Komoditas

Tembakau Lamuk Tembus Rp350 Ribu/Kg, Petani Temanggung Tunggu Serapan Pabrikan

Harga tembakau grade E di Lamuk, Temanggung, menembus Rp350 ribu/kg. Petani kini menanti serapan maksimal dari Djarum dan sejumlah pabrikan

17 jam yang lalu · 5 mnt baca
Tembakau Lamuk Tembus Rp350 Ribu/Kg, Petani Temanggung Tunggu Serapan Pabrikan
Aktivitas petani tembakau di Temanggung, Jawa Tengah. dok. Pemprov Jateng
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Musim panen tembakau 2026 membawa kabar positif bagi petani di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Harga tembakau kualitas tertentu di wilayah Lamuk dilaporkan menembus Rp350 ribu per kilogram, meski kepastian serapan industri masih menjadi faktor penting yang akan menentukan hasil akhir musim panen tahun ini.

Bupati Temanggung Agus Setyawan mengatakan harga tersebut berlaku untuk tembakau grade E di wilayah Lamuk. Sementara grade C dan D saat ini diperdagangkan di kisaran Rp65 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.

Angka Rp350 ribu per kilogram itu menjadi salah satu harga yang menonjol pada musim ini. Namun, harga tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai harga seluruh tembakau grade E di Temanggung karena mutu, karakter tembakau, wilayah produksi, kebutuhan pabrikan, hingga penilaian grader dapat berbeda.

Dinas pertanian Temanggung sendiri menjelaskan mutu tembakau ditentukan dari kombinasi karakter fisik, kimia, aroma, dan kebutuhan pengguna. Untuk tembakau Srinthil, misalnya, tingkatan mutunya dapat dimulai dari grade E dan berlanjut ke tingkatan lebih tinggi.

Harga Naik, Serapan Pabrik Jadi Kunci

Meski harga awal cukup menjanjikan, Pemkab Temanggung masih menunggu seberapa besar tembakau petani yang dapat diserap industri. Agus menyebut PT Djarum berupaya melakukan pembelian hasil panen tahun ini secara maksimal. 

Namun, setiap pabrik tetap mempunyai standar bahan baku masing-masing sehingga tidak seluruh tembakau yang dihasilkan petani otomatis memenuhi kriteria pembelian. Selain Djarum, beberapa perusahaan yang disebut akan membeli tembakau Temanggung antara lain Wismilak, Sukun, Nojorono, Gadjah Baru, Ares, serta sejumlah pabrik rokok golongan III.

Sinyal tingginya permintaan mulai terlihat di tingkat lapangan. Menurut Agus, terdapat lokasi perajangan tembakau di mana seorang perajang menjadi incaran beberapa pedagang sekaligus.

Situasi tersebut berbeda dengan kondisi pada akhir Juli. Ketika itu, pemerintah daerah masih menyebut belum seluruh pabrikan menyampaikan jumlah kebutuhan pembelian mereka. "Untuk golongan 1 saat ini baru satu pabrikan yang siap membeli tembakau Temanggung, yang lain belum, dan golongan 2 beberapa sudah bersedia membeli, tinggal menunggu pabrikan-pabrikan itu berapa jumlah serapan yang mau mereka beli di musim panen tahun ini," kata Agus.

Perkembangan pembelian pada akhir Agustus dengan demikian memberi sinyal yang lebih positif bagi petani dibandingkan situasi menjelang masa panen.

Harga Rp350 Ribu Jauh di Atas Gambaran Musim Sebelumnya

Sebagai perbandingan, menjelang musim tanam 2026 seorang petani Temanggung menyebut harga tertinggi tembakau varietas Kemloko pada musim sebelumnya sekitar Rp85 ribu per kilogram untuk grade E, sedangkan grade C dan D berada di sekitar Rp55 ribu per kilogram.

Harga grade E Lamuk yang kini mencapai Rp350 ribu per kilogram berarti jauh lebih tinggi daripada gambaran tersebut. Namun, perbandingan harus dibaca secara hati-hati karena kualitas tembakau Temanggung sangat spesifik berdasarkan lokasi, varietas, proses pengolahan dan penilaian pembeli.

Lamuk sendiri merupakan salah satu kawasan yang dikenal menghasilkan tembakau bermutu tinggi. Informasi resmi Pemkab Temanggung menyebut sentra Lamuk didominasi varietas Kemloko. Kawasan Temanggung juga terkenal menghasilkan tembakau Srinthil yang berfungsi sebagai tembakau pemberi rasa atau flavour dalam industri kretek dan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Karena itu, harga tinggi pada satu kualitas tidak otomatis mencerminkan harga rata-rata seluruh panen.

