Sebanyak 167 Rumah di Desa Adat Sade Terbakar, Pemerintah Siapkan Pemulihan Empat Tahap
Kebakaran Desa Adat Sade merusak 167 bangunan dan warisan budaya Sasak. Pemerintah menyiapkan pemulihan empat tahap, dari penyelamatan pusaka hingga rekonstruksi

Periskop.id - Kebakaran besar yang melanda Desa Adat Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tidak hanya menghilangkan tempat tinggal warga. Pendataan terbaru Kementerian Kebudayaan menunjukkan 167 unit bangunan dan aset kebudayaan terdampak, termasuk 75 rumah adat, puluhan toko kerajinan, lumbung tradisional hingga benda pusaka dan manuskrip kuno masyarakat Sasak.
Besarnya kerusakan membuat pemerintah menyiapkan pemulihan dalam empat tahap, mulai dari penyelamatan benda budaya di antara reruntuhan hingga rekonstruksi bangunan menggunakan material tradisional. Di tengah proses tersebut, Kementerian Kebudayaan juga menemukan Desa Adat Sade belum tercatat dalam basis Data Pokok Kebudayaan atau DAPOBUD Kabupaten Lombok Tengah.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Sade merupakan aset budaya nasional yang tidak dapat dipulihkan hanya dengan membangun kembali rumah warga. Penyelamatan juga harus menyentuh warisan benda maupun pengetahuan yang telah diwariskan turun-temurun.
Prioritas pertama dalam fase darurat adalah menyisir kawasan yang terbakar untuk mencari kain tenun atau wastra, keris, tombak hingga fragmen manuskrip yang mungkin masih dapat diselamatkan.
Pada saat yang sama, pemerintah akan mendokumentasikan sejarah lokal, cerita rakyat, pengetahuan tradisional, serta ingatan para tetua adat. Langkah tersebut diperlukan karena sebagian warisan yang hilang dalam kebakaran tidak selalu berbentuk benda dan tidak dapat diganti melalui pembangunan fisik semata.
75 Rumah Adat dan 69 Toko Kerajinan Hangus
Data awal Kementerian Kebudayaan mencatat 75 rumah adat dan 69 toko kerajinan hangus dalam kebakaran pada Sabtu (22/8/2026) malam. Kebakaran juga berdampak terhadap delapan lumbung alang, enam Berugak Sekepat, empat Berugak Sekenam Besar, satu masjid, satu Bale Beleq, toilet umum wisatawan, gerbang desa dan satu Pelonggo.
Benda budaya yang ikut terbakar mencakup keris, tombak, klewang, perlengkapan seni Peresean, Gendang Beleq dan Gong Tua yang digunakan dalam kegiatan ritual. Sejumlah naskah kuno berbahasa Sanskerta juga dilaporkan musnah.
Dinas Kebudayaan NTB menyatakan hilangnya berbagai bangunan tersebut tidak sekadar berarti kehilangan aset fisik. Rumah, lumbung dan berugak merupakan ruang berlangsungnya kehidupan sosial serta praktik kebudayaan masyarakat Sasak sehingga kerusakan berpotensi memengaruhi keberlanjutan tradisi masyarakat setempat.
Data ini berbeda dengan laporan awal BPBD yang menyebut sekitar 120 sampai 129 rumah terdampak. Perbedaannya berasal dari ruang lingkup pendataan. Angka terbaru Kementerian Kebudayaan mencakup berbagai jenis bangunan dan aset budaya, bukan hanya hunian warga.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri sebelumnya mengatakan sekitar 320 warga terdampak kebakaran tersebut. Pemerintah daerah kini tidak hanya menangani kebutuhan dasar, tetapi juga mulai memikirkan desain pemulihan kawasan dengan mempertimbangkan mitigasi kebakaran.
Pemulihan Dibagi Empat Tahap
Kementerian Kebudayaan merancang pemulihan Desa Adat Sade melalui empat fase.
Tahap pertama adalah tanggap darurat, meliputi pengamanan kawasan serta penyelamatan benda dan material budaya yang masih tersisa.
Tahap kedua berupa asesmen dan dokumentasi, termasuk pengukuran bangunan, inventarisasi warisan budaya dan pencatatan kondisi setelah kebakaran.
Tahap ketiga memasuki pelindungan dan pemulihan, dengan penyusunan kajian teknis hingga pembangunan kembali bangunan tradisional.
Terakhir, tahap keempat diarahkan pada keberlanjutan budaya, termasuk digitalisasi dokumen dan pengembangan kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat.
Bangunan yang dipugar direncanakan tetap menggunakan bahan tradisional seperti kayu, bambu, ijuk dan alang-alang agar karakter arsitektur Sade tidak hilang.
Namun, rekonstruksi juga akan disertai penambahan sistem mitigasi kebakaran. Hal tersebut menjadi penting karena rumah-rumah tradisional Sade menggunakan bahan organik. Indonesia Travel mencatat rumah Bale dibangun menggunakan rangka kayu, dinding anyaman bambu serta atap jerami atau alang-alang yang secara alami lebih rentan terhadap api.
Pemprov NTB juga mendorong kampung adat memiliki sistem perlindungan bencana yang lebih kuat setelah kebakaran Sade, sehingga pelestarian bentuk tradisional dapat berjalan bersamaan dengan peningkatan keselamatan masyarakat.
Ekonomi Warga Ikut Dipulihkan
Kerugian masyarakat tidak berhenti pada rumah.
Sebanyak 69 toko kerajinan ikut terdampak, sementara aktivitas menenun menjadi salah satu sumber penghidupan penting masyarakat Sade. Karena itu, pemerintah berencana menyediakan kembali alat tenun dan perlengkapan produksi kepada warga.
Indonesia Travel mencatat tradisi menenun merupakan bagian penting kehidupan perempuan Sasak di Sade. Produk berupa kain tenun dan berbagai kerajinan juga menjadi komoditas utama yang dijual kepada wisatawan.
Pemulihan ekonomi menjadi semakin penting karena Sade merupakan salah satu destinasi wisata budaya terkenal di Lombok. Desa tersebut telah dikenal sebagai desa wisata sejak 1982 dan memperoleh pengakuan Kementerian Pariwisata pada 1993.
Kawasan ini memiliki sekitar 150 rumah tradisional dan sekitar 750 penduduk yang masih mempertahankan pola kehidupan serta tradisi Sasak selama sekitar 15 generasi. Rumah-rumah di kawasan Sade juga merupakan hunian masyarakat sehari-hari, bukan sekadar bangunan museum atau objek pameran.
Karena itu, pemulihan kawasan berkaitan langsung dengan tiga hal sekaligus, yakni tempat tinggal, kelangsungan budaya dan mata pencaharian masyarakat.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal sebelumnya memastikan penanganan warga tidak boleh berhenti pada tempat pengungsian.
"Yang pertama sekarang dan harus cepat adalah bagaimana kebutuhan dan rasa aman masyarakat yang rumahnya terbakar kita perhatikan. Kebutuhan sandang, pangan, dan aktivitas sosial ekonomi mereka harus kita pastikan," tegas Iqbal.

Sade Ternyata Belum Masuk DAPOBUD
Temuan lain yang menjadi perhatian adalah status pendataan Desa Adat Sade.
Meski telah dikenal selama puluhan tahun sebagai destinasi budaya, penelusuran awal Kementerian Kebudayaan setelah kebakaran menemukan Sade belum tercatat dalam DAPOBUD Kabupaten Lombok Tengah.
Temuan itu muncul hanya beberapa hari setelah Kementerian Kebudayaan bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) meluncurkan integrasi Satu Data Masyarakat Adat. Dalam program tersebut, AMAN dan BRWA menyerahkan 2.284 peta wilayah adat yang tersebar di 32 provinsi dan 209 kabupaten/kota untuk diintegrasikan dengan data pemerintah.
Fadli menegaskan pemerintah akan menggunakan momentum pemulihan Sade sekaligus untuk memperkuat pendataan dan perlindungan hukum terhadap aset budaya serta wilayah masyarakat adat.
"Kementerian Kebudayaan siap bergerak sebagai Wali Data Masyarakat Adat untuk segera mengintegrasikan dan meregistrasi seluruh cagar budaya serta wilayah masyarakat adat secara nasional agar memiliki payung hukum pelindungan yang lebih kuat," kata Menteri Kebudayaan.
Dengan demikian, pembangunan kembali Desa Adat Sade tidak sekadar menjadi proyek rekonstruksi pascakebakaran. Pemerintah menghadapi tantangan untuk membangun kembali rumah dan ruang ekonomi warga tanpa menghilangkan bentuk asli permukiman, menyelamatkan jejak budaya yang masih tersisa, sekaligus menambahkan perlindungan kebakaran agar bencana serupa tidak kembali menghapus warisan yang telah bertahan selama belasan generasi.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Fadli Zon, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), kebakaran, budaya, dan lombok dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.