023 yang dimainkan pada 2024. Saat itu, Garuda untuk pertama kalinya lolos ke babak 16 besar sebelum perjalanan dihentikan Australia.
Karena itu, Anton menilai teknik individu, organisasi permainan, kedalaman skuad, dan fleksibilitas strategi harus ditingkatkan jika Indonesia ingin kembali bersaing di fase gugur.
PSSI Juga Siapkan Evaluasi
PSSI sebelumnya memastikan hasil Piala AFF 2026 akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengatakan evaluasi diperlukan agar Garuda lebih siap menjalani agenda internasional berikutnya.
"Kami akan melakukan evaluasi terhadap hasil di ASEAN Championship 2026 agar Timnas Indonesia lebih siap untuk menghadapi sejumlah turnamen penting ke depan," tulis Erick.
Bagi Herdman, FIFA ASEAN Cup akan menjadi ujian pertama untuk memperlihatkan hasil pembenahan tersebut. Turnamen itu sekaligus menjadi kesempatan melakukan seleksi terakhir sebelum fokus beralih menuju Piala Asia.
Kegagalan di Piala AFF 2026 dengan demikian tidak hanya meninggalkan kekecewaan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai persoalan yang masih harus diselesaikan.
Herdman kini dituntut memperbaiki organisasi pertahanan, meminimalkan kesalahan individu, memperkuat kedalaman pemain, serta menemukan pola permainan yang mampu bekerja ketika menghadapi pertahanan rapat maupun tim elite Asia.
Piala AFF telah selesai, tetapi tantangan yang menentukan ukuran sebenarnya dari proyek Herdman justru masih menunggu pada Piala Asia 2027.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar