Lelang Spektrum Jadi Momentum 5G Indonesia, Adopsi Diproyeksi Tembus 32% pada 2030
Lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dinilai menjadi momentum percepatan 5G Indonesia. GSMA memproyeksikan adopsinya mencapai sekitar 32% pada 2030

Periskop.id – Pelepasan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dinilai menjadi salah satu momentum penting untuk mempercepat pengembangan jaringan 5G di Indonesia. Tambahan spektrum membuat operator memiliki ruang lebih besar memperluas jangkauan dan kapasitas jaringan, sementara adopsi 5G Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 32% pada 2030.
Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman mengatakan ketersediaan spektrum baru menjadi faktor penting untuk mempercepat ekspansi 5G. Dalam laporan The Mobile Economy Asia Pacific 2026, GSMA juga memperkirakan penggunaan jaringan generasi kelima akan terus meningkat hingga akhir dekade ini. Secara regional, jumlah koneksi 5G Asia-Pasifik diproyeksikan mencapai 1,5 miliar pada 2030, setara sekitar 50% dari seluruh koneksi seluler di kawasan.
"Dengan dilepaskannya spektrum baru dan dapat meningkatkan perilisan 5G, kami melihat akan ada peningkatan yang lebih cepat pada akhir dekade ini. Dengan demikian akan ada sepertiga populasi menggunakan 5G di akhir dekade ini dengan cakupan yang kuat," kata Kepala GSMA Asia Pasifik Julian Gorman dalam diskusi virtual dengan media, Kamis (20/8).
Menurut paparan GSMA, penggunaan 5G Indonesia masih berada pada tahap awal, tetapi diperkirakan meningkat menuju sekitar sepertiga koneksi pada akhir dekade. GSMA sebelumnya juga memproyeksikan lebih dari 32% koneksi seluler Indonesia akan menggunakan 5G pada 2030.
Angka tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan besar. GSMA melihat tambahan spektrum dapat menjadi pemicu investasi baru setelah selama beberapa tahun keterbatasan frekuensi menjadi salah satu kendala perluasan jaringan generasi kelima.
"Saya rasa hal ini mendorong investasi pada konektivitas digital bisa lebih stabil pada masa mendatang, selain itu hal ini juga dapat menghadirkan prospek yang lebih stabil dalam hal menghadirkan teknologi seluler di masa mendatang," kata Gorman.
Telkomsel, Indosat dan XLSmart Menang Lelang
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah merampungkan seleksi pita 700 MHz dan 2,6 GHz pada Juli 2026. Tiga operator yang ditetapkan sebagai pemenang adalah Telkomsel, Indosat, dan XLSmart.
Pada pita 700 MHz, XLSmart memperoleh 30 MHz atau 2x15 MHz dengan nilai penawaran sekitar Rp1,06 triliun. Telkomsel memperoleh 20 MHz atau 2x10 MHz senilai Rp642,5 miliar, sedangkan Indosat mendapatkan 20 MHz atau 2x10 MHz dengan nilai sekitar Rp507,48 miliar.
Komdigi menilai kombinasi kedua frekuensi memiliki fungsi yang saling melengkapi. Pita 700 MHz merupakan low-band yang mempunyai jangkauan luas dan penetrasi sinyal lebih baik ke dalam bangunan. Sementara 2,6 GHz merupakan mid-band yang menyediakan kapasitas lebih besar untuk menopang lalu lintas data dan layanan 5G berkecepatan tinggi.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan hasil lelang harus memberikan dampak langsung kepada pengguna.
“Komdigi memastikan bahwa lelang frekuensi ini memberikan manfaat nyata dan merata bagi masyarakat. Ujungnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat di level akar rumput,” ujar Meutya.
Komdigi memperkirakan seleksi tersebut berpotensi menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp6 triliun pada tahap awal, dengan potensi total mencapai Rp29,9 triliun dalam 10 tahun.
Operator Wajib Perluas 5G hingga 51% Populasi
Lelang tersebut tidak hanya mengatur pembayaran penggunaan spektrum. Pemerintah juga memberikan sejumlah kewajiban pembangunan kepada operator pemenang.
