Periskop.id – Militer Iran mengklaim melancarkan serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania dan Bahrain pada Rabu (22/7). Serangan tersebut menjadi bagian dari aksi balasan Teheran setelah militer AS menggempur sejumlah target di Iran selama 11 malam berturut-turut.

Di Yordania, drone Iran disebut menyasar Pangkalan Udara Al-Azraq. Sementara di Bahrain, target yang diumumkan mencakup gudang peralatan dan hanggar pemeliharaan pesawat berat di Pangkalan Udara Sheikh Isa.

"Tentara Iran melakukan serangan drone terhadap instalasi militer AS dan gudang peralatan di Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania," demikian pernyataan militer Iran yang disiarkan media pemerintah IRIB.

Hingga berita ini ditulis, belum ada rincian terverifikasi mengenai jumlah drone yang diluncurkan, tingkat kerusakan, maupun korban akibat serangan terbaru tersebut. Laporan awal dari media internasional baru mengonfirmasi adanya klaim serangan Iran terhadap fasilitas AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Gudang dan Hanggar Pesawat Diklaim Jadi Sasaran

Militer Iran menyebut serangan di Bahrain diarahkan ke gudang peralatan berukuran besar serta hanggar yang digunakan untuk merawat pesawat berat. Reuters sebelumnya melaporkan Iran juga menargetkan fasilitas akomodasi personel militer AS di Pangkalan Udara Sheikh Isa pada Selasa.

Serangan terbaru menunjukkan Teheran masih menjadikan negara-negara tempat pasukan AS ditempatkan sebagai bagian dari medan konflik. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran telah melancarkan serangan ke fasilitas militer di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.

Al-Azraq juga bukan kali pertama menjadi sasaran. Pada 9 Juli 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim menembakkan 10 rudal balistik menuju pangkalan tersebut. Reuters ketika itu melaporkan klaim tersebut berdasarkan pernyataan IRGC di media pemerintah Iran.

Beberapa hari kemudian, dua personel militer AS dilaporkan tewas saat mempertahankan posisi mereka dari serangan rudal dan drone Iran di Yordania. CENTCOM membenarkan kematian tersebut, tetapi tidak langsung memerinci lokasi dan skala serangannya.

AS Selesaikan Serangan Malam Ke-11

Klaim serangan Iran muncul setelah Komando Pusat AS menyelesaikan malam ke-11 operasi udara secara berturut-turut terhadap Iran pada Selasa malam waktu setempat.

CENTCOM menyatakan operasi terbaru berakhir pada pukul 20.15 waktu Pantai Timur AS. Militer Amerika menyebut serangan tersebut ditujukan untuk semakin melemahkan kemampuan militer Iran, meski tidak menjelaskan secara terperinci seluruh lokasi yang dihantam dan dampaknya.

Rangkaian serangan terbaru dimulai pada 8 Juli, setelah gencatan senjata sementara antara Washington dan Teheran dinyatakan berakhir. Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan sementara tersebut tidak lagi berlaku dan mengancam melanjutkan operasi jika Iran tidak mengubah sikapnya.

Trump kemudian menulis bahwa Iran meminta perundingan dilanjutkan, tetapi Amerika telah menegaskan bahwa gencatan senjata telah berakhir.

"The Cease Fire is OVER!" tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, sebagaimana dikutip Reuters.

Washington menyatakan serangan ke Iran dilakukan sebagai respons atas tindakan Teheran terhadap pasukan AS dan kapal-kapal yang melintasi kawasan Teluk. Operasi tersebut juga diarahkan ke fasilitas pertahanan udara, penyimpanan drone, jaringan komunikasi, serta infrastruktur militer di sekitar Selat Hormuz.

Konflik Meluas ke Negara Teluk

Pertukaran serangan telah menyeret sejumlah negara di Timur Tengah yang menjadi lokasi fasilitas militer AS. Bahrain, Kuwait, Yordania, Oman, dan negara-negara Teluk lainnya berulang kali mengaktifkan peringatan keamanan atau sistem pertahanan udara akibat ancaman rudal dan drone Iran.

Pada Selasa, IRGC juga mengklaim menyerang sejumlah situs radar di Kuwait. Pemerintah Kuwait melaporkan sedang menghadapi gelombang serangan rudal dan drone, sementara Iran menyatakan sasaran mereka merupakan fasilitas militer Amerika.

Perluasan konflik turut menimbulkan risiko terhadap jalur perdagangan energi. Reuters melaporkan pergerakan kapal di Selat Hormuz terganggu, sementara ancaman blokade kelompok Houthi terhadap pengiriman minyak Saudi di Laut Merah memperbesar kekhawatiran atas pasokan energi dunia.

Meski Iran menyebut serangan di Yordania dan Bahrain sebagai aksi balasan yang berhasil, dampak aktualnya masih harus menunggu konfirmasi dari pemerintah negara terkait dan militer Amerika Serikat. Klaim dari pihak yang terlibat konflik perlu diperlakukan secara hati-hati karena informasi mengenai target, jumlah senjata, serta kerusakan sering kali berbeda antara satu pihak dan pihak lainnya.

Saya dapat memantau konflik Iran–AS ini dan memberi kabar ketika ada konfirmasi korban, kerusakan pangkalan, atau perkembangan gencatan senjata.