Djarum Gandeng Lebih dari 1.000 Petani

Djarum telah membangun skema kemitraan sejak masa tanam. Pada musim 2026, perusahaan menggandeng 1.057 petani Temanggung dengan total lahan sekitar 850 hektare.

Standar kualitas menjadi perhatian utama dalam kemitraan tersebut. Pabrikan mendorong petani menggunakan varietas tembakau Jawa yang sesuai serta menghindari pencampuran gula maupun bahan lain ketika melakukan pengolahan.

"Kami menekankan penggunaan varietas yang benar, yakni tembakau Jawa asli, serta mengedukasi petani untuk menghindari penggunaan gula dalam proses pengolahan agar memenuhi standar kualitas industri," tegas Senior Manager Tobacco Purchasing PT Djarum Kudus Dawam.

Persyaratan tersebut penting karena kualitas akhir tembakau tidak hanya ditentukan oleh kondisi tanaman saat berada di kebun. Cara pemetikan, pemeraman, perajangan, hingga pengeringan ikut menentukan grade dan harga yang diterima petani.

"Artinya, persoalan kualitas tidak bisa hanya dibebankan kepada salah satu pihak. Seluruh tahapan produksi memiliki keterkaitan dalam menentukan kualitas bahan baku yang dihasilkan," kata Agus.

Menurut Pemkab, kualitas bahan baku pada musim ini secara umum tergolong baik. Tantangan berikutnya berada pada pengolahan hasil panen karena melibatkan ribuan tenaga kerja dengan keterampilan dan metode yang tidak selalu seragam.

Luas Tembakau Temanggung 13.391 Hektare

Besarnya dampak harga dan serapan industri tidak terlepas dari posisi tembakau sebagai salah satu komoditas penting Temanggung. Data Pemkab Temanggung mencatat luas tanam tembakau pada 2026 mencapai 13.391 hektare, terdiri atas 8.925,7 hektare tembakau tegal dan 4.465,3 hektare tembakau sawah. Kecamatan Kledung menjadi sentra terbesar dengan 1.880 hektare, diikuti Ngadirejo 1.348 hektare, Bulu 1.340 hektare, Kedu 1.157 hektare, dan Tlogomulyo 1.147,5 hektare.

Luas tersebut sedikit meningkat dibandingkan 2025 yang tercatat sekitar 13.133 hektare. Namun, dalam jangka lebih panjang areal tembakau Temanggung telah menyusut cukup besar dari sekitar 18.600 hektare pada 2021. Sebagian petani mulai beralih ke tanaman hortikultura karena mempertimbangkan pendapatan dan risiko usaha.

Pada 2024, luas panen tembakau Temanggung masih tercatat 14.088 hektare dengan produksi sekitar 9.438,97 ton. Kledung menjadi salah satu kontributor terbesar dengan produksi 1.296,72 ton.

Harga Tinggi Belum Cukup jika Panen Tak Terserap

Karena itu, tantangan musim tembakau 2026 tidak berhenti pada munculnya harga Rp350 ribu per kilogram. Bagi ribuan petani, kepastian mengenai berapa banyak hasil panen yang benar-benar dibeli pabrikan dan pada grade berapa tembakau mereka diterima akan menentukan pendapatan secara keseluruhan.

Pemkab Temanggung berharap perusahaan konsisten memberikan harga yang mampu menutup biaya produksi dan memberikan keuntungan layak. Sejak awal musim tanam, Agus telah meminta industri memperhitungkan kenaikan biaya dari pengolahan lahan hingga pascapanen ketika menentukan harga setiap grade.

“Harapan kami, pihak pabrikan menghitung biaya dari olah lahan sampai pascapanen untuk menentukan harga per grade dengan perhitungan yang tidak merugikan petani. Saat ini harga bahan pertanian sedang mahal,” ujarnya pada April 2026.

Harga tembakau Lamuk yang kini menembus Rp350 ribu per kilogram memberi optimisme awal. Namun, keberhasilan musim 2026 pada akhirnya akan ditentukan oleh tiga hal yang saling terkait: kualitas panen, harga setiap grade, dan seberapa besar industri mampu menyerap produksi petani Temanggung.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pemprov Jawa Tengah, tembakau, dan Industri Hasil Tembakau dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.