Dalam jangka waktu paling lama lima tahun, pemenang diwajibkan menyediakan layanan 5G dengan target sedikitnya 51% cakupan populasi nasional. Operator juga harus menghadirkan layanan minimal 4G di sebagian dari 538 desa dan kelurahan yang ditentukan pemerintah, terutama daerah yang belum terlayani atau masih memiliki sinyal lemah.
Komdigi juga menargetkan rata-rata kecepatan mobile broadband nasional meningkat secara bertahap hingga 100 Mbps pada 2029.
Target cakupan 51% tersebut tidak sama dengan proyeksi GSMA sekitar 32%. Cakupan menggambarkan seberapa besar populasi berada di wilayah yang tersedia jaringan 5G, sedangkan adopsi atau koneksi menunjukkan berapa banyak pelanggan yang benar-benar menggunakan teknologi tersebut. Karena itu, jaringan bisa tersedia bagi lebih dari separuh penduduk tetapi tingkat penggunaannya masih lebih rendah.
Pelepasan spektrum ini sekaligus menjawab persoalan yang sudah lama disorot GSMA. Organisasi tersebut sebelumnya memperkirakan percepatan pembangunan 5G di Indonesia berpotensi menghasilkan tambahan kontribusi terhadap PDB sekitar US$41 miliar pada periode 2024-2030, apabila investasi dan kebijakan pendukung dapat berjalan optimal.
Secara lebih luas, GSMA memperkirakan teknologi dan layanan seluler menyumbang sekitar US$1 triliun terhadap perekonomian Asia-Pasifik pada 2025, setara 5,9% PDB kawasan. Nilainya diproyeksikan meningkat menjadi sekitar US$1,4 triliun pada 2030, didorong ekspansi 5G dan pemanfaatan kecerdasan buatan.
Harga HP 5G Masih Jadi Tantangan
Namun, tambahan spektrum tidak otomatis membuat seluruh pengguna beralih ke 5G. GSMA menyoroti harga perangkat sebagai salah satu hambatan utama adopsi.
Kenaikan harga komponen seperti memori dan chip berpotensi membuat perangkat yang mendukung 5G semakin mahal, terutama pada segmen premium. Kondisi tersebut dapat memperlambat perpindahan pengguna meskipun cakupan jaringan terus diperluas.
"Pelambatan adopsi mungkin terjadi karena ketersediaan gawai, apalagi untuk gawai kelas atas yang memang berbiaya tinggi. Kami lihat juga kenaikan harga dari memori dan chip ikut menyebabkan gawai 5G yang pada ujungnya membuat harganya lebih tinggi," kata Gorman.
Tantangan itu juga terlihat dari perkembangan pasar Indonesia. Laporan Ericsson Mobility Report Juni 2026 yang dikutip Katadata mencatat pengguna 5G Indonesia pada akhir 2025 masih sekitar 14%, lebih rendah dibandingkan Singapura 73%, Thailand 41%, dan Malaysia 38%. Keterbatasan cakupan, ketersediaan perangkat, serta model bisnis operator disebut masih menjadi faktor penghambat.
Indonesia sendiri mulai mengoperasikan 5G secara komersial pada 2021. Namun, ekspansinya berlangsung relatif terbatas karena operator sebelumnya masih banyak mengandalkan spektrum yang juga digunakan untuk layanan 4G. GSMA sejak beberapa tahun lalu telah mendorong Indonesia menyediakan lebih banyak spektrum khusus untuk mempercepat pengembangan jaringan tersebut.
Dengan selesainya lelang 700 MHz dan 2,6 GHz, salah satu hambatan utama itu mulai terurai. Tantangan berikutnya bergeser pada kecepatan pembangunan jaringan, besarnya investasi operator, harga perangkat 5G, serta munculnya layanan yang benar-benar memberi alasan bagi konsumen untuk beralih dari 4G.
Jika momentum tersebut dapat dipertahankan, GSMA melihat Indonesia berpeluang mengejar ketertinggalannya dan membawa 5G dari layanan yang masih terkonsentrasi di sejumlah kota menjadi infrastruktur digital dengan pemanfaatan yang jauh lebih luas pada akhir dekade ini.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), telekomunikasi, dan Jaringan Pita Lebar (Broadband) dